Orang Jawa Mengelola Tanah Berdasarkan Kesadaran Budaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kebijakan pertanahan perlu pengalaman, sehingga semua pihak diuntungkan. Tanah adalah tempat berpijak yang memberi rasa sumeleh dan pikoleh.

A. Landasan Budaya dalam Menggunakan Tanah

Tanah merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan sehari hari. Dalam sejarahnya Karaton Surakarta Hadiningrat memiliki tanah yang sudah dikelola dengan rapi. Tanah menjadi unsur yang penting bagi eksistensi masyarakat. Berbagai macam aktivitas sosial, politik, ekonomi dan budaya melibatkan ruang pertanahan.

Oleh karena penggunaan, pemilikan dan urusan pertanahan mesti diatur dengan undang-undang yang memadai. Banyak konflik pertanahan yang meletus karena tiada kepastian hukum. Menjadi kewajiban pemerintah untuk mengatur status hukum tanah di wilayahnya.

Klasifikasi tanah-tanah Kraton berdasarkan status dan fungsinya. Regulasi pertanahan ini dimaksudkan untuk memperoleh keselarasan sosial.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Tertib masyarakat memang diutamakan agar aktivitas bisa berjalan normal. Terlebih lebih bagi para petani yang sibuk bercocok mtanam, maka pihak Kraton selalu memberi bantuan, perlindungan dan peralatan. Petani dianggap warga negara utama.

Istilah nglempit bumi perlu disadari. Pada dasarnya Kraton adalah sistem pemerintahan dan kerajaan petani.

Distribusi tanah yang dilakukan Kraton Surakarta berdasarkan aspek legal formal yang berpihak pada nilai kultural. Masa keemasan nenek moyang bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari aspek pertanahan yang dikelola secara efektif dan efisien, dengan mengutamakan rasa kemanusiaan serta kesejahteraan lahir batin.

Anjajah desa milangkori. Njalak paningal mlaya bumi. Wilayah Surakarta berbatasan dengan wilayah Yogyakarta, Kedu, Semarang dan Madiun. Di sebelah barat terdapat batas alam yang berwujud Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dari kota Surakarta dua gunung ini seperti gunung kembar. Kiri kanan tampak gapura yang menjulang tinggi. Menurut masyarakat Jawa Gunung Merbabu lambang wanita, gunung Merapi lambang pria. Dua gunung ini dianggap pasangan suami istri.

Gunung Merbabu tampak pasif, sedang gunung Merapi aktif sekali. Kabupaten Klaten dan Boyolali dekat dengan kedua gunung ini. Penduduknya merupakan pendukung utama eksistensi Kraton.

Pada bagian barat terdapat Kali Opak yang mengalir dari Gunung Merapi menuju laut selatan. Sungai Opak menjadi batas wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Sebelah timur Kali Opak mengalir Kali Dengkeng yang alirannya bergabung dengan Bengawan Solo. Di sekitar sungai ini merupakan dataran yang sangat subur, karena banyak endapan sedimen vulkanis. Kurang lebih 4 tahun sekali Gunung Merapi mengeluarkan abu vulkanik yang menyebabkan tanah menjadi subur.

Pegunungan Sewu berada di kawasan selatan Surakarta. Dari arah barat memasuki daerah Pajang dan dari arah timur laut menuju daerah Keduwang. Pegunungan Sewu membentang dari Gunung Lawu sampai Pacitan. Dari daerah Keduwang ini terdapat Kali Keduwang yang bersambung dengan Bengawan Solo. Kali terpanjang ini melintasi daerah Wonogiri, Sukoharjo, Surakarta, Karanganyar, Sragen, Blora, Ngawi, Bojonegoro, Lamongan, Gresik dan Surabaya. Dahulu kala Bengawan Solo merupakan sarana transportasi.

