Mutasi Virus Corona, Apa Saja yang Kita Tahu?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Secara umum mutasi akan membuat virus tidak berfungsi atau tidak memiliki efek apapun. Namun peluang dari mutasi untuk mempengaruhi kemampuan penularan Sars-CoV-2 dalam inang manusia yang baru tetaplah ada.

Pada Bulan Januari yang lalu, rangkaian genom dari Sars-CoV-2, yang merupakan virus penyebab COVID-19, dipublikasikan dengan nama “Wuhan-1”. Rangkaian yang terdiri dari 30,000 huruf tersebut (A, T, C dan G dari code gentik) menjadi titik awal dari perlombaan untuk mengerti struktur genetik dari virus corona terbaru ini. Kini, telah terdapat 100,000 genom dari virus corona yang diambil dari para pasien dari 100 lebih negara.

Para ahli genetik dari seluruh penjuru dunia tengah memanen data-data guna mencari jawaban seperti dari mana datangnya Sars-CoV-2? Sejak kapan virus ini menginfeksi manusia? Bagaimana bisa virus ini bermutasi, dan apakah hal tersebut penting? Oleh karena pertanyaan-pertanyaan tersebut, genom dari Sars-CoV-2, sama halnya dengan virus itu sendiri, menjadi bahan pembicaraan yang besar dan mengglobal.

Istilah “mutasi” seringkali memunculkan bayangan suatu jenis virus baru yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan virus awal dan kini tengah merambah dunia. Meski mutasi secara konstan muncul dan terkadang secara merata, mutasi awal dari Sars-CoV-2 telah sampai ke seluruh penjuru dunia oleh karena virus tersebut hampir tidak dapat dideteksi, namun mutasi itu sendiri adalah suatu keadaan normal dari suatu organisme, termasuk virus. Mutasi secara keseluruhan tidak membuat kemampuan virus untuk lebih menular atau lebih menambah sakit inangnya.

Suatu mutasi artinya terdapat perbedaan, atau suatu perubahan huruf dalam genomnya. Secara genetik, populasi dari Sars-CoV-2 pada dasarnya tidak bervariasi ketika virus tersebut masuk pertama kali pada manusia di penghujung 2019. Namun hingga hari ini ditemukan sebanyak 13,000 perubahan ditemukan pada 100,000 rangkaian Sars-CoV-2. Akan tetapi dari dua virus dalam dua pasien dari mana saja di dunia rata-rata hanya memiliki perbedaan sepuluh huruf saja. Hal tersebut kecil bila dibandingkan dengan total karakter dari virus, yakni 30,000 karakter dalam kode genetiknya yang berarti seluruh Sars-CoV-2 yang beredar di dunia dapat dimasukkan sebagai satu garis keturunan.

Bermutasi Perlahan

Dibutuhkan waktu bagi virus untuk mendapat keragaman genetik yang substansial. Sars-CoV-2 bermutasi secara lambat bagi sebuah virus, dengan garis keturunannya mengalami beberapa perubahan setiap bulannya, dimana keadaan ini lebih rendah dua hingga enam kali dibandingkan jumlah mutasi oleh virus influenza dalam periode yang sama.

Meskipun begitu, mutasi merupakan landasan yang dapat digunakan oleh seleksi alam. Secara umum mutasi akan membuat virus tidak berfungsi atau tidak memiliki efek apapun. Namun peluang dari mutasi untuk mempengaruhi kemampuan penularan Sars-CoV-2 dalam inang manusia yang baru tetaplah ada. Alhasil, terdapat usaha yang sangat keras untuk menentukan mutasi mana, jika ada, yang dapat diidentifikasi sejak genom Sars-CoV-2 pertama kali dirangkai di Wuhan yang memiliki kemungkinan menguhah fungsi dari virus tersebut secara signifikan.

Dalam konteks ini, mutasi yang terkenal adalah perubahan asam amino pada protein lonjakan Sars-CoV-2, yakni protein yang memberi karakteristik proyeksi mirip mahkota pada virus corona yang memungkinkan virus tersebut menempel pada sel inangnya. Perubahan karakter tunggal dalam genom virus, yang diberi istilah D614G, dapat meningkatkan infektivitas virus dalam sel yang tumbuh dalam laboratorium, meskipun tanpa pengukuran akan pada tingkat keparahan penyakit. Meskipun mutasi ini hampir secara sistematis ditemukan dengan tiga mutasi lainnya, dan keempatnya sekarang ditemukan pada sekitar 80% rsngkaian Sars-CoV-2 yang menjadikannya mutasi yang paling sering beredar.

Tantangan dari D614G, seperti dalam mutasi lainnya, adalah menguraikan apakah frekuensinya meningkat oleh karena kebetulan ada pada virus yang bertanggung jawab menyebarkan wabah secara sukses pada awalnya, atau apakah mutasi tersebut benar-benar memberi keuntungan bagi yang mendapatkannya. Sementara penelitian para genomic pada kumpulan data di Inggris menunjukkan peran halus D614G dalam meningkatkan laju pertumbuhan garis keturunan yang membawanya, penelitian terbaru tidak dapat menemukan dampak yang terukur pada transmisi.

Terbawa Kemana-mana

D614G bukan satu-satunya mutasi yang ditemukan pada frekuensi tinggi. Serangkaian tiga mutasi pada cangkang protein Sars-CoV-2 juga semakin banyak muncul dalam data sekuensing dan sekarang ditemukan pada sepertiga virus. Perubahan tunggal pada posisi 57 dari protein Orf3a, wilayah imunogenik yang diketahui, terjadi dalam seperempat. Mutasi lain ada pada protein lonjakan sementara banyak mutasi lainnya tampaknya disebabkan oleh aktivitas respons kekebalan tubuh kita sendiri. Pada saat yang sama, masih belum ada konsensus bahwa virus ini, atau yang lainnya, secara signifikan mengubah penularan atau keganasan virus. Kebanyakan mutasi terbawa begitu saja saat Sars-CoV-2 secara sukses terus menyebar.

Akan tetapi penggantian bukan satu-satunya perubahan kecil yang dapat memengaruhi Sars-CoV-2. Penghapusan pada gen aksesori Sars-CoV-2 Orf7b / Orf8 telah terbukti mengurangi virulensi Sars-CoV-2, yang memiliki potensi menimbulkan infeksi yang lebih ringan pada pasien. Penghapusan serupa mungkin memiliki hasil yang sama pada Sars-CoV-1, virus corona yang bertanggung jawab atas wabah Sars pada 2002-04. Kemajuan menuju Sars-CoV-2 yang tidak terlalu ganas akan memberikan kabar baik, meskipun penghapusan di Orf8 telah terjadi sejak awal pandemi dan tampaknya frekuensinya tidak meningkat.

Meskipun perubahan adaptif mungkin belum terjadi, namun semua data yang telah tersedia pada tahap ini menunjukkan bahwa kita menghadapi virus yang sama sejak awal pandemi. Chris Whitty, kepala petugas medis untuk Inggris, telah secara benar untuk mengkritik gagasan bahwa virus telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih ringan daripada virus yang menyebabkan Inggris memberlakukan lockdown pada bulan Maret. Kemungkinan penurunan keparahan gejala yang terlihat selama musim panas kemungkinan disebabkan oleh anak muda terinfeksi, tindakan penahanan (seperti pembatasan jarak sosial) serta pengobatan yang lebih baik dan bukanlah perubahan pada virus itu sendiri. Namun demikian, meski Sars-CoV-2 belum berubah secara signifikan hingga saat ini, para peneliti terus memperluas alat mereka untuk melacak dan menelururi evolusinya.

Sumber:
Disadur dari situs livescience. Materi berasal dari Live Science. Naskah pertama kali ditulis oleh Lucy Van Dorp. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti