Optimalisasi Pertanian di Lahan Sempit

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Salah satunya menggunakan sistem hidroponik yang dapat menyuplai kebutuhan sayur rumah tangga meski dengan lahan yang sempit dan tanah yang kurang subur.

Sejak lama Indonesia dikenal dengan julukan negara agraris. Berbagai macam jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat ditemukan di Indonesia. Luas lahan pertanian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2014 adalah 41,5 juta hektar. Terdiri dari 567 ribu hektar tanaman hortikultura, 19 juta hektar tanaman pangan, dan 22 juta hektar tanaman perkebunan. Namun seiring berjalanya waktu banyak lahan yang telah dialihfungsikan untuk pembangunan rumah atau yang lainnya.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), data hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 237.641.326 jiwa. Sebesar 49,79 persennya merupakan penduduk yang menempati daerah perkotaan, sementara sisanya, yakni 50,21 persen merupakan penduduk perdesaan.

Berdasarkan data resmi yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan bahwa kepadatan penduduk per wilayah (kilometer persegi) tahun 2010 mencapai 131,00. Artinya setiap 1 area seluas 1 kilometer persegi dihuni oleh sebanyak 131 penduduk. Angka tersebut ternyata mengalami kenaikan pada tahun 2012 menjadi 135. Pada tahun 2013, penduduk Indonesia telah naik sebesar 1,41 persen dari tahun 2012.

Ironis memang. Negeri subur yang jarak dari Sabang hingga Merauke ini setara dengan jarak London ke Moskow, masih saja harus impor beras.

Sejak tahun 2004-2018, telah terjadi lebih dari 618 konflik agraria di seluruh wilayah Republik Indonesia. Areal konflik seluas 2.399.314,49 hektar, dimana ada lebih dari 731.342 kepala keluarga harus menghadapi ketidakadilan agraria dan konflik berkepanjangan (Konsorsium Pembaruan Agraria, 2019). Berdasarkan data sensus pertanian 2013 telah terjadi penurunan jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia dari 31,17 juta pada 2003 menjadi 26,13 pada 2013. Dalam review Bank Dunia (2008) Agriculture for Development, Indonesia dikategorikan bukan lagi sebagai negara agraris (agriculture-based country), tetapi dikelompokkan dalam transforming countries.

Ironis memang. Negeri subur yang jarak dari Sabang hingga Merauke ini setara dengan jarak London ke Moskow, masih saja harus impor beras. Padahal negeri yang jauh lebih sempit seperti Thailand dan Vietnam bisa surplus pangan dan bertengger sebagai eksportir beras. Hal ini ditunjukkan oleh nilai impor komoditi pangan Indonesia yang masih cukup tinggi, yakni sekitar 7 persen dari total impor Indonesia. Bahkan, beberapa waktu yang lalu, kita juga sempat dikagetkan dengan kenyataan bahwa ternyata sebagai salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia harus mengimpor garam dari sejumlah negara seperti Cina dan India.

Sebuah kenyataan yang tentu miris dan membuat kita mengelus dada. Pertambahan penduduk yang berbanding terbalik dengan keberadaan lahan pertanian mengharuskkan masyarakat pandai memanfaatkan lahan yang ada. Salah satunya menggunakan sistem hidroponik yang dapat menyuplai kebutuhan sayur rumah tangga meski dengan lahan yang sempit dan tanah yang kurang subur.

Gambaran Teknologi

Smart System Urban Farming adalah sebuah upaya menciptakan kembali geliat sektor pertanian di Indonesia dengan mengubah paradigma bertani harus memiliki sawah dan berkotor-kotoran. Penggunaan proses pertanian hydroponik, yakni dengan mengganti media tanam tanah menjadi air yang dialirkan dalam paralon yang berlubang sebagai media tanam.

Gambar Skema sistem KIT hydroponik NFT

Zat hara yang dibutuhkan di dalam tanah digantikan dengan larutan nutrisi yang ikut dialirkan di dalam air. Sehingga tanaman tidak kekurangan kebutuhan nutrisi dan dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Bahkan bisa dikatakan lebih cepat daripada dengan pola bertanam secara konvensional. Dan lebih hemat tempat. Dapat dilakukan di pekarangan rumah sekalipun.

Hidroponik yang pernah dibuat

Wahyu Arif M.

Wahyu Arif M.

Diploma Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Terbaru

Ikuti