Orang Melayu Memuliakan Alam dan Menghargai Toleransi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Diskusi Ruang Budaya Nusantara: Kultur dan Budaya Melayu, hari Selasa, 14 Juli 2020.

Akademi Al Hikmah menyelenggarakan diskusi Ruang Budaya yang kali ini mengangkat tema Ruang Budaya Nusantara: Kultur dan Budaya Melayu, Selasa, 14 Juli 2020, melalui aplikasi meeting online Zoom.

Diskusi ini menghadirkan Dr. Aprinus Salam, M.Hum Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM dan Drs. Mustari, M.Hum, Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. Diskusi dipandu oleh Yona Wahyudi, Jurnalis TVRI.

Dalam paparannya Aprinus Salam mengatakan jati diri budaya Melayu yakni mengutamakan atau memuliakan subyek natural dan terintegrasi dengan alam. Orang-orang Melayu ramah dengan alam. “Hal tersebut terlihat dari pantun-pantunya ramah dengan alam,” jelas Aprinus.

Selain itu, lanjut Aprinus, orang Melayu terbuka menerima orang dari luar, terbiasa menerima orang-orang yang berbeda. Sebut saja komunitas Arab, terlihat dari bahasanya yang banyak terpengaruh dengan Arab.

“Orang Malayu sangat mengakui perbedaan dan relatif toleransi. Terbiasa menerima tamu banyak, jadi sangat terbuka. Orang Jawa kalau ke Melayu tetap Jawa, kalau orang Batak ke Melayu tetap Bataknya. Semua bisa eksis,” jelas Aprinus.

Nilai yang berkembang di kalangan orang Melayu tidak ada menang-menangan, semua terjalin dengan harmoni. “Jadi tidak ada ungkapan ini daerah saya, kamu tidak boleh eksis,” ujar Aprinus.

Namun, tatanan tersebut dikacaukan dengan adanya wacana putera daerah dalam politik, terutama dalam perebutan jabatan-jabatan publik. “Saya agak sedikit keras dengan putra daerah ini, jadi lokalnya lebih kuat dari Indonesianya,” jelas Aprinus.

Sedangkan Drs. Mustari, M.Hum yang juga tokoh Melayu mengatakan bahwa ada pepatah dari Buya Hamka yang mengatakan bahwa “Belanda mati karena pangkat, Cina mati karena kekayaan, Keling mati karena makanan, Melayu mati dalam angan-angan.” Bagi Mustari, ini merupakan kritik bagi kalangan Melayu.

“Pepatah Buya Hamka tadi menjadi bahan bagi kami untuk mentertawakan diri sendiri. Sebab bangsa yang bisa menertawakan dirinya sendiri yang sehat, karena dengan begitu punya energi untuk memperbaiki diri,” jelas Mustari.

Selain itu, menurut Mustari kebudayaan sebuah bangsa dapat dilihat dari bahasanya. Bahasa Melayu mendapatkan pengakuannya saat ditetapkan menjadi bahasa resmi Indonesia.

“Bahasa itu adalah inti dari kebudayaan, seperti sebuah ungkapan yang mengatakan yang baik itu budi, yang indah itu bahasa,” tandas Mustari.

Diskusi ini ditutup dengan pembacaan puisi berjudul Suluk Buah Apel yang sampaikan oleh Aprinus Salam.

Diskusi Ruang Budaya dapat disaksikan secara lengkap melalui Channel Youtube berikut:

Erik T.

Erik T.

Terbaru

Ikuti