Otak Burung Lebih Cerdas dari Dugaan Kita

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Setelah dibandingkan antara pallium burung dan neocortex mamalia seperti tikus, monyet, dan manusia, ditemukan bahwa serat di dalam pallium memiliki kesamaan rangkaian dengan serat neocortex dalam mamalia tersebut.

Burung seringkali menjadi bahan ejekan bagi mereka yang dianggap kurang cerdas. Namun, “otak burung” sebagai ejekan mungkin akan ditinggalkan dan berubah menjadi suatu pujian. Dalam sebuah studi terbaru para ilmuwan menemukan bahwa otak burung memiliki kesamaan dengan otak mamalia.

Ilmuwan telah lama mempelajari mengenai otak burung dan menemukan bahwa burung tidak memiliki neocortex, yakni area dalam otak mamalia dimana memori, perencanaan, dan pengambilan keputusan berlangsung. Namun, meski tidak memiliki bagian ini, ilumuwan menemukan bahwa burung dapat melakukan kegiatan-kegiatan kompleks seperti membuat peralatan, menerti peluang dan masih banyak lagi.

Kini para ilmuwan berusaha mencari tahu bagaimana burung dapat melakukan tugas-tugas ini dengan menggunakan alat 3D polarized light imaging. Dengan menggunakan batuan alat resolusi tinggi ini, para ilmuwan menganalisa area otak burung yang bernama pallium. Bagian ini dianggap para ilmuwan paling serupa dengan neocortex dalam otak mamalia.

Setelah dibandingkan antara pallium burung dan neocortex mamalia seperti tikus, monyet, dan manusia, ditemukan bahwa serat di dalam pallium memiliki kesamaan rangkaian dengan serat neocortex dalam mamalia tersebut. Hal ini mungkin yang membuat burung untuk dapat melakukan berbagai macam tugas kompleks. Namun masih terdapat pertanyaan: bagaimana dengan kesadaran? Apakah burung merasakannya? Apakah burung sadar mengenai apa yang mereka lihat dan lakukan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan melakukan eksperimen pada burung gagak, burung yang dianggap memiliki kecerdasan lebih dibandingkan burung lainnya. Dalam eksperimen, dua burung gagak dilatih oleh para ilmuwan untuk bergerak atau tetap diam ketika merespon sebuah cahaya redup dalam sebuah layar monitor. Untuk melihat apa yang terjadi di otak mereka, dua burung tersebut di pasangkan electrodes. Alat ini berguna untuk mengukur sinyal neuron saat mereka merespon. Pada saat burung bereaksi setelah diperlihatkan cahaya, neuron dalam otak mereka bereaksi dan bekerja. Sedangkan ketika mereka diam saat diberikan cahaya, neuron mereka juga diam tidak bereaksi.

Hasil eksperimen ini mengindikasikan bahwa burung gagak tersebut memproses apa yang mereka lihat dan tidak sekadar melihat sesuatu, sehingga dapat pula dikatakan burung sadar saat merespon cahaya tersebut. Meski mamalia dan burung memiliki jalur evolusi yang berbeda, dimana nenek moyang terdekat mereka berumur 320 juta tahun, tetapi studi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan otak dari keduanya tidak jauh berbeda.

Sumber:
Situs Sciencemag

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti