25.1 C
Yogyakarta
24 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Pandemi Covid-19: Dapatkah Berakhir?

Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19), adalah penyakit menular yang disebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-Cov-2). Pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan Cina. Kemudian sejak itu menyebar secara global. Menjadi pandemi yang terus berkelanjutan.

Di dalam pembukaan UUD 1945, alinea keempat pemerintah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Artinya yang paling terdepan dalam menanggulangi wabah Covid-19 adalah pemerintah. Di tengah-tengah kompleksitas permasalahan bangsa, terlihat bahwa manajemen dalam menghadapi Covid-19, tidak terkoordinasi dengan baik dan rapi, antara pusat dan daerah tidak selalu searah. Sebagai contoh misalnya tentang penerapan lockdown atau tidak saja berlarut-larut, menimbulkan keterlambatan sehingga penularan Covid -19 pun semakin merata dan luas. Pada akhirnya terminologi yang diputuskan adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kendati dalam prakteknya bandara dan terminal serta pasar tempat kerumunan masih saja beroperasi.

Pandemi Covid-19, bukan hal yang biasa-biasa, diperlukan kecermatan dan kehati-hatian yang tinggi. Nah, jika berpegang teguh pada pembukaan UUD 1945 di atas, maka prioritas yang harus dilakukan dalam perjungan menghadapi Covid-19 adalah penyelamatan warga. Tidak pada prioritas ekonomi, sementara warga terus menderita secara batin-psikologis, bahkan kehilangan nyawa.

Memutus Laju Covid-19

Secara logika sederhana, semua orang paham menyimpulkan bahwa untuk memutus mata rantai penyebaran, tindakan yang mesti diambil adalah tidak melakukan kontak antar manusia, pembatasan pisik (physical distancing). Vietnam termasuk salah satu negara yang dapat menangani Virus-19 dengan baik dan sampai saat ini dianggap berhasil. Vietnam lebih tanggap dan lebih awal melalukan antisipasi. Sementara negara lain terlena, bahkan terkesan mengabaikan, dan menganggap Covid-19 hal biasa saja. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Vietnam jelas dan terkoordinasi dengan baik. Sedari awal physical distancing telah diterapkan, berikutpengawasan dan denda pelanggarannya. Maskapai penerbangan ditangguhkan, wisatawan dilarang masuk dari negara yang memiliki banyak kasus Covid-19.

Akan halnya di Indonesia, soal data penyebaran dan kematian saja antara pusat dengan daerah tidak sama. Kemudian pada satu sisi physical distancing menjadi salah satu tindakan yang harus dilakukan, pada sisi yang lain justru di lapangan dalam berbagai bentuk acara ditengarai mengabaikan rambu-rambu protokol penyebaran Covid-19.

Berdasarkan data tentang jumlah kasus Covid-19 yang diperkirakan untuk DKI saja oleh Gubernur Anies Baswedan mencapai 40 ribu – 80 ribu kasus, lenih tinggi dari yang diumumkan pemerintah, maka sepertinya pandemi Covid-19 pesimis dapat berhenti dalam waktu singkat ke depan. Baru-baru ini sebuah Rumah Sakit di Banjarmasin memberi warning (peringatan) kepada publik, bahwa terjadi peningkatan kasus di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Pada awalnya yang masuk dalam perawatan Rumah Sakit 2 sampai 3 orang per hari. Kini melonjak menjadi 10-15 orang per hari. Selama ini yang diketahui publik sesuai pengumuman resmi Gugus Tugas hanya 300 orang yang terdeteksi positif. Akan tetapi justru di luar (tidak masuk yang dirawat di Rumah Sakit) mencapai 1.500-2.000 kasus Covid-19. Tidak dijelaskan cara dan standar yang digunakan, untuk memastikan seseorang status seseorang tersebut. Yang pasti rumah sakit mulai kewalahan, baik tenaga medisnya maupun fasilitas tempat yang terbatas dan penuh.

Perketat Pengawasan

Protokol penanganan Covid-19 harus dijalankan secara ketat dan serius. Dimulai dari jajaran pemerintah pusat sampai ke daerah. Justru keteladanan untuk mematuhi protokol harus datang dan dimulai oleh pemangku kekuasaan (pemerintah). Sebab, apa pun alasannya masih saja ditengarai terjadinya pelanggaran protokol penanganan Covid-19.

Kenyataan Covid-19 masih terus menyebar dan cenderung naik serta meluas. Hal ini karena ketidakdispilinan dalam mejalankan protokol yang ditentukan. Masyarakat harus betul-betul menjaga kedisplinan: memakai masker, jaga jarak, sering cuci tangan dengan air yang mengalir. Tidak keluar rumah, terkecuali penting dan mendesak!

Peraturan yang dibuat dilanggar sendiri, bahkan sampai pada level kenegaraan, seperti konser amal misalnya yang dilaksanakan baru-baru ini di tengah-tengah pengorbanan rakyat dan yang sedang berhadapan dengan berbagai masalah. Sungguh menyajian yang memprihatinkan, bahkan dapat menimbulkan ketidakpercayaan banyak orang terhadap keberhasilan penanganan Covid-19. Adakah berkolerasi positif perilaku yang demikian dari salah satu ciri manusia Indonesia yang oleh Mochtar Lubis (1977) menyebutnya sebagai sikap yang hipokrit alias munafik?

Hal yang perlu dilakukan untuk mengerem dan menyetop penyebaran Covid-19 hemat saya: Pertama, pilihan bijak dan konstitusional sepatutnya mengutamakan kesalamatan jiwa dan ketenangan rakyat daripada kepentingan ekonomi. Kedua, peraturan yang telah dibuat dan diputuskan hendaknya dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Keteladanan dalam pelaksanaan ada pada pemangku kekuasaan. Ketiga, pengetatan protokol Covid-19 mesti diterapkan sampai pada sanksi sesuai derajat pelanggaran yang dilakukan.

Keempat, hendaknya sinkroniasi dan koordinasi mesti dipelihara dan ditingkatkan. Selama ini, sepertinya antara pusat dan daerah sering tak sejalan. Kondiri rill lapangan orang daerahlah yang paling paham, kewenangan pun dapat diberikan secara luas. Kita tidak dapat memprediksi kapan berakhirnya wabah penyebaran Covid-19 ini. Akan tetapi ketika semua bekerja dan sadar serta disiplin dalam menjalani protokol, titik terang pun akan terlihat. Vietnam sebagai negara yang cukup lama dilanda peperangan dan tergolong baru bangkit, telah membuktikannya: BISA!

Peter F Drucker yang dikenal sebagai guru manajemen kesohor kelas dunia, berpedapat bahwa sesungguhnya tidak ada negara yang miskin dan terbelakang, yang ada adalah negara-negara yang tidak terkelola (unmanaged) dengan baik. Nah, sama saja bahwa tidak ada negara yang tak dapat menanggulangi Covid-19 dengan sukses, yang ada adalah ketidakmampuan mengelolanya dengan baik. Wallahu’alam.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA