“Ngobrol Basa Basi” Menguji Kejujuran Pasien dan Keluarga

Oleh: H. Mohamad Rokim, S.ST

“Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).’

Berkata jujur adalah sebuah keharusan yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, namun beberapa saat ini masyarakat dikejutkan dengan adanya berita tentang 46 tenaga kesehatan RS Dr. Kariadi semarang tertular Covid-19 karena pasien tidak jujur bahwa dirinya pernah bepergian dari zona merah penularan Covid-19 dan termyata pasien tersebut positif terinfeksi Covid-19, begitu juga belum lama ini terjadi di RS Dr. Sardjito Yogyakarta terpaksa 53 tenaga medis harus di rumahkan akibat pasien tidak jujur.

Petugas kesehatan saat melakukan pengkajian kepada pasien dan keluarga, keterangan sekecil apapun akan sangat bermanfaat dan dapat dipakai sebagi acuan dalam menentukan rencana tindakan berikutnya. Pasien dan petugas medis harus memperhatikan aspek-aspek komunikasi interpersonal yaitu: keterbukaan (openess), empati (emphaty), dukungan (supportiveness), sikap positif (positiveness), kesetaraan (equality).

Kemampuan melakukan komunikasi non formal secara santai kekeluargaan dan bahasa tubuh yang penuh keakraban, tak jarang akan dapat mengkaji hal-hal yang tidak terungkap saat komunikasi dilakukan secara formal. Suatu ketika saat kami akan melakukan tindakan operasi kepada pasien. Kami mencoba ngobrol santai bersama pasien basa-basi bertanya tentang keadaan suaminya, keadaan pekerjaannya disaat pandemi Covid-19 apakah terdampak atau bahkan kena PHK. Akhirnya pasien bercerita tentang suaminya yang pekerjaannya menjadi sopir pengiriman barang ke luar kota sebuah rumah makan ternama di Yogyakarta dengan cabang di berbagai kota besar di Indonesia. Pasien mengatakan diawal pandemi pekerjaannya sepi namun di dua minggu terakhir sudah mulai ramai kembali mengirim barang ke Surabaya, Malang Makasar. Alhamdulillah dari ngobrol basa-basi dengan pasien tersebut akhirnya kami dapatkan informasi penting bahwa suami pasien barusan bepergian dari Malang yang merupakan salah satu zona merah penularan Covid-19 yang sebelumnya informasi ini belum tergali. Hal ini menjadikan dasar kami mempersiapkan operasi dengan APD sesuai SOP penanganan pasien Covid-19.

Pasien dan keluarga terkadang berbohong karena ada kekawatiran bila dirinya di ketahui pernah kontak dengan orang yang dari zona merah lalu tetapkan menjadi ODP atau PDP, apalagi kalau sampai di isolasi. Sehingga kadang terpaksa berbohong untuk menghindari hal tersebut dengan tanpa mempertimbangkan akibat yang lebih besar bila petugas medis terinfeksi tentu akan merugikan banyak pihak. 

Belajar dari pengalaman diatas kita berharap kepada seluruh pasien keluarga dan masyarakat untuk melakukan keterbukaan dalam memberikan keterangan kepada petugas medis untuk kepentingan bersama, dan kepada seluruh petugas medis tentu harus meningkatkan kedekatan dari hati-kehati dalam suasana keakraban ketika melakukan pengkajian, segala sumber baik dari pasien keluarga rekan dan sahabat pasien akan semakin memperkaya data demi keselamatan bersama. 

Pandemi Covid-19 mengajarkan kepada kita betapa pentingnya kita berkata jujur karena kejujuran itu akan mendatangkan banyak manfaat dan kebaikan. Sebaliknya kebohongan akan mendatangkan kemadharatan banyak orang. Semoga pandemi ini memberikan hikmah kepada kita semua tentang makna sebuah kejujuran.

(Visited 50 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020