31.8 C
Yogyakarta
25 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

“Nilai Hidup” Ibadah Puasa Untuk Melawan Covid-19

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si.

Puasa Ramadan yang dilakukan umat Islam sedunia sekarang ini bukan saja memantulkan nilai-nilai ubudiyah, yang diharapkan imbalan (pahalanya) di hari akhirat kelak,  tetapi juga mengandung nilai-nilai hidup yang mendatangkan sukses dan kemantapan dalam kehidupan di dunia sekarang ini. Ujian berupa pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksikan secara pasti kapan berakhir, menuntut lahirnya generasi tangguh yang tidak goyah didera berbagai ujian kehidupan. Ibadah puasa telah memberikan nilai-nilai keutamaan yang sekaligus sebagai nilai-nilai yang penting untuk meneguhkan pribadi yang kuat, sigap, dan tidak mudah limbung menghadapi berbagai ujian hidup, termasuk pandemi Covid-19. Setidaknya ada tujuh nilai keutamaan puasa yang penting dalam kehidupan ini; yakni :

Pertama, membentuk ketahanan rohaniah. Ibadah puasa melatih jiwa (rohaniah) manusia supaya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya, sehingga tumbuh ketahanan rohaniah. Ketahanan rohaniah adalah faktor yang sangat menentukan , baik dalam kehidupan pribadi  maupun kehidupan suatu masyarakat bahkan kelestarian suatu bangsa. Apabila ketahanan rohaniah itu sudah tumbuh, maka seseorang atau suatu bangsa akan mampu menghadapi tantangan dan kendala yang dihadapinya. Pandemi Covid-19 hanya dikalahkan oleh orang-orang yang memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi.

Kedua, menyehatkan jasmaniah. Ibadah puasa membentuk ketahanan jasmaniah (fisik), sebab “perut besar”  diatur waktunya dalam menerima dan mencernakan makanan.  Sebagian besar penyakit berawal dari kebiasaan makan yang salah. Apabila perut besar ini senantiasa dijejali dengan makanan yang berlebihan, tidak diatur dan ditertibkan, maka lambat laun akan menimbulkan penyakit. Teristimewa di era pandemi Covid-19 dimana salah satu program yang sangat ditekankan adalah “Tetap Di Rumah Saja”, maka perut besar kita bekerja lebih keras lagi. Di sinilah pentingnya puasa untuk mengatur dan memberikan kesempatan ”perut besar” beristirahat, sehingga akan semakin sehat dalam hidupnya.

Ketiga, menumbuhkan kesabaran. Ibadah puasa mendidik manusia supaya berlaku sabar  menghadapi godaan  keinginan dan hawa nafsu, baik hawa nafsu yang berkaitan dengan  makan dan minum maupun  seksual atau nafsu ”lawan jenis”.  Kesabaran itu menciptakan daya tahan dalam menghadapi kesulitan, dan selanjutnya melahirkan daya juang untuk mengatasi  kesulitan-kesulitan yang kompleks dan datangnya secara bertubi-tubi selama hidup ini. Ramadhan adalah bulan kesabaran.

Keempat, menguatkan kemauan.  Orang yang melaksanakan ibadah puasa itu digerakkan oleh suatu kemauan  yang berdasarkan cita-cita yang murni. Ia menuju kepada satu titik  yaitu ridha Ilahi.  Ketika sedang berpuasa  bertemu dengan tantangan-tantangan  yang menyuruhnya untuk mundur (dengan membatalkan puasa dan sebagainya), maka akan diterjangnya satu persatu. Berhasil melampaui godaan dan cobaan itu akan meningkatkan kemauan seseorang dalam perjuangan, “rawe-rawe rantas, malang-malang putung”.

Kelima, mengenal nikmat Ilahi. Dengan melaksanakan puasa, manusia semakin menyadari akan nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.  Kenikmatan makan dan minum semakin dapat dirasakan oleh orang yang berpuasa, yang atas kemauannya sendiri menahan dirinya untuk tidak makan dan tidak minum dalam satu hari. Makan paling nikmat adalah ketika dalam kondisi lapar.

Keenam, mendidik berjiwa santun. Ibadah puasa membentuk sikap penyantun, terutama terhadap kaum yang lemah (”al-mustadz’afin”),  baik lemah karena ketidakmampuannya  maupun terlemahkan oleh struktur sosial, yang dari hari ke hari senantiasa ditimpa kelaparan.Seseorang  yang melaksanakan puasa itu merasakan sendiri betapa pahit getirnya mengalami dahaga dan kelaparan. Dengan demikian, dalam jiwa kecilnya tumbuh sikap belas kasihan untuk menyantuni orang-orang yang miskin dan papa, karena sudah mendapatkan pengalaman (eksperimen) ketika berpuasa.

Ketujuh, latihan berserah diri kepada Allah.  Ibadah puasa melatih manusia untuk berserah diri kepada Allah SWT, membentuk kepatuhan (ketaatan), loyalitas dan meningkatkan disiplin. Dengan janji ibadah puasa dilipatgandakan pahalanya sesuai dengan kehendak-Nya, merangsang segenap umat Islam untuk berserah diri kepada-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya.

Ibadah puasa melatih manusia untuk berserah diri kepada Allah SWT, membentuk kepatuhan (ketaatan), loyalitas dan meningkatkan disiplin.

Itulah luar biasanya nilai-nilai hidup puasa dan ibadah pendukung yang lain yang sedang dilaksanakan saat ini, yakni dapat meningkatkan ketahanan rohaiah, ketahanan jasmaniah, menumbuihkan kesabaran, meningkatkan kemauan, mengenal nikmat ilahi, mendidik berjiwa santun, dan sarana latihan berserah diri kepada Allah swt. Ibadah dalam tuntunan agama Islam (termasuk di dalamnya ibadah Puasa)  haruslah  mampu  memberikan   dorongan bagi ummatnya untuk melakukan perubahan menuju kepada pribadi yang lebih baik dan maju. Semoga!!!

Penulis adalah Dosen Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan


Ujian berupa pandemi Covid-19 yang belum bisa diprediksikan secara pasti kapan berakhir, menuntut lahirnya generasi tangguh yang tidak goyah didera berbagai ujian kehidupan.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA