Ditulis oleh 1:02 pm COVID-19

Pageblug Corona: Pesan Kebangkitan Selatan

Pageblug corona merupakan hajatan utara, kita yang berada di selatan seharusnya bersyukur dan lebih optimis.

Oleh: Renta Ardhana, MBA

Pendahuluan

Saat membaca artikel Dr. Untoro berjudul Pageblug: Perlawanan Alam Atas Keserakahan Manusia.

Hal menarik dari tulisan tersebut adalah isu yang diangkat menggunakan pendekatan perspektif teori komunikasi. Pemberi pesan (sender) yaitu alam, penerima pesan (receiver) yaitu manusia dan pesan (message) yang beliau paparkan reaksi alam akibat perilaku ekonomi kapitalisme. Alam berusaha menyeimbangkan diri.

Disinilah uniknya analisis Dr Untoro, berbeda dari isu arus utama yang lebih fokus gejala-gejala kasar seperti virus, penyakit, seputar masker, dan social distancing.

Saya jadi teringat cerita kakek tentang konsep great chain of being.

Satu kalimat yang masih saya ingat ketika membahas great chain of being, kakek selalu mengakhiri dengan kalimat: “di alam semesta ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan”.

Saya menduga, pesan pageblug (wabah virus) perspektif teori komunikasi yang disampaikan Dr Untoro mirip dengan cerita kakek saya.


Gambar 1: Ilustrasi Great Chain of Being
sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:Great_Chai n_of_Being_2.png

Dalam artikel ini saya ingin “ngudo roso”, berbagi tentang sikap optimisme yang diajarkan kakek saya atas pageblug (wabah penyakit) virus corona yang sedang kita hadapi hari ini.

Membaca pesan dari utara

“Di alam semesta ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan”.

Saya sengaja menggunakan dikotomi utara selatan yang sebenarnya sering digunakan dalam analisis ketimpangan ekonomi kawasan di dunia.

Ada kawasan utara, ada kawasan selatan. (baca juga: Kesenjangan Utara–Selatan). Kawasan utara adalah negara-negara kaya dan maju diantaranya Amerika Utara dan Asia Timur. Kawasan selatan kumpulan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Istilah utara selatan juga bermaksud utara dan selatan relatif terhadap posisi geostratetgis Indonesia. Sebagaimana digunakan dalam konteks kebijakan poros maritim Indonesia.

Utara adalah Samudera Pasifik, dan selatan adalah Samudera Hindia. Seperti menyebut kawasan utara adalah ASEAN, sedangkan kawasan selatan adalah IORA (Indian Ocean Rim Association) baca juga Kerjasama Regional Indian Ocean Rim Association.

Kacamata utara selatan sebatas dikotomi hipotesa untuk kepentingan membaca pageblug corona dari aspek sosioekonomi. Saya mencatat ada dua fakta menarik sebagai berikut.

80 persen kasus virus corona ada di utara.

Menurut artikel Coronavirus pandemic: Tracking the global outbreak ada 185 negara terkena kasus virus dengan total mencapai 1,78 juta kasus (data per 12 April 2020). Ringkasannya disajikan pada Tabel 1.

diolah dari https://www.bbc.com/news/world-51235105

Tabel 1 adalah daftar sebelas negara dengan kasus terbanyak. Sebelas negara tersebut menyumbang 80 persen dari total kasus virus corona di seluruh dunia. Tiga kasus terbanyak adalah Amerika Serikat (531,247 kasus), Spanyol (166,019 kasus) dan Italia (156,363 kasus).

Virus corona pertama kali menyebar dari utara

Masih terjadi perdebatan tentang darimana virus corona pertama kali menyebar. Apakah dari Amerika atau dari China?

Terlepas dari mana yang benar, kedua negara besar tersebut berada di kawasan utara.

Melansir artikel Mapping a contagion: How the coronavirus may spread around the world, corona virus awalnya ditemukan di kota Wuhan, China.

Diduga virus dengan nama resmi Covid-19, lalu menyebar keseluruh dunia melalui jaringan penerbangan dunia (travel pattern).

Gambar 2: Pola penyebaran virus corona (travel pattern)

Gambar 2 adalah model travel pattern bagaimana virus corona dibawa manusia dan akhirnya menyebar ke seluruh dunia dengan begitu cepatnya. Hingga sampai ke Indonesia.

Dari dua catatan di atas, saya berhipotesis bahwa pageblug corona ini lebih merupakan “hajatan utara” daripada hajatan selatan.

Optimisme selatan hadapi Covid-19

Saat bercerita tentang great chain of being, saya ingat kakek pernah menyampaikan kurang lebih begini: “dalam setiap musibah selalu menyimpan hikmah (peluang)”.

Pesan yang saya tangkap dari nasehat kakek adalah perlunya sikap optimis, berbaik sangka terhadap keadaan. Apapun itu, bisa baik atau buruk menurut kita.

Sikap tersebut sangat relevan dengan kondisi hari ini mengingat pandemi corona kita saksikan hari ini sudah berdampak tidak hanya kesehatan masyarakat namun juga menghentikan gerak ekonomi (baca juga Ekonomi Dunia Susut Rp 70.000 Triliun Imbas Corona).

