Ditulis oleh 10:55 am COVID-19

Mudik

Barangkali ini saat bangsa mudik kepada nilai-nilai luhurnya. Sudah saatnya memenuhi panggilan luhur untuk saling berbagi, saling mengingatkan, saling menjaga, dan saling bantu jika diperlukan.

Mudik adalah peristiwa kultural, yang momentumnya dinantikan. Baik yang bersifat tahunan, maupun kala ada waktu yang memungkinkan. Mudik secara fisik merupakan peristiwa pergi ke kampung halaman. Mereka yang merantau melakukan jeda kebudayaan. Segala rutinitas harian yang satu dimensi, dan cenderung dehumanistik, ditinggalkan. Tentu tidak untuk seterusnya, melainkan untuk sementara waktu.

Dalam mudik diharapkan dapat diperoleh “energi” baru yang merupakan energi kultural. Yakni harapan baru yang datang dari sanak saudara dan handai tolan. Karena itulah, ketika mudik, segala yang perlu diperlihatkan akan diperlihatkan. Mungkin sebagian menganggap hal tersebut sebagai unjuk keberhasilan. Namun, jika dilihat dari sudut yang mudik, maka hal tersebut merupakan cara untuk membangun harapan, akan kehidupan yang lebih baik.

Mudik dengan demikian merupakan harapan. Suatu proyeksi. Suatu rencana ke depan. Setiap rencana tentu harus dipersiapkan dengan matang. Bukan saja menyangkut daya dukung dan strategi, tetapi juga terkait dengan kesiapan mental. Apa yang ingin dicapai selalu membutuhkan motivasi yang kuat. Bukan motivasi material atau jasmaniah, melainkan motivasi yang bersifat rohaniah. Dapat dikatakan bahwa mudik bukan peristiwa sederhana, bukan sekedar peristiwa perjalanan biasa, melainkan peristiwa spiritual.

Oleh sebab itulah, ketika ada kesempatan untuk mudik, maka panggilan akan berkumandang dalam jiwa masing-masing. Yang terpanggil pasti akan segera bergegas. Bahkan ketika panggilan datang, maka segala yang tidak mungkin akan dicari jalan keluarnya agar mungkin. Rasa rindu kampung halaman, akan mudah mengatasi masalah. Kata bijak mengatakan: ada mau, ada jalan. Barangkali keadaan itulah yang dapat menjelaskan mengapa arus mudik tetap ada kendati himbauan untuk tidak mudik terus disiarkan.

Pada titik inilah dibutuhkan usaha bersama untuk saling mengingatkan. Perkataan mengingatkan berarti mengajak untuk mengingat kembali apa yang menjadi tujuan utama dalam peristiwa mudik. Kalau mudik merupakan peristiwa yang menjadi bagian dari rajutan masa depan, maka mudik kali akan punya makna yang bertentangan dengan tujuan mulia tersebut.

Soalnya tentu pada keadaan. Yakni keadaan yang tidak mendukung. Keadaan dimana seluruh warga, tanpa terkecuali, tengah berada dalam ketidakpastian. Satu-satunya hal yang pasti adalah menggerakkan semua upaya untuk mencegah penyebaran wabah.

Mudik dalam suasana sekarang, dikhawatirkan menjadi bagian dari perluasan penyebaran wabah. Oleh sebab itulah ada himbauan agar tidak mudik. Himbauan tersebut pasti bukan dimaksudkan untuk membatalkan tujuan, menghapus kerinduan pada kampung halaman, akan tetapi untuk memberi makna baru pada mudik, sehingga mudik dapat dilakukan dengan cara lain. Suatu cara yang belum dikenal sebelumnya.

Bagaimana cara yang dimaksud? Tentu masing-masing keluarga punya cara yang bijak untuk tetap menjaga harapan, untuk mengobati rasa rindu kampung halaman. Sebagai bangsa dengan kekayaan kearifan lokal, pastilah setiap daerah punya cara untuk memberi alasan mengapa mudik konvensional dapat ditunda, sampai keadaan memungkinkan.

Di atas itu semua, barangkali ini saat bangsa mudik kepada nilai-nilai luhurnya. Sudah saatnya memenuhi panggilan luhur untuk saling berbagi, saling mengingatkan, saling menjaga, dan saling bantu jika diperlukan. Barangkali ini momentum baik untuk membuat jeda kebudayaan, untuk melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana jalannya tata kehidupan. Jeda kebudayaan dibutuhkan agar pikiran bisa lebih jernih. Sebab dalam situasi demikian, kepanikan umum menguasai pikiran. Oleh sebab itulah, hadirnya kejernihan akan sangat membantu: hanya dengan kejernihan pikiran, masalah yang rumit akan bisa diatasi. Semoga.

(Tim Redaksi)

(Visited 23 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 30 Maret 2020
Close