Ditulis oleh 9:29 am COVID-19

Pageblug: Perlawanan Alam Atas Keserakahan Manusia

Pageblug itu suara alam atau suara bumi yang mengandung pesan bahwa alam telah kehilangan keseimbangannya.

Oleh: Dr. Untoro Hariadi, M.Si

Menurut pandangan kultur Jawa, pandemi virus corona yang telah menyebar di lebih dari 174 negara sekarang ini, disebut sebagai pageblug. Apa pageblug itu? Pageblug adalah tersebarnya wabah penyakit yang sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan umat manusia secara luas. Sebagian orang Jawa berpandangan bahwa pageblug disebabkan oleh kekuatan spiritual-negatif. Katanya, ada perilaku liar dan beringas dari makhluk yang tidak kasat mata yang sedang menyerang dunia manusia. Namun, ada sebagian orang Jawa yang mempunyai pandangan lain.

Saya mengerti tentang pageblug karena diberitahu oleh (almarhum) bapak saya. Beliau menyampaikan bahwa pageblug itu suara alam atau suara bumi yang mengandung pesan bahwa alam telah kehilangan keseimbangannya. Hilangnya keseimbangan tersebut lantaran ulah manusia demi memenuhi nafsu serakahnya. Perlakuan manusia terhadap alam sangat buruk; hutan-hutan ditebang, atmosfer dirusak, udara dan air diracuni, lingkaran kehidupan mikro yang hakiki diputuskan. Akibatnya semakin kita rasakan. Bencana dengan berbagai perwujudannya menimpa umat manusia; munculnya wabah penyakit, pemanasan global (global warming), banjir, tanah longsor dan badai atau angin ribut.

Manusia memandang alam, semata-mata sebagai obyek penguasaan. Alam dianggap tambang kekayaan dan energi yang perlu dieksploitasi. Bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karena itu perlu dipelihara, tidak mau tahu. Manusia sangat pragmatis: merampas dan membuang. Alam dibongkar untuk diambil apa saja yang diperlukan, dan apa yang tidak diperlukan, termasuk produk-produk samping pekerjaan manusia, begitu saja dibuang. Kata bapak saya, carang pandang yang demikian ini disebut ekonomi kapitalistik.

Dalam pandangan ekonomi kapitalistik, tujuan produksi adalah menghasilkan laba perusahaan sebesar-besarnya. Laba menjamin bahwa sebuah perusahaan dapat mempertahankan diri dalam alam persaingan bebas. Untuk meningkatkan laba, biaya produksi perlu ditekan serendah mungkin.

Karena itu, ekonomi modern condong untuk mengeksploitasi kekayaan alam dengan semurah mungkin. Sekedar mengambil, menggali dan membongkar apa saja yang diperlukan tanpa memperhatikan akibat yang mungkin muncul terhadap alam itu sendiri, dan tanpa usaha untuk memulihkan ke keadaan semula (recovery).

Berbagai substansi kimiawi yang beracun, asap dan segala bentuk sampah lain dibuang dengan biaya semurah mungkin. Dibuang ke tempat pembuangan sampah, dialirkan ke sungai, dihembuskan melalui cerobong-cerobong pabrik ke dalam atmosfer. Mengolah sampah sampai racunnya hilang dan sampai dapat dipergunakan lagi hanya menambah biaya.

Dengan demikian, apabila proses produksi dibiarkan menurut logika ekonominya sendiri, alam dan lingkungan hidup manusia pasti semakin rusak. Karena itu , kata bapak saya, muncullah pageblug: suara alam atau suara bumi yang tersiksa sekian lama diperkosa oleh manusia. Bapak saya mekanjutkan, pageblug juga menjadi penanda bahwa jumlah orang baik semakin sedikit, sementara jumlah orang jahat semakin bertambah banyak. Kalau ini dibiarkan maka proses penghancuran alam akan makin menjadi-jadi. Untuk itu, alam berkehendak untuk memulihkan keseimbangannya dengan cara yang disebut sebagai ruwatan. Ruwatan berasal dari kata ruwat, yang artinya proses pembersihan segala kotoran jiwa dan spirit jahat, yakni keserakahan, ketamakan dan kesombongan. Alam meruwat dirinya sendiri. Seharusnya, manusialah yang melakukan prosesi ruwatan, tetapi karena manusia telah dikuasai nafsu serakah, tamak dan sombong, maka ia lupa diri dan merasa sebagai penguasa tunggal di atas bumi. Alam tidak terima apabila diganggu keseimbangannya oleh manusia. Manusia sudah kebangeten.Kesabaran alam tentu ada batasnya, maka terjadilah pageblug sebagai manifestasi perlawanan alam terhadap keserakahan manusia. Selain membawa dampak buruk dan menakutkan, pageblug juga mengirim pesan agar manusia segera sadar dan kembali kepada fitrah sucinya, yakni sebagai mitra dan pemelihara alam. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah bahwa manusia harus berubah, merubah diri. Penting dikembangkan suatu sikap dan kesadaran manusia tentang alam sebagai mitra dan lingkungan hidupnya.

