Pabrik Gula Membuat Makmur Tanah Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kejayaan gula membuat bangsa Nusantara mengalami kemajuan sebagai bentuk dari pengamalan Pancasila. Dengan gula tersebut rakyat di Pulau Jawa mendapatkan masa kemakmuran.

A. Warisan Pabrik Gula Nan Jaya buat Kesejahteraan Bersama

Gula itu manis, semanis sejarahnya. Pada tahun 1842 Sinuwun Paku Buwono Vll membuat rencana strategis untuk membangun industri gula. Eksistensi gula dalam budaya Jawa dapat ditinjau berdasarkan aspek historis, mekanis, ekonomis dan filosofis. Gula menggairahkan kehidupan ekonomi dan budaya.

Dari segi historis sesungguhnya telah terbukti bahwa kepulauan nusantara, khususnya tanah Jawa, menjadi eksportir dan produsen gula.

Karaton Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran menjadi pelopor keberhasilan industri gula di tanah Jawa. Keberhasilan industri gula membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Industri gula yang cukup menggembirakan pada saat itu berpengaruh pada segi-segi kehidupan yang lain. Misalnya pada bidang transportasi yang pesat. Perusahaan kereta api berkembang di Jawa dengan jalur antar kabupaten, bahkan sampai kecamatan dan pedesaan. Tentu saja korelasi antar usaha ini meningkatkan kemakmuran. Masyarakat Jawa mendapat pengetahuan dan pengalaman baru dalam bidang perkebunan dan industri. Baik perkebunan maupun industri, keduanya membuka lapangan kerja dan kesempatan berusaha.

Bahan pembuatan gula adalah sukrosa atau dikenal dengan karbohidrat.

Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman yang mengandung sukrosa dalam jumlah yang banyak, sehingga menjadi bahan baku utama pembuatan gula. Sukrosa pada tebu terdapat di dalam suatu cairan yang disebut nira. Nira inilah yang akan diolah melalui beberapa proses sehingga dihasilkan kristal gula. Pembuatan gula merupakan proses yang sangat kompleks. Untuk itu dibutuhkan ketelitian dan keahlian khusus dalam pengolahannya, agar gula yang dihasilkan memiliki kualitas terbaik dan memenuhi standar mutu internasional. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat pabrik gula yang unggul, sehingga mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Mereka menjadi bangsa yang kopen dan kajen.

B. Makna Filosofis Gula

Pabrik gula beserta aktivitas produksinya menarik minat para pakar untuk melakukan penelitian dan pengkajian. Misalnya pabrik gula Colomadu yang dibangun tahun 1862 perlu untuk dikaji. Dengan pendekatan filosofis diharapkan butir-butir kearifan lokal dapat diperoleh demi penyusunan kebijakan yang bertumpu pada nilai kebudayaan.

Gula digunakan untuk mengubah rasa dan keadaan makanan atau minuman.

Pendekatan filosofis atas kajian gula bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun. Secara kimiawi gula identik dengan karbohidrat. Bentuk dari karbohidrat, jenis gula yang paling sering digunakan adalah kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa dan keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam) menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel. Ada gula ada semut adalah ungkapan yang menggambarkan adanya daya tarik, sehingga banyak pihak yang datang berbondong-bondong.

Seperti misalnya urbanisasi dari desa ke kota, karena banyaknya peluang dan harapan.

Orang Jawa sangat akrab dengan gula beserta fungsinya. Tidak mengherankan apabila budaya Jawa kerap melagukan tembang dhandhanggula. Oleh karena itu dhandhanggula secara etimologis dapat diberi makna demikian. Dhandhanggula: dhandhang = hitam gula = legi atau manis, melambangkan seseorang telah menemukan gula hitam atau manisnya madu kehidupan sebagai suami istri. Dhandhanggula yang berasal dari kata dhandhang dan gula yang berarti pengharapan akan yang manis.

Dhandhanggula

Werdining kang wasita jinarwi,
wruh ing kukum iku watekira,
adoh marang kanistane.
pamicara puniku,
weh resepe ingkang mijarsi.
tatakrama punika,
ngedohken panyendu.
kagunan iku kinarya,
ngupa boga dene kalakuan becik,
weh rahayuning raga.

Terjemahan

Makna hakiki ajaran Jawa,
hendaknya taat pada hukum,
jauh dari kenistaan,
perkataan yaitu,
agar menyenangkan pihak lain,
tata krama sebenarnya,
menjauhkan sifat tercela,
ketrampilan dapat digunakan,
mencari nafkah dengan kelakuan baik,
agar diri menjadi selamat.

Tembang memiliki sifat-sifat atau watak. Definisi watak tembang adalah sebagai berikut: Tiap nama tembang Macapat mempunyai sifat/watak masing-masing. Oleh karena itu pemaparan atau penggambaran sesuatu hal biasanya diselaraskan dengan sifat/watak tembangnya.

Dhandhanggula berwatak luwes, menyenangkan. Sesuai untuk mengungkapkan segala hal/keadaan. Setiap tembang memiliki watak. Dhandhanggula mempunyai arti harapan yang manis, daunnya sebagai hiasan kehidupan, glali, dhandhang. Tembang Dhandhanggula ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Adapun wataknya fleksibel, luwes. Cocok untuk pembukaan, pertengahan dan penutup suasana.

Penggunaan tembang tersebut dapat mendukung karakter dan situasi.

Bendera Gula Klapa menjadi simbol kebanggaan dan kejayaan kerajaan Jawa. Dalam seni pewayangan seringkali ditampilkan adegan yang diiringi dengan lagu Gula Klapa laras pelog. Irama lagu Gula Klapa tampak bersemangat dan gagah berani. Musik yang disertai dengan gerakan wayang yang lincah membuat suasana menjadi sangat meriah.

Lagu Gula Klapa

Gula klapa abang putih sang dwi warna
Gula klapa iku minangka pratandha
Sagung bangsa nuswantara
Tunggal cipta rasa karsa
Adhedhasar Pancasila mrih tentrem tata raharja
Gula klapa abang putih sang dwi warna
Gula klapa gendera para perwira
Labuh labet mring negara
Jiwa agung trah kusuma
Budi luhur kulinakna watak asor singkirana

Gula klapa mengandung makna nasionalisme atau kebangsaan. Gula berwarna merah dan kelapa putih. Bendera Indonesia berwarna merah putih. Sejak zaman Kraton Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram dan Surakarta Hadiningrat selalu mengibarkan bendera merah putih. Semua sepakat bahwa bendera itu mengandung arti berani karena benar, dalam rangka membela kesucian.

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Dr. Purwadi SS, M.Hum

Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara - LOKANTARA