Pancasila, Antara Ide dan Realitas

Ada bentangan realitas dengan jarak yang jauh antara rumusan kata-katanya yang indah dari sebuah ide besar, dengan realisasinya dalam kehidupan yang nyata yang penuh kontradiktif.

Pancasila adalah rumusan kata-kata yang indah, tetapi realisasinya tidak seindah warna aslinya. Pancasila ketika dirumuskan menjadi bagian dari keindahan melihat masa depan Indonesia yang dicapai dengan kemerdekaan. Akan tetapi ketika kemerdekaan sudah dicapai, dan Pancasila akan direalisikan dalam praktek pemerintahah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ternyata tidak mudah. Ada bentangan realitas dengan jarak yang jauh antara rumusan kata-katanya yang indah dari sebuah ide besar, dengan realisasinya dalam kehidupan yang nyata yang penuh kontradiktif. Ibaratnya Pancasila hanya menjadi kepala, tetapi tangan dan kakinya jauh berbeda dengan filosofi Pancasila.

Akibatnya dalam realitas kehidupan politik pemerintahan di Indonesia, Pancasila seakan-akan menjadi cek kosong yang dapat diisi apa saja oleh penguasa pemerintahan yang ada. Pada zaman orde lama presiden Soekarno, maka Pancasila diisi dengan demokrasi terpimpin dengan mengakomodasi NASAKOM dan bisa diperas menjadi eka sila yaitu gotong royong. Pada zaman orde baru presiden Soeharto mengenalkan demokrasi Pancasila yang terkesan represif yang bertumpu pada kekuatan militer. Sedangkan pada era reformasi yang dimulai dengan jatuhnya orde baru, maka Pancasila menjadi demokrasi prosedural di bawah rezim multi partai yang berbasis pada praktek money politics.

Berikut rumusan Pancasila yang sah dan benar sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya paragraf ke-4. “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa, 2) kemanusiaan yang adil dan beradab, 3) persatuan Indonesia, dan 4) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta 5) dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Realitas ke-Indonesiaan yang Paradoks

Realitas Indonesia adalah realitas kemajukan yang otentik. Sejak dulu hingga sekarang realitas Indonesia menyatakan dirinya dalam kemajemukan hidup yang terbuka, dinamis dan sangat kompleks. Kemajemukan itu antara lain yang paling fundamental adalah kemajemukan agama, karena di Indonesia dikenal ada enam agama yang dijamin hak hidupnya dengan berbagai aliran pemikirannya. Di samping kemajukan antara agama yang enam itu, kemajemukan juga ada dalam satu agama, di mana di dalamnya terdapat berbagai aliran pemikiran keagamaan. Satu sama lain agama dan alirannya adalah berbeda kepentingan politiknya, dan tidak jarang dimanfaatkan untuk kepentingan politik kekuasaan. Akan tetapi realitas berbagai aliran pemikiran keagamaan itu terseret dalam konflik kepentingan politik kekuasaan sehingga menimbulkan gesekan sosial dengan bentuk konflik kekerasan.

Realitas kemajemukan juga terdapat dalam kemajemukan suku, bahasa dan adat istiadat yang bersifat lokal. Bahasa lokalnya saja ada ribuan, apalagi tradisi lokalnya dalam adat istiadat yang masih hidup dan dijaga turun temurun hingga saat ini. Lokalitas ini melahirkan kearifan lokal yang kaya makna dan symbol, dan menjadi modal sosial yang diperlukan untuk menjaga kebersamaan dan persatuan Indonesia dalam kesinambungan pembangunannya di Indonesia. Akan tetapi kearifan lokal itu sering diterjang oleh kepentingan politik kekuasaan dan memicu konflik kekerasan yang bersifat lokalistik.

Realitas Indonesia adalah kekayaan alamnya yang terbentang luas di daratan maupun di lautan. Akan tetapi kekayaan alamnya tidak membuat rakyat di negeri ini kaya dan bisa hidup sejahtera. Kekayaan alam yang luar biasa itu dalam prakteknya sudah digadaikan dengan hutang yang besar. Rakyat pun tetap hidup miskin, dan potret kamiskinan itu dapat dilihat di daerah kumuh yang membentang panjang di pinggiran-pinggiran sungai yang ada. Potret kemiskinan juga bisa dilihat oleh banyaknya pengamen dan orang miskin yang meminta-minta di sepanjang pertigaan atau perempatan di seantero kota-kota di Indonesia.

Realitas negeri ini adalah negeri agraris, yang didukung oleh tanahnya yang subur yang terbentang amat luas. Kesuburanya digambarkan Koes Plus tongkat bisa jadi tanaman. Akan tetapi kita adalah negara agraris yang banyak tergantung pada produk agraris dari luar negeri. Kita adalah negeri agraris yang mengimpor kedele untuk bahan membuat tempe. Kita juga negeri agraris yang mengimpor beras, buah-buahan, bahkan garam dan daging yang juga impor. Kita kurang berhasil meningkatkan produktifitas bahan pangan dan tanaman buah-buahan.

Perlunya Teologi Tuhan Empirik

Dicantumkannya Ketuhanan Yang Maha Esa di urutan pertama dalam Pancasila, bukan karena keniscayaan angka, tetapi mempunyai makna yang fundamental, karena realitas kehidupan bangsa Indonesia ketika itu adalah realitas bangsa yang bertuhan. Tuhan melandasi kehidupan dalam berbagai agama, karena Tuhan dalam agama adalah bersifat fundamental, tidak ada agama tanpa Tuhan, bahkan ajaran agama diyakini umatnya sebagai manifestasi dari firman Tuhan itu sendiri, yang harus diyakini kebenarannya dan dipedomani dalam kehidupannya.

Akan tetapi Tuhan dalam perspektif Pancasila bukan hanya Tuhan persepsi dan konsepsi, lebih jauh dan lebih dalam lagi adalah Tuham empirik, yang menyatukan dan menjadi kesatuan dari Tuhan yang ada dalam berbagai agama dan aliran keagamaannya. Tuhan dalam agama-agama biasanya diajarkan sebagai persepsi manusia tentang Tuhan. Padahal Tuhan bukanlah persepsi manusia tentang Tuhan, karena persepsi manusia tentang Tuhan adalah Tuhan yang telah dikurung dalam kesadaran berpikirnya, dan Tuhan yang sudah terkurung dalam pikirannya itu sesuangguhnya bukan Tuhan.

(Visited 266 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020