Ditulis oleh 8:44 am KABAR

Pandangan Jagad Batin Jawa

Dalam diri manusia terdapat tiga buah alat batin yaitu, kalbu, jiwa/ruh dan inti jiwa/inti ruh (telengking kalbu atau wosing jiwangga) yang memperlihatkan susunan urutan kedalaman dan kehalusannya.

A. Cara Orang Jawa Memenuhi Kebutuhan Rohani

Inti pandangan dunia Jawa terdiri atas pandangan bahwa di belakang gejala-gejala lahiriah terdapat kekuatan-kekuatan kosmis numinus sebagai realitas yang sebenarnya, dan bahwa realitas sebenarnya manusia adalah batinnya yang berakar dalam dunia numinus itu. Nampak pula bahwa keadaan itu hanya dapat tercapai apabila kita memiliki sikap batin yang tepat. Dengan pertanyaan tentang sikap batin yang tepat itu, tergambarkan ciri khas etika Jawa (Magnis Suseno 1993: 64).

Semboyan sebagai inti bersama usaha semua golongan kebatinan yakni: sêpi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana, yang dapat diterjemahkan sebagai menjadi bebas dari kepentingan sendiri, melakukan kewajiban-kewajibannya, memperindah dunia (Subagyo, 1973). Hal tersebut merupakan kategori tempat yang tepat sebagai titik acuan fundamental bagi pandangan-pandangan moral. Seseorang yang telah memiliki kematangan batin, tidak takut dan was-was lagi terhadap manunggalnya rohani pada keagungan Ilahi, yang ia resapkan sedalam-dalamnya dan ia jelmakan kembali dalam suasana sunyi sepi (Kamajaya, 1992: 123). Lalu ia simpan kembali dipusat terdalam dalam lubuk hati sanubari.

Pada dasarnya keempat sembah tersebut dapat dikatakan sebagai bentuk akulturasi kebudayaan. Ajaran tasawuf Islam mengalami transformasi dalam budaya Jawa. Mangkunegara IV sebagai pujangga berusaha untuk memasukkan unsur-unsur Islam lewat Serat Wedhatama. Dengan menggunakan metrum tembang macapat, maka ajaran sufisme Jawa yang mengandung nilai keislaman itu dapat diterima oleh masyarakat secara mengakar dan meluas. Syair-syair ajaran Serat Wedhatama merupakan bahan refleksi spiritual.

Pemikiran etik religius Mangkunegara IV pada dasarnya sesuai dengan konsep musyahadah Al Qusyairi yakni melihat Allah dengan mata hati, kelihatan kesesuaian antara keduanya. Secara teoritis konsep sembah atau panembah dikemukakan Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama (Ardani, 1995: 96). Konsep ini dikaitkan dengan kemuliaan budi luhur dan kehinaan budi jahat. Sembah dan budi luhur adalah dua hal yang menyatu, senafas dan saling berkait, dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat-dekatnya.

Sembah raga ialah menyembah Tuhan dengan mengutamakan gerak laku badaniah, atau amal perbuatan yang bersifat lahiriah. Cara bersucinya sama dengan sembahyang biasa, yaitu dengan mempergunakan air (wudlu). Sembah yang demikian biasa dikerjakan lima kali sehari semalam, dengan mengindahkan pedoman secara tepat tekun dan terus-menerus, seperti bait berikut:

Sembah raga puniku
pakartining wong amagang laku
sesucine asarana saking warih
kang wus lumrah limang wektu
wantu wataking wawaton.

Terjemahan :

Sembah raga adalah
Perbuatana orang yang sedang melakukan
Bersuci dengan air bening
Biasa disebut lima waktu
Saat yang sudah ditentukan

Sembah lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan terus menerus tiada henti seumur hidup, dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani. Watak suatu pedoman harus dipedomani (Hazim Amir, 1994: 71). Tanpa mempedomani syarat dan rukun, maka sembah itu tidak sah. Shalat lima waktu merupakan shalat fardlu yang wajib ditunaikan setiap muslim dengan memenuhi segala syarat dan rukunnya, wantu wataking wawaton.

Sembah raga yang demikian ini wajib ditunaikan terus-menerus tiada henti seumur hidup. Dengan keharusan memenuhi segala ketentuan syarat dan rukun yang wajib dipedomani. Bagi orang Jawa jalan menuju kehidupan sufisme dapat dilalui dengan cara Sembah Cipta. Sembah cipta kadang-kadang disebut kadang-kadang disebut juga dengan istilah sembah kalbu, seperti terungkap pada bait tembang gambuh sebagai berikut:

Samengko sembah kalbu
yen lumintu uga dadi laku
laku agung kang kagungan narapati
patitis teteking kawruh
meruhi marang kang momong

Terjemahan :

Sekarang sembah kalbu
Jika dibiasakan menjadi laku
Laku agung milik sang raja
Tepat sebagai sumber ilmu
Mengetahui kepada yang mengasuh

Apabila cipta mengandung arti gagasan, angan-angan, harapan atau keinginan yang tersimpan dalam hati, kalbu berarti hati, maka sembah cipta di sini mengandung arti sembah kalbu atau sembah hati, bukan sembah gagasan atau angan-angan. Apabila sembah raga menekankan penggunaan air untuk membasuh segala kotoran dan najis lahiriah, maka sembah kalbu menekankan pengekangan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan terjadinya berbagai pelanggaran dan dosa (sucine tanpa banyu, amung nyunyuda hardaning kalbu).

(Visited 224 times, 3 visits today)
Tag: , , Last modified: 18 Juli 2020

Selanjutnya »

Close