Orang Miskin

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Wabah seakan memberi pesan agar strategi pembangunan, tidak hanya berpusat pada pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga mulai secara sengaja mempertimbangkan faktor kesehatan masyarakat, lingkungan hidup dan tentu pemerataan.

Oleh: Syamsudin, S.Pd., MA

Berdasarkan laporan ekonomi Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, edisi April 2020, laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut melambat menjadi 2,1% di tahun 2020, bahkan dalam skenario terburuknya bisa negatif 0,5% (lihat Detik.com). Lebih jauh dikatakan bahwa keadaan tersebut akan memicu pertambahan jumlah mereka yang miskin. Perlambatan ekonomi, akan berarti berkurangnya lapangan kerja, dan berbagai implikasinya, termasuk menurunnya daya beli masyarakat.

Berita ini tentu bukan hal yang mengejutkan. Bukan karena hitung-hitungan ekonomi, akan tetapi karena mereka yang ada di lapis bawah struktur sosial, telah secara langsung memberikan kesaksian atas keadaan hidup mereka selama wabah berlangsung. Beberapa televisi secara langsung mengangkat persoalan tersebut, terutama dampak akibat berkurangnya kegiatan di luar rumah, dan keharusan untuk diam di rumah demi mengurangi secara drastis penyebaran wabah. Mereka yang menggantungkan hidupnya pada peristiwa harian tentu sangat terpukul dengan keadaan ini. Lebih umum lagi, mereka para pekerja informal, yang beroleh pendapatan harian.

Pemerintah tentu telah membuat perhitungan dengan kebijakan jaring pengaman sosial, atau sejenisnya. Yakni kebijakan untuk membantu mereka yang paling bawah, dengan cara mengurangi beban hidup. Berbagai subsidi, peringanan berupa penundaan cicilan, pembebasan biaya listrik untuk keluarga miskin, dan lain-lain.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk saling berbagi, tentu akan menjadi faktor lain, yang akan menambah kekuatan jaring pengaman sosial. Kesemuanya akan menjadi hikmah tersendiri. Hubungan antar warga, berpotensi menjadi lebih dekat, karena di balik praktek jaga jarak, terdapat peningkatan relasi, dalam bentuk solidaritas. Mungkin belum keseluruhan, namun benih ke arah sana, telah nampak jelas. Dan kita percaya solidaritas sosial ke depan akan makin bertambah hebat.

Soal selanjutnya tentu adalah perbaikan struktur sosial, dengan arah memperkuat mereka yang ada lapis bawah. Wabah seperti memberi pesan bahwa ada masalah dengan lapangan kerja, pendapatan warga dan secara arah perkembangan ekonomi. Rentannya mereka yang ada di lapis bawah terhadap “guncangan ekonomi”. Lebih dari, yang ada di lapis bawah tentu tidak boleh tetap ada di sana.

Oleh sebab dibutuhkan strategi yang benar-benar mampu menterjemahkan amanat konstitusi (… memajukan kesejahteraan umum …). Wabah seakan memberi pesan agar strategi pembangunan, tidak hanya berpusat pada pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga mulai secara sengaja mempertimbangkan faktor kesehatan masyarakat, lingkungan hidup dan tentu pemerataan.

Di luar itu, mengingat besarnya potensi solidaritas sosial, maka sangat layak strategi pembangunan juga memasukkan elemen solidaritas sosial. Dengan model demikian, maka langkah pembangunan bukan lagi merupakan langkah eksklusif negara, melainkan langkah kolaboratif yang melibatkan masyarakat.

Kita percaya bahwa pada waktunya para pihak yang berkepentingan akan melahirkan strategi pembangunan yang berarah mentransformasi struktur sosial, untuk mencapai tata hidup bangsa yang sesuai dengan garis konstitusi.

Semoga wabah segera berlalu, sehingga semua masalah dapat segera diatasi.

Penulis: Direktur Pelaksana Yayasan Abdurrahman Baswedan/Dosen Administrasi Negara, Fisipol, UP45

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id