25.2 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Olahraga dan Memori Saling Berhubungan

Banyak yang telah tahu bahwa olahraga baik untuk kesehatan badan kita. Yang mungkin kita tidak tahu, bahwa olahraga ternyata juga nampaknya juga baik untuk kesehatan otak. Para ahli saraf dari Universitas Jenewa (UNIGE) mengatakan bahwa dengan mengevaluasi kinerja memori setelah sesi olahraga, ditunjukkan bahwa sesi latihan fisik intensif singkat 15 menit di atas sepeda dapat meningkatkan kemampuan memori, serta juga memberi keterampilan motorik baru. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Ini disebabkan oleh kinerja endocannabinoid, molekul yang diketahui meningkatkan plastisitas sinaptik. Studi tersebut menyoroti keutamaan olahraga untuk kesehatan dan pendidikan.

Sangat sering ketika kita selesai berolahraga, khususnya olahraga yang memerlukan ketahanan seperti berlari atau bersepeda, kita akan merasakan kesehatan serat kesegaran baik secara fisik dan psikologis. Hal ini disebabkan oleh endocannabinoid, molekul kecil yang diproduksi tubuh selama aktivitas fisik.

Kinga Igloi, dosen di laboratorium Profesor Sophie Schwartz, di Departemen Ilmu Saraf Dasar Fakultas Kedokteran UNIGE, yang memimpin studi tersebut mengatakan bahwa molekul ini bersirkulasi dalam darah dan dengan mudah melewati pelindung darah-otak. Mereka kemudian mengikat untuk mengkhususkan reseptor seluler dan memicu perasaan euforia ini. Selain itu, molekul tersebut mengikat reseptor di hipokampus, struktur otak utama untuk pemrosesan memori. Melalui studi ini, Igloi ingin memahami apa kaitan antara olahraga dan ingatan.

Lebih Banyak Berolahraga, Lebih Efektif

Untuk menguji efek olahraga pada pembelajaran motorik, para ilmuwan menyiapkan sekelompok relawan 15 pria muda sehat, yang bukan atlet, untuk melakukan tes memori dalam tiga kondisi latihan fisik: setelah 30 menit bersepeda sedang, setelah 15 menit latihan intensif bersepeda (didefinisikan sebagai 80% dari detak jantung maksimum mereka), atau setelah periode istirahat.

Blanca Marin Bosch, seorang peneliti di laboratorium yang sama mengatakan bahwa tes memorinya berada pada sebuah layar yang menunjukkan empat titik yang ditempatkan bersebelahan. Setiap kali salah satu titik berubah sebentar menjadi bintang, peserta harus menekan tombol yang sesuai secepat mungkin. Tes tersebut mengikuti urutan yang telah ditentukan dan diulang untuk mengevaluasi secara tepat bagaimana gerakan dipelajari. Hal tersebut sangat mirip dengan apa yang di lakukan ketika, sebagai contoh, belajar mengetik di keyboard secepat mungkin. Setelah sesi olahraga intensif, kinerja dari para relawan jauh lebih baik bila dibanding sebelum melakukan olahraga.

Selain hasil tes memori, para ilmuwan juga mengamati perubahan aktivasi struktur otak dengan MRI fungsional dan melakukan tes darah untuk mengukur kadar endocannabinoid. Berbagai analisis menunjukkan kesamaan hasil, yakni semakin cepat seorang individu bergerak, semakin mereka mengaktifkan hipokampus (area otak memori) dan nukleus kaudatus (struktur otak yang terlibat dalam proses motorik).

Selain itu, tingkat endocannabinoid mereka mengikuti kurva yang sama, yakni semakin tinggi tingkat setelah upaya fisik yang intens, semakin banyak otak diaktifkan dan semakin baik kinerja otak. Blanca Marin Bosch mengatakan bahwa molekul-molekul tersebut terlibat dalam plastisitas sinaptik, yakni suatu cara di mana neuron terhubung satu sama lain, dan dengan demikian dapat bekerja pada potensiasi jangka panjang, mekanisme untuk konsolidasi memori yang optimal.

Fungsi Lebih Jauh

Dalam studi sebelumnya, para peneliti telah menunjukkan efek positif dari olahraga pada jenis memori lainnya, yakni memori asosiatif. Namun, berbeda dengan yang diperlihatkan pada studi terbaru, para peneliti mengamati bahwa sesi olahraga dengan intensitas sedang, memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan olahraga dengan intensitas tinggi. Jadi, sama halnya dengan tidak semua bentuk ingatan menggunakan mekanisme otak yang sama, tidak semua intensitas olahraga memiliki efek yang sama. Perlu dicatat bahwa dalam semua kasus, latihan fisik meningkatkan daya ingat lebih dari sekadar tidak melakukan apa-apa.

Dengan menyediakan data neuroscientific yang tepat, studi tersebut memiliki kemungkinan untuk membuat suatu strategi baru untuk meningkatkan atau menjaga memori. Kinga Igloi mengatakan bahwa kegiatan olah raga merupakan sesuatu kegiatan yang mudah untuk dilakukan, minimal invasif dan murah. Dirinya berpikir apakah akan berguna, sebagai contoh, untuk membuat suatu perencanaan olahraga sejenak pada pagi hari di sekolah untuk memantapkan pembelajaran pada hari itu.

Para ahli saraf kini tengah melanjutkan studi mereka dengan mempelajari gangguan memori, dan khususnya dengan mempelajari populasi yang memiliki resiko tinggi mengembangkan penyakit Alzheimer. Penulis studi mengatakan beberapa orang dengan usia 25 tahun mungkin mengalami defisit memori halus yang ditandai dengan aktivasi berlebihan hipokampus. Para peneliti ingin mengevaluasi sejauh mana latihan olahraga dapat membantu mengkompensasi defisit awal yang merupakan prekursor untuk penyakit Alzheimer.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Université de Genève. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA