Neuralink: “Level Up” Manusia?

Dengan memfasilitasi akses informasi yang cepat dan menambah kapasitas intelektual, teknologi Neuralink ini memungkinkan penggunanya menambah produktivitas secara substansial.

Imagination is more important than knowledge (Albert Einstein).

Tidak berlebihan rasanya bila mengatakan imaginasi manusia tidak mengenal batas, hal ini pun juga perlahan merambat pada teknologi kita. Pengusaha dan miliarder Elon Musk, pria dibalik Tesla Car dan proyek SpaceX yang berniat mengkolonisasi planet Mars, kini mengeluarkan satu lagi produk yang dahulu bisa dikatakan sebagai “imaginasi” belaka, yaitu komputer otak, atau yang Musk sebut “Neuralink”.

Neuralink

Neuralink merupakan sebuah perusahaan neuroteknologi yang Musk bantu dirikan pada tahun 2016, dengan tujuan yang besar, yaitu untuk menjawab kekhawatiran dirinya: kemajuan Kecerdasan Buatan (AI). Dalam hal ini, solusi yang ditawarkannya melampaui “apa yang dapat dilakukan manusia,” namun masuk pada perubahan mendasar ‘apa itu manusia’.

Tujuan spesifik dari Neuralink adalah untuk mengembangkan mesin otak interface dengan bandwidth yang sangat tinggi untuk menghubungkan manusia dan komputer. Hal ini  diwujudkan melalui chip yang ditanamkan ke otak untuk mencapai “simbiosis dengan kecerdasan buatan” yang secara signifikan dapat menjaga dan meningkatkan kemampuan otak kita.

Otak kita berfungsi melalui jaringan besar neuron yang berkomunikasi melalui neurotransmitter pada titik koneksi yang dikenal sebagai sinapsis. Neurotransmitter ini dilepaskan sebagai respons terhadap lonjakan listrik yang disebut aksi potensial. Semua yang kita tangkap, rasakan, dengar, dan pikirkan pada dasarnya adalah lonjakan saraf tersebut.

Dengan memasukkan benang elektroda yang sangat kecil, Neuralink dapat mendeteksi dan merekam potensi aksi dan secara selektif merangsang neuron di berbagai area otak. Benang ini akan dimasukan secara halus oleh robot untuk meminimalkan kerusakan pada otak dan melekat pada sensor yang, dalam bentuk awal, akan terhubung secara nirkabel melalui Bluetooth ke aplikasi seluler.

Kini fokus mereka dengan versi awal implan ini adalah untuk memahami dan mengobati cedera dan gangguan otak. Kedepannya, Musk percaya bahwa teknologi ini merupakan langkah penting untuk memastikan masa depan yang selaras bersama dengan Kecerdasan Buatan. Dia mengungkapkan manusia akan kalah jauh bila dibandingkan dengan Kecerdasan Buatan, namun bila dilengkapi dengan mesin otak ini, manusia pun dapat “mengimbangi” AI.

Ambisi Futurustik

Musk optimis bahwa uji coba manusia pertama untuk Neuralink dapat dilakukan “dalam setahun”. Dia menyatakan bahwa produk versi pertama ini akan difokuskan pada menawarkan perawatan medis untuk berbagai cedera yang berhubungan dengan otak. Neuralink berharap untuk membuat langkah luar biasa dalam meningkatkan kesejahteraan populasi manusia.

Musk bahkan mengklaim bahwa “manusia sudah sebagian cyborg”. Dengan ketergantungan tinggi pada ponsel dan komputer pribadi. Satu-satunya membedakan antara manusia sekarang, dengan saat manusia sudah bersimbiosis dengan AI, adalah dalam soal “kecepatan data” atau “kecepatan komunikasi”, antara manusia dan komputer, dimana saat ini masih sangat lambat.

Dengan memfasilitasi akses informasi yang cepat dan menambah kapasitas intelektual, teknologi Neuralink ini memungkinkan penggunanya menambah produktivitas secara substansial. Diskusi juga dapat diperluas untuk mempertimbangkan kemungkinan teknologi masa depan ini dapat membuat komunikasi verbal menjadi “ketinggalan zaman”. 

Namun tentunya perhatian utama untuk teknologi semacam ini adalah keamanannya. Membajak telepon atau komputer mungkin meresahkan dan tidak mengenakkan, tetapi ketika teknologi tersebut secara langsung memengaruhi fungsi otak manusia, taruhannya jauh lebih besar. Selain itu, ketika perangkat ini telah sampai ke publik, terbuka kemungkinan untuk meningkatnya ketimpangan sosial. Mereka yang bisa mengakses, akan mendapatkan keuntungan yang besar, dan yang tidak, akan semakin tertinggal.

Musk memang mengakui bahwa pengembangan interface berjalan lambat. Namun dia menjanjikan bahwa transisi ke versi yang lebih baru, yang lebih mirip dengan simbiosis manusia-AI akan segera dapat diakses publik.

Ambisi Elon Musk sangat futuristik dan revolusioner. Akan tetapi, apakah ketidakmampuan manusia mengalahkan AI, dapat diselesaikan dengan cara mengbungkannya? Apakah langkah tersebut merupakan pilihan terbaik? Jika menyaksikan laju perkembangan teknologi yang eksponensial, maka kemungkinan dibuatnya alat tersebut bukan lagi khayalan. Publik bisa menerima, bisa pula menolak. Seiring berjalannya waktu, kita akan dapat melihat suatu “Level Up” manusia, dengan memiliki banyak kemungkinan setelahnya. (diolah dari situs oxfordstudent)

(Visited 47 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020