Mutasi Nasionalisme Melawan Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Nasionalisme sebagai perlawanan terhadap permasalahan penjajah, kini bermutasi untuk melawan efek Covid-19.

Covid-19 sebagai wabah karena meminta ratusan ribu nyawa menghadap Tuhan YME. Jutaan orang dalam perlakuan medis hingga membatasi tindakan sosial dan ekonomi, baik untuk pencegahan dan maupun penyembuhan bagi yang terpapar Covid-19. Transmisi Covid-19 dari personal ke personal dan atau dari kelompok kepada kelompok lain diyakini, sumber penghambat tranmisi tersebut. Proses transmisi oleh Covid-19 tidak mengenali status sosial di masyarakat. Pergerakan liar virus ini menyusup dan menisbikan batas negara, batas ekonomi, politik, stratifikasi sosial, kultural bahkan menerobos ganas kepada batasan keras antar agama.

Perihal masif negatif virus corona itu lebih dari gerakan terorisme. Ya, corona tidaklah meledakkan gedung-gedung. Ya, virus itu tidaklah bernarasi tentang kelemahan, kesalahan kebijakan rezim. Ya, corona tidaklah jua berkehendak mengganti ideologi negara. Tetapi virus itu menimbulkan efek teror terhadap masyarakat. Virus itu membawa efek mematikan fungsi gedung-gedung, merubah ruang mewah menjadi ruang bahkan kota hantu dan mengancam industri menjadi bangkrut yang melampaui resonansi daya pengrusakan bom. Virus itu menggaungkan efek pesan penyeragaman ideologis yang nampak dari keseragaman berbagai negara melawan makhluk nanometer itu. Virus itu juga berefek untuk meminta dan menguji kepiawaian kepemimpinan sebuah rezim untuk mengatasinya. Pada gilirannya kedahsyatan efek virus corona bermutasi menjadi permasalahan substansif. Bersifat substansif karena menyentuh pandangan kebertuhanan, mengusik rasa dan interaksi kemanusiaan, mengancam kohesi sosial, terhentinya sebagian organ negara, rasa ketidakadilan masyarakat terganggu, bertaruh optimistik kebangsaan dan negara hingga menguji kepemimpinan nasional sampat level super lokal.

Konstruksi efek Covid-19 kini, menjadi perihal substantif yang setara sebagai perihal kebangsaan yang fundamental dan strategis demikian, meminta mutasi nasionalisme harus hadir melawan Covid-19. Nasionalisme yang tidak berada di ruang hampa, tetapi hadir dalam realitas bermasyarakat dan bernegara yang sangat kontekstual dan monumental bagi masing negara-negara sehingga memiliki dinamika atau statis pada negara tertentu.

Nasionalisme kita, bangsa Indonesia, ditandai dengan Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Momentum yang mendasari peringatan Kebangkitan Nasional ini adalah kelahiran organisasi Budi Utomo yang didirikan oleh para pelajar di Sekolah Tot Opleiding Van Inlands Artsen (STOVIA) pada tahun 1908. Kala itu, salah satu tokoh kebangkitan nasional tersebut, Ki Hajar Dewantara. Ia menulis artikel di Nederlandsch-Indie Oud & Nieuw terbitan tahun ketiga, 1918-1919. Di awal artikelnya, Ki Hajar Dewantara menulis: “Tanpa ragu, sekarang saya berani menyatakan bahwa tanggal 20 Mei adalah Hari Indisch-nationaal (Indisch-nationale dag).”. Lalu, sejak tahun 1959, setiap tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang pada tahun 1948 untuk pertama kali Hari Kebangkitan Nasional telah dilakukan di Yogyakarta.

Nasionalisme merupakan simbol dan pengikat bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk bangkit dan berdiri tegak melawan penjajahan yang sebagian tersamar dengan gerakan muslihat kebaikan penjajah tesebut. Keberadaaan penjajah melahirkan permasalahan kebebasan keberagamaan, rasa dan interaksi kemanusiaan dikotak-kotakan oleh status sosial ekonomi dan ras, kohesi sosial dirobek-robek, ketidakadilan masyarakat dibumihanguskan, optimistik kebangsaan dan negara selalu diposisikan sebagai kejahatan.

Nasionalisme sebagai perlawanan terhadap permasalahan penjajah dalam sebagian besar berhimpitan dengan permasalahan konstruksi efek Covid-19. Nasionalisme yang berhasil mengusir penjajah yang juga berpotensi mengusir konstruksi efek Covid-19 ditandai oleh beberapa hal utama yaitu : Pertama, menempatkan Ketuhanan sebagai sandaran utama kekuatan perlindungan, harapan dan keberhasilan perlawanan. Kedua, gerakan perlawanan sungguh-sungguh menjadikan ukuran dan menjalankan keadilan bagi dirinya dan juga bagi pengikutnya / masyarakatnya. Ketiga, Kesetaraan dan kesamaan aspek kemanusian sebagai pengikat perlawanan. Keempat, para pemimpin gerakan perlawanan menjunjung dan berpedoman pada kebaikan moral musyawarah sebagai jalan menempuh perlawanan. Kelima, penegakan perlawanan untuk mendapatkan keadilan yang terdistribusi seluar-luasnya melampaui garis batas etnis, ras, keturutan maupun agama.

Nasionalisme sebagai perlawanan terhadap permasalahan penjajah dalam sebagian besar berhimpitan dengan permasalahan konstruksi efek Covid-19.

Kiranya tafsir lima hal utama sebagai mutasi nasionalisme demikian, merupakan kekuatan perlawanan terhadap wabah Covid-19, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pencegahan dan penanggulangan wabah Covid-19 hendaknya selalu mengikatkan diri pada ketuhanan, mempedomani keadilan, menyetarakan kemanusian, pemimpim dan organisasi maupun pemerintah yang kokoh pada kemusyawaratan dan menegakkan keadilan bagi masyarakat luas.

Wallahu A’lam Bishawab

As Martadani Noor

As Martadani Noor

Dosen Universitas Widya Mataram