Bagian timur Surakarta terdapat Gunung Lawu. Di sekitar Gunung Lawu banyak ditanami kopi, sebelah barat terdapat Kali Samin, Kali Colo, Kali Wingko dan Kali Jenes. Semua sungai ini berguna bagi para petani di Kabupaten Karanganyar setiap bulan Suro raja Surakarta berziarah ke puncak Gunung Lawu. Daya spiritual dipercaya karena penunggunya bernama Sunan Lawu. Tempat spiritual bernama Hargo Dumilah.

Sebelah utara Surakarta merupakan deretan pegunungan Kendheng. Tanahnya tandus, gersang, berkapur dan berminyak. Hawanya panas dan kurang subur. Pegunungan Kendheng membujur dari daerah Grobogan, Pati, Blora, Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Ngawi, Nganjuk, sampai Gresik. Kayu jati terbaik berasal dari Gunung Kendheng. Burung perkutut juga amat baik hidup di daerah Gunung Kendheng.

Pusat kota terdapat Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Keduanya diapit sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe. Penduduk meliputi orang Jawa, Cina, Arab dan Eropa. Orang Eropa dahulu tinggal di beteng Vestenburg dan kampung Loji Wetan. Orang Cinta tinggal di kampung Pecinan Pasar Gedhe. Pimpinan disebut Babah Mayor. Orang Arab tinggal di Pasar Kliwon dengan kepala pangkat kapten. Sedangkan orang Jawa bekerja menurut profesi. Maka tumbuh kampung Sayangan, Serengan, Undagen, Telukan, Carikan, Sraten, Klangan, Punggawan dan Gadhing.

B. Jenis jenis Tanah dalam Budaya Jawa

1. Bumi Narawita.
Bumi narawita adalah tanah yang berfungsi penghasilan, pemasukan serta meningkatkan kas Kraton Surakarta. Sebetulnya Kraton Surakarta mempunyai beberapa tanah yang dijadikan sebagai lahan bisnis. Misalnya: tanah untuk pendirian pabrik gula Manisharjo, kebun tembakau di Tegal Gondo Klaten, kebun teh di Ngampel Boyolali dan kebun kopi di Kembang Semarang. Tentu saja tanah tanah tersebut telah memberi kontribusi besar terhadap eksistensi Kraton Surakarta. Biaya dari hasil tanah ini digunakan untuk pemeliharaan dan pelestarian kebudayaan.

2. Bumi Pemajegan.
Bumi pemajegan adalah tanah yang dapat menghasilkan uang dengan cara menarik pajak. Misal pasar, pabrik, toko dan badan usaha yang menempati tanah kraton semestinya dikenai pajak. Pasar Gede dan Pasar Klewer seharusnya membayar pajak pada kraton Surakarta. Demikian pula tanah-tanah yang digunakan untuk stasiun kereta api Balapan, Purwosari dan Jebres serta rel kereta api perlu membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Bumi Pangrembe.
Bumi pangrembe adalah jenis tanah yang menghasilkan bahan pangan. Contoh sawah, kebun dan pekarangan yang ditanami padi, jagung, palawija, palapendhem, palagantung, karang kitri dan buah-buahan serta sayur mayur. Tujuannya agar tanah tanah tersebut mendapat perlindungan dari pemerintah. Jangan sampai tanah-tanah tersebut beralih fungsi.

4. Bumi Gladhag.
Bumi gladhag adalah tanah tanah yang diberikan kepada penduduk atau abdi dalem dengan tugas mengurus kendaraan. Petugas transportasi ini berguna saat ada hajad sosial. Misal perkawinan, perayaan dan pesta.

5. Bumi Lungguh.
Bumi lungguh adalah tanah yang diberikan kepada pejabat daerah sebagai gaji. Tanah kraton ini berlaku selama pejabat tersebut bertugas. Penerima tanah lungguh ini untuk biaya hidup. Tanah palungguhan ini sekarang mirip dengan tanah bengkok yang digarap oleh pamong desa. Mereka bekerja dengan gaji tanah bengkok.

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA

Terbaru

Ikuti