Orangtua Mungkin Bertambah Stress Saat Anak-Anak Mereka Banyak Menonton TV

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Komunikasi kolaboratif antara orang tua dan anak-anak adalah strategi yang lebih baik untuk mengurangi stres pada orang tua.

Terdapat kabar buruk bagi para orang tua yang yang sering membiarkan anak-anak mereka berada di depan TV untuk beristirahat. Kegiatan ini mungkin malah membuat orang tua menjadi lebih stres.

Mengapa? Oleh karena semakin banyak anak-anak menonton televisi, semakin mungkin mereka terpapar iklan. Semakin banyak iklan yang mereka lihat, maka semakin besar kemungkinan mereka bersikeras untuk membeli barang ketika mereka pergi bersama orang tua ke toko, dan mungkin membuat keributan jika diberi kata “tidak”. Menurut para peneliti, keseluruhan hal tersebut dapat berkontribusi pada tingkat stres orang tua secara keseluruhan, dan tidak hanya ketika sedang berbelanja saja.

Temuan ini berasal dari studi yang dipimpin oleh Universitas Arizona, yang diterbitkan dalam International Journal of Advertising, yang mengeksplorasi efek potensial dari kebiasaan menonton televisi anak-anak terhadap tingkat stres orang tua mereka.

Penulis utama studi, Matthew Lapierre, asisten profesor di Departemen Komunikasi UArizona di Fakultas Ilmu Sosial dan Perilaku mengatakan bahwa semakin banyak iklan yang dilihat anak-anak, semakin banyak mereka meminta sesuatu dan semakin banyak konflik yang ditimbulkan. Namun hal yang belum peneliti lihat sebelumnya adalah apa efek potensial pada orang tua.

Para peneliti tahu anak-anak meminta sesuatu, dan hal itu mengarah pada konflik. Akan tetapi para peneliti ingin mengajukan pertanyaan berikutnya: Mungkinkah ini berkontribusi pada stres keseluruhan orang tua? Dan studi tersebut mengatakan hal tersebut mungkin berkontribusi.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua, mungkin yang paling jelas adalah membatasi waktu menonton.

Lapierre mengatakan bahwa konten komersial ada dengan alasan, yakni untuk memancing perilaku pembelian. Jadi, jika hal tersebut menjadi masalah, mungkin lebih bagus untuk mematikan TV, meski hal ini tentunya bukan hal yang mudah.

Hal lain yang dapat dicoba oleh orang tua, terutama karena periklanan yang ditujukan untuk anak-anak semakin marak saat liburan. Pertimbangkan cara mereka berbicara kepada anak-anak mereka tentang konsumerisme.

Para peneliti melihat keefektifan tiga jenis komunikasi terkait konsumen orangtua-anak:

  • Komunikasi kolaboratif adalah ketika orang tua meminta masukan dari anak-anak tentang keputusan pembelian keluarga – misalnya, mengatakan hal-hal seperti, “Saya akan mendengarkan nasihat tentang produk atau merek tertentu”.
  • Komunikasi kontrol adalah ketika orang tua menunjukkan kontrol total dalam interaksi terkait konsumen orang tua-anak – misalnya, mengatakan hal-hal seperti, “Jangan berdebat dengan saya saat saya mengatakan tidak pada permintaan produk anda.”
  • Komunikasi periklanan adalah ketika orang tua berbicara kepada anak-anak mereka tentang pesan iklan – misalnya, mengatakan hal-hal seperti, “Iklan akan mengatakan apa saja agar anda membeli sesuatu.”

Mereka menemukan bahwa, secara umum, komunikasi kolaboratif dikaitkan dengan berkurangnya stres orang tua. Namun, efek perlindungan dari komunikasi kolaboratif menurun seiring dengan meningkatnya inisiasi pembelian anak-anak dan perilaku koersif, seperti berdebat, merengek, atau melampiaskan amarah, meningkat.

Baik komunikasi kontrol dan komunikasi periklanan dikaitkan dengan lebih banyak inisiasi pembelian dan perilaku koersif anak-anak, para peneliti menemukan, menunjukkan bahwa kurang melibatkan diri dalam gaya komunikasi tersebut dapat bermanfaat.

Namun, ketika anak-anak memiliki tingkat keterpaparan televisi yang lebih tinggi, efek perlindungan dari komunikasi iklan yang lebih sedikit menurun.

Peneliti mengatakan bahwa secara keseluruhan mereka menemukan bahwa komunikasi kolaboratif antara orang tua dan anak-anak adalah strategi yang lebih baik untuk mengurangi stres pada orang tua. Akan tetapi, strategi komunikatif ini menunjukkan hasil yang kurang baik ketika anak-anak meminta lebih banyak produk atau terlibat dalam lebih banyak konflik konsumen dengan orang tua.

Studi tersebut didasarkan pada data survei dari 433 orang tua yang memiliki anak-anak berusia 2 hingga 12 tahun. Para peneliti memfokuskan pada anak-anak yang di bawah masa remaja karena mereka memiliki daya beli yang tidak terlalu mandiri dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbelanja dengan orang tua mereka bila dibandingkan dengan remaja yang lebih tua.

Selain menjawab pertanyaan tentang gaya komunikasi mereka, orang tua dalam penelitian juga menanggapi pertanyaan yang dirancang untuk mengukur:

  • Berapa lama waktu anak-anak menonton televisi dalam sehari.
  • Seberapa sering anak mereka meminta suatu produk selama berbelanja, atau menyentuh suatu produk tanpa meminta.
  • Seberapa sering anak mereka melakukan perilaku koersif tertentu selama berbelanja.
  • Tingkat stres orang tua.

Pembuat Iklan Menemukan Jalan

Lapierre sendiri mengakui bahwa cara orang mengonsumsi hiburan sedang mengalami perubahan. Dengan munculnya layanan DVR dan streaming, banyak penonton yang kini tidak lagi dihadapkan pada iklan tradisional jaringan atau TV kabel. Akan tetapi, para pembuat iklan menemukan cara kreatif untuk mengatasi hal ini, melalui taktik seperti penempatan produk dan branding terintegrasi, seperti memasukkan nama produk atau perusahaan ke dalam narasi acara. Dan periklanan untuk anak-anak tetap menjadi industri bernilai miliaran dolar.

Dirinya mengatakan bahwa secara umum, lebih banyak eksposur pada televisi artinya lebih banyak eksposur ke konten yang dikomersialkan. Bahkan jika kita melakukan streaming, jika yang ditonton lebih banyak, maka mungkin kita akan melihat branding yang lebih terintegrasi.

Iklan yang ditujukan untuk anak-anak, yang sering menampilkan banyak warna cerah, musik yang ceria, dan karakter yang mencolok, bisa sangat persuasif, oleh karena secara perkembangan, anak-anak tidak sepenuhnya mampu memahami maksud dari iklan.

Iklan untuk anak-anak dibuat agar dapat membuat mereka bersemangat. Mereka melakukan banyak hal dalam iklan anak-anak untuk mendongkrak emosi anak. Anak-anak tidak memiliki sumber daya kognitif dan emosional untuk menahan diri mereka sendiri, dan itulah mengapa hal ini menjadi masalah khusus bagi mereka.

Sumber:
Situs sciencedaily.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti