Ditulis oleh 8:40 pm KALAM

Muhasabah Hari Kebangkitan Nasional Di Tahun 2020

Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, maka kembali Umat Islam di Indonesia ditantang peran dan kontribusinya untuk bisa menjadi problem solver atas segala problematika yang terjadi, termasuk karut marutnya penata keloaan negara ini.

Istilah kebangkitan dalam makna yang dipahami secara luas di masyarakat kita adalah sebuah proses perubahan atau pergerakan dari sebuah keadaan yang kurang atau biasa menjadi lebih baik atau bahkan luar biasa. Kebangkitan juga bisa dimaknai proses bangun atau menjadi sadar dari sebuah kondisi yang tidur atau tidak berdaya, baik dalam arti sempit maupun luas. Apabila melihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kebangkitan yaitu kebangunan (menjadi sadar); atau bahkan dimaknai pula dalam peristiwa sejarah nasional perihal bangkitnya seluruh rakyat Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa melawan dan mengusir penjajah melalui berbagai cara.

Berbicara tentang sejarah kebangkitan nasional di Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan ingatan kita dari peristiwa tanggal 20 Mei 1908 yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional sesuai dengan Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari Libur. Dalam berbagai sumber dan rujukan yang penulis peroleh, bahwa tanggal 20 Mei tersebut bertepatan dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo yang diprakarsai oleh Dr.Soetomo, Suwardi Suryaningrat yang kelak berubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara (pada tahun 1922), Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Douwes Dekker yang kelak merubah namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Dari keempat tokoh ini, tiga diantaranya empat tahun kemudian mendirikan sebuah partai bernama Indische Partij, tepatnya pada tanggal 25 Desember 1912.

Baik organisasi Boedi Oetomo maupun Indische Partij semuanya merupakan sebuah organisasi pergerakan/kebangkitan yang melawan penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda di wilayah nusantara kita, meskipun pada saat itu menggunakan istilah Hindia Belanda. Boedi Oetomo sendiri dalam halaman wikipedia ditulis sebagai sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr.Soetomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen bahasa Indonesia: Sekolah Pendidikan Dokter Hindia) yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik.

Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Setelah Boedi Oetomo didirikan maka pada fase berikutnya dibentuk berbagai macam organisasi pergerakan, baik yang orientasinya ke politik, agama, sosial budaya, pendidikan, dsb. Sebut saja misalnya dideklarasikannya Syarekat Islam pada tahun 1911, Muhammadiyah pada tanggal 18 November 1912, Indi Indische Partij, tepatnya pada tanggal 25 Desember 1912, dst. Menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah mengenai pola perubahan pergerakan yang mengalami perubahan dari pola perlawanan fisik-senjata menjadi diplomasi melalui organisasi. Sebagaimana diketahui bahwa perjuangan melawan penjajah sudah dilakukan jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda ke nusantara, bahkan sejak bangsa Portugis masuk sekitar tahun 1511.

Namun demikian, apabila dilihat secara kronologis peristiwa perubahan pola pergerakan menggunakan media organisasi ini, sudah dipelopori sebelumnya pada tahun 1903 ketika Jamiatul Khoir didirikan. Bermula dari tahun 1901, ketika para Ulama di Tanah Abang, Jakarta berkumpul, antara lain : Habib Abubakar bin Ali bin Abubakar bin Umar Shahab, Sayid Muhammad Al-Fakir Ibn. Abn. Al Rahman Al Mansyur, Idrus bin Ahmad Shahab, Ali bin Ahmad Shahab, Abubakar bin Abdullah Alatas, Muhammad bin Abdurrahman Shahab, Abubakar bin Muhammad Alhabsyi dan Syechan bin Ahmad Shahab, mendirikan wadah organisasi sosial kemasyarakatan dan pendidikan, sebagai tempat berkumpul para ulama-ulama di seluruh Hindia Belanda terutama yang ada di Jawa dan di Sumatera. Selanjutnya pada tahun 1903, Jamiatul Khoir ini mengadakan seminar tentang sikap dan pandangan Umat Islam terhadap kondisi kebangsaan, dengan menghadirkan Muhammad Amin Bey (utusan kekhalifahan Turki Ustmani yang saat itu masih ada) dan disampaikan dalil-dalil serta dasar yang menyimpulkan bahwa kaum muslimin haram tunduk pada penguasa kafir.

Pandangan inilah yang menjadi pencetus lahirnya semangat kemerdekaan, maka kemudian segera direspon oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan diterbitkannya Staatsblad nomor 26 tahun 1903 yang berisi tentang pembatasan kunjungan orang-orang Arab ke Indonesia karena dituduh sebagai provokator untuk tidak mau tunduk pada penguasa, sehingga dimunculkanlah narasi :

a.    Semangat anti Arab oleh pemerintah Hindia Belanda, dengan gagasan bahwa Islam di Hindia Belanda tidak sama dengan Islam Arab;

b.    Para Sultan dan raja-raja di seluruh wilayah Hindia Belanda dipersulit pergi haji karena dikhawatirkan mereka akan terpapar idealisme atau ideologi Pan Islamisme (yaitu kesadaran untuk Revival atau bangkitnya kembali kekuatan Islam) sehingga tidak ada raja dan sultan yang berhaji termasuk, Jogja, Solo, Puro Mangkunegaran, dan Puro Pakualaman;

c.    Orang-orang pulang Haji harus mencantumkan gelar Haji di depan namanya supaya polisi intel Hindia-belanda bisa dengan mudah mengawasi kegiatan dan gerak-geriknya.