Dasar berpikirnya adalah bahwa manusia harus tetap menguasai alam. Ia harus tetap mengolah dan menggunakannya. Yang perlu berubah adalah cara penguasaan atau cara pemanfaatannya.

Sikap dasar yang perlu dikembangkan tersebut, secara sederhana dapat dirumuskan ke dalam kata-kata; menguasai secara menghargai, dan menggunakan sambil memelihara. Dasar berpikirnya adalah bahwa manusia harus tetap menguasai alam. Ia harus tetap mengolah dan menggunakannya. Yang perlu berubah adalah cara penguasaan atau cara pemanfaatannya.

Menguasai tidak sebagai pihak di luar dan di atas alam, melainkan sebagai bagian dari alam, sebagai partisipan dalam ekosistem bumi. Jadi menguasai sambil menghargai, mencintai, mendukung dan mengembangkannya. Menggunakan tetapi tidak sebagaimana kita menghabiskan isi sebuah tambang, bahan galian atau menggunduli hutan lantas merana ditinggalkan begitu saja.

Memang, di satu sisi harus kita sadari bersama bahwa setiap kegiatan pembangunan, dalam hal-hal tertentu, telah mengubah lingkungan alamiah, dan dengan demikian merusaknya. Tidak ada proses pekerjaan yang tidak menghasilkan sampah dan pengotoran. Namun yang terpenting dari pemahaman tersebut adalah perlunya menjaga aspek proporsionalitas. Hasil atau manfaat mana yang membenarkan suatu perusakan atau pengotoran harus terjadi? Apakah sasaran suatu kegiatan pembangunan cukup signifikan untuk membenarkan perusakan yang disebabkannya?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberi jaminan keberlanjutan atau sustainabilitas kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Prinsip sustainabilitas memerlukan tidak saja sikap mengerti terhadap kehidupan, tetapi lebih dari itu adalah sikap peka terhadap kehidupan. Bahwa kehidupan kita di bumi ini, minimal harus bisa dipertahankan, maksimal harus bisa berkembang. Yang paling penting untuk kita pahami bersama bahwa kehidupan yang kita tata dan lakukan hari ini akan membawa konsekuensi atas kehidupan hari ini dan hari esok.

Apabila kehidupan hari ini kita isi dengan berbagai persoalan kerusakan dan pengurasan, maka bukan hari ini saja kita akan menanggung akibatnya, tetapi persoalan-persoalan itu tetap akan terbawa menjadi persoalan masa depan: kelangkaan atau habisnya sumber-sumber alam. Namun sebaliknya, apabila kehidupan hari ini kita isi dengan berbagai hal yang memberi kemanfaatan, tidak menguras habis sumber-sumber alam, tidak mengotori lingkungan, secara tidak langsung kita memberi jaminan kehidupan yang baik di masa depan, untuk generasi yang akan datang.

Untuk itu perlu dikembangkan kesadaran mendalam dan permanen bahwa kita sendiri termasuk biosfer, merupakan bagian dari ekosistem. Bahwa ekosistem adalah sesuatu yang halus keseimbangannya, yang tidak boleh kita ganggu dan rusak dengan campur tangan dan perencanaan kasar. Kesadaran bahwa sebagai partisipan dalam biosfer, kita tidak akan melakukan apapun yang mengancam kesehatan dan ketangguhannya.

Kita harus berani membongkar sistem ekonomi modern, yang tidak memiliki konsep sistem produksi dalam perimbangan. Suatu sistem ekonomi yang semata-mata mengejar produksi. Sistem ekonomi seperti inilah yang membuat manusia terus-menerus mau mencari lebih banyak dan lebih jauh, yang membuatnya tidak pernah puas dengan keadaan yang dicapainya sehingga alam semakin terkuras untuk menghasilkan lebih banyak kepuasan bagi manusia.

Lebih dari itu kita harus membatinkan pada diri kita masing-masing bahwa itu semua menjadi kewajiban bersama sebagai umat manusia. Bahwa kita dalam setiap pertemuan dengan alam, meninggalkannya harus dalam keadaan utuh dan tetap tangguh. Semoga, kita mampu menangkap substansi pesan pandemi virus corona yang sedang terjadi saat ini, secara lebih bijak.

Penulis: Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra/Ketua Dewan Pengurus Yayasan Abdurrahman Baswedan

(Visited 318 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 11 April 2020
Close