Jika pembacaan pesan alam tersebut tidak meleset, bahwa pageblug corona merupakan hajatan utara, kita yang berada di selatan seharusnya bersyukur dan lebih optimis.

Dampak yang dirasakan masyarakat negara di utara akan lebih besar daripada masyarakat di selatan.

Konon, untuk pemulihan dampak pegeblug corona, negara-negara besar di utara telah mengeluarkan dana 7 trilyun dolar AS atau setara Rp 112.000 trilyun (baca juga: Biaya Selamatkan Ekonomi Dunia dari Corona Capai Rp 112 Kuadriliun!).

Belum lagi dampak ketenagakerjaan mulai dari pengurangan jam kerja, dirumahkan, cuti tanpa gaji, hingga PHK yang diperkirakan mencapai 2,7 miliar pekerja di dunia atau sekitar 81 persen tenaga kerja. (Baca juga ILO: 2,7 Miliar Pekerja di Dunia Terdampak Virus Corona).

Melihat besarnya dampak virus corona, tentunya negara utara lebih memprioritaskan pemulihan semua aspek kehidupan pasca corona dan membutuhkan waktu untuk pemulihan kembali. Ketika ekonomi utara berpotensi terpuruk, besar kemungkinan angin perubahan akan bergerak ke selatan.

Tentu hipotesis ini masih sangat prematur. Masih perlu kajian lebih mendalam. Memang demikian adanya, cara pandang ke selatan merupakan gagasan baru, sedikit pendukung, banyak konflik kepentingan (status quo) dan melawan arus utama pemikiran pengambil kebijakan di negeri ini yang lebih condong ke utara.

Namun tidak ada salahnya, gagasan “selatan” menjadi bahan perbincangan mulai hari ini melihat besarnya potensi di selatan (baca juga Melihat Pentingnya IORA Bagi Indonesia).

Saya teringat kebijakan poros maritim dunia yang digagas pemerintah pusat. Salah satu penafsiran poros maritim adalah kebijakan politik luar negeri menyeimbangkan kekuatan Indonesia diantara dua samudera: Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kebijakan antitesis yang sebelumnya lebih condong ke utara, ASEAN centric.

Melihat kawasan utara sedang terpuruk akibat pegeblug corona, sekaranglah momentum yang tepat untuk bersama-sama berbalik badan dan menatap selatan yang selama ini terlupakan. Masyarakat mulai membangun kekuatan, pemerintah pusat dan daerah mulai menyusun kebijakan strategis yang “menghadap” ke selatan.

Berbicara selatan, tentu tidak terlepas dari kawasan ekonomi yang menjadi pijakan langkah-langkah strategis. Jika pemerintah pusat bertekad bulat dengan kebijakan poros maritim, maka kawasan ekonomi selatan yang patut dipertimbangkan adalah IORA (baca juga Indian Ocean Rim Association).

IORA adalah masa depan Indonesia di selatan dan alternatif penyeimbang kerjasama utara yaitu ASEAN. Samudera Hindia adalah kekuatan terlupakan negeri ini.

IORA adalah masa depan Indonesia di selatan dan alternatif penyeimbang kerjasama utara yaitu ASEAN.

Sejarah mencatat, Indonesia memiliki ikatan “batin” dengan negara-negara di Samudera Hindia daripada negara-negara di utara. Karena di IORA, Indonesia disatukan oleh samudera yang sama yaitu Samudera Hindia.

Peran Indonesia di IORA juga menunjukkan perkembangan yang positif. Indonesia pernah menjadi ketua IORA Tahun 2015 – 2017 (baca juga Indian Ocean Rim Association). IORA juga memberikan kesempatan kerjasama disemua bidang mulai dari kerjasama penelitian, kebudayaan, pariwisata, perikanan, sampai kerjasama industri (baca juga RI Jaring Kerja Sama Industri melalui IORA).

Jogjakarta provinsi pertama yang secara tegas menjadikan Samudera Hindia sebagai visi pembangunan. (baca juga: Sultan HB X di Penetapan Gubernur: Songsong ‘Abad Samudra Hindia’).

Komitmen Sultan Jogja dapat dilihat dari suksesnya pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta, Pelabuhan Adikarto, Jalan Lintas Luar Selatan semuanya berada di pesisir selatan Jogja yang menghadap ke Selatan.

Visi Ngarsa Dalem ini tentu didukung pertimbangan yang jauh kedepan, yang bisa jadi melampaui model-model perencanaan versi teknokrat. Sebab kepemimpinan Jogja sangat unik, utamanya dalam pengambilan keputusan.

Apakah jangan-jangan Sultan Jogja sudah membaca pesan pageblug corona jauh-jauh hari sebelum pageblug corona ini terjadi di 2020?

Saya pribadi sempat berpikir demikian. Karena kakek saya saat bercerita tentang great chain of being, pernah menyampaikan kepada saya dengan sedikit berbisik “sesuk sebelum dunia ini hancur, akan kembali kejayaan peradaban di Selatan”.

Mari bersyukur kita ada di Selatan.
Tetap optimis menghadapi pegeblug corona.

Penulis: Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Kemang, Jakarta

(Visited 271 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 15 April 2020
Close