Seorang bangsawan sekaligus ulama dari Bakur, Sawahan, Madiun, Jawa Timur bernama Tjokroaminoto memilih mundur dari pegawai pemerintah Hindia Belanda dan berangkat haji, karena ingin menyempurnakan ajaran agamanya. Maka setelah pulang gelar haji pun disematkan kepadanya, sehingga sampai dengan saat ini kita mengenal dengan nama Haji Omar Said (disingkat HOS) Tjokroaminoto. Pada tahun 1905, HOS Tjokroaminoto mendorong H. Samanhudi untuk mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI), dan berkembang pesat, serta mendominasi industri tekstil terutama batik sebagai penopang ekonomi makro umat Islam.

Maka kemudian pemerintah Hindia Belanda menghancurkan SDI dengan mendatangkan Serikat Hokkian (salah satu suku yang berasal dari provinsi Fujian yang terletak di bagian tenggara-selatan Tiongkok dari Cina), yang diberikan hak khusus untuk mengimpor bahan tekstil, pewarna batik, dan lilin. Sehingga SDI tidak bisa lagi kulakan langsung ke luar negeri, dan harus membeli dari serikat Cina karena peraturan pabean yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai seorang manusia, kita tentu harus memahami arti eksistensi kita di dunia., dan sebagai seorang muslim, tentu harus memahami apa itu Islam. Allah SWT telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالِْْنسَ إِلََّّ لِيَعْبُدُونِ ] ٥١:٥٦ ]

(Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku)

Dalam tafsir Kemenag RI disebutkan bahwa ayat ini menegaskan bahwa Allah tidaklah menjadikan jin dan manusia melainkan untuk mengenal-Nya dan supaya menyembah-Nya. Maka setiap makhluk baik jin dan manusia wajib tunduk kepada Allah termasuk kepada setiap peraturanNya yang terbingkai dalam syariat, merendahkan diri terhadap kehendak Nya.

Dan dalam Surat Al Mudatsir (74) ayat 1 s.d 7 Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِِّرُ ] ٧٤:١]

(Hai orang yang berselimut!)

قُمْ فَأنَذِرْ ٧٤:٢

(Bangunlah, lalu berilah peringatan)

وَرَبَّكَ فَكَبِِّرْ ] ٧٤:٣]

(Dan Rabbmu agungkanlah)

وَثِيَابَكَ فَطَهِِّرْ ] ٧٤:٤

(Dan pakaianmu bersihkanlah)

وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ] ٧٤:٥]

(Dan perbuatan dosa)

٧٤:٦]

(Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak)

وَلِرَبِِّكَ فَاصْبِرْ ] ٧٤:٧]

(Dan kepada Rabbmu bersabarlah)

Apabila merujuk pada QS. Al Mudatsir ayat 1 s.d 7 di atas ada beberapa hikmah yang bisa diambil dalam kontekstualisasinya bermuhasabah peristiwa kebangkitan nasional ini, yakni :

1.    Pertama, bahwa kaum muslimin adalah kaum pelopor dalam hal berjuang menegakkan kebenaran dan membela haknya, apapun risiko yang harus dihadapi, bahkan darah dan nyawa sekalipun taruhannya. Sejarah perjuangan bangsa ini pun telah menorehkan kisah yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan apabila tanah air ini dibelah maka bersimbah darah para syuhada dalam merebut, mempertahankan, dan membela kedaulatan bangsa;

2.    Kedua, mengagungkan Tuhan. Setiap aktivitas umat mesti dilakukan untuk membesarkan nama Allah, bukan justru merendahkan dan melecehkan ajaran agama. Mengagungkan Tuhan juga bermakna menghilangkan rasa ego dan keangkuhan pada diri manusia. Bukankah murka Allah pertama kali ditimpakan kepada makhluk yang sombong bernama iblis? Maka setiap gerak langkah termasuk perjuangan harus didasari oleh kebersandaran kepada Allah azza wajala;

3.    Ketiga, membersihkan pakaian. M Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menyebut, pakaian bisa berarti jiwa, hati, keluarga, dan istri. Ini makna mazazi. Umat harus membersihkan diri dari sifat-sifat tercela. Umat harus mengikis penyakit jahiliyah yang tertanam di hatinya, termasuk dari anak, istri, dan keluarganya. Jika jiwa telah bersih, penampilan pun akan dipandang serasi. Setelah itu, akan memberi efek positif terhadap masyarakat luas sehingga terwujud baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

4.    Keempat, meninggalkan perbuatan dosa. Kebangkitan umat mesti diwujudkan dalam perilaku yang anti terhadap kemungkaran dan kezaliman. Meskipun kezaliman itu telah populer di tengah-tengah masyarakat, bahkan secara masif dan dilindungi oleh penguasa.

5.    Kelima, hanya kepada Allah segala penentu keputusan. Bukan soal banyaknya pasukan, bukan soal canggihnya persenjataan, bukan soal paling update tekhnologi informasi. Sungguh kemenangan itu milik Allah dan atas izin serta ridhoNYa kemenangan itu diberikan;

6.    Keenam, bersabar menjalankan perintah Allah SWT. Setiap perjuangan untuk membangun kekuatan dan peradaban umat pasti mendapat banyak tantangan. Sebab, tidak semua orang menginginkan kebenaran menjadi panglima dan acuan bermasyarakat. Bersabar dalam persatuan umat, bersabar dalam mempersatukan umat, dan tidak pernah putus asa dalam kesabaran.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, maka kembali Umat Islam di Indonesia ditantang peran dan kontribusinya untuk bisa menjadi problem solver atas segala problematika yang terjadi, termasuk karut marutnya penata keloaan negara ini.

Waallahu a’lam bishowab

Nasrun minallah wa fatkhun qorib

(Visited 92 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close