Ditulis oleh 12:46 pm KALAM

Pedoman Aktivitas Insan Rabbani

Pilihan ada pada diri kita, mau beriman atau tidak beriman, mau jalan taqwa atau fujur.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ma’asyiral Muslimiin Rohimakumullah
Bulan Ramadhan telah 44 hari meninggalkan kita. Pertanyaannya, masihkan kita sebagai insan Rabbani, atau sudah migrasi menjadi insan Ramadhani. Insan Rabbani adalah insan yang selalu dekat dengan Rabbnya setiap saat, sedang insan Ramadhani adalah insan yang dekat dengan Rabnya hanya pada bulan Ramadhan. Selepas itu jauh dari Rabbnya, bahkan berusaha untuk menghilangkan Rabbnya dalam aktivitas sehari-hari.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!
Kunci agar selalu dekat dengan Rabbnya (Alah SWT) adalah bahwa aktivitas kita setiap saat harus selalu didahului dengan berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana dituntunkan dalam QS Al Baqarah: 3:

(yaitu) mereka yang beriman [1] kepada yang ghaib [2], yang mendirikan shalat [3], dan menafkahkan sebahagian rezki [4] yang Kami anugerahkan kepada mereka.

[1] Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Iman yang sejati ialah keyakinan penuh (al-Yaqinu kulluh) yang terhunjam di dalam hati, dengan tidak ada perasaan ragu, serta mempengaruhi arah dan orientasi kehidupan, sikap dan aktifitas keseharian. Iman adalah perpaduan antara amalan hati, amalan lisan dan amalan anggota tubuh. Iman tidak sekedar amal perbuatan, dan tidak pula sebatas pengetahuan tentang arkanul iman. Iman adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta menegakkan syariat-Nya di muka bumi ini.

Iman tidak sekedar ucapan lisan seseorang yang memberikan pengakuan dirinya bahwa ia orang beriman. Sebab orang munafik pun dengan lisannya memproklamirkan hal yang sama, namun hatinya mengingkari apa yang diucapkan.

Iman juga bukan sebatas amal perbuatan yang secara lahiriyah tampak merupakan karakteristik orang-orang beriman. Sebab orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara lahiriyah/sekilas terlihat mengerjakan amal ibadah dan berbuat baik, sementara hati mereka kontradiktif dengan perbuatan lainnya, apa yang dilakukannya tidak dimotivasi oleh ketulusan niat untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Lain di mulut lain pula di hati.

Bahkan sekarang ini, ada kategori negara maju dan negara berkembang. Ukuran kemajuan ditentukan dari standar yang sempit, yaitu asesoris lahiriyah. Bukan kemajuan yang diukur dari kualitas ruhani. Lihatlah bangsa-bangsa yang mengaku beradab tapi pada prakteknya aberadab, bahkan dengan bangga mengaku sekuler. Ini berarti memprokalmirkan diri tidak mengikutsertakan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap aktivitasnya, baik bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Padahal manusia yng menafikkan Allah dalam aktivitasnya, melahirkan kehidupan yang jauh dari bimbingan Allah SWT.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (QS An Nisa: 142).

Oleh karena itu, ciri orang-orang beriman memandang bahwa ketetapan Allah dinomor satukan, jika dihadapkan beberapa pilihan. Tanpa ada rasa keberatan, pura-pura dan pamrih. Jumhur Ulama mengatakan, “Iman adalah membenarkan di dalam hati (at Tashdiqu bil qalbi), diucapkan dengan lisan (qaulun billisan), dan dibuktikan dengan amal anggota tubuh (amalun bil arkan wal jawarih). Jadi iman itu refleksi Refleksi Hati, Ucapan dan Sikap/Perbuatan.

[2] Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Syekh al-Thahir bin ‘Asyur mendefinisikan ghaib yaitu ma la yudriku al-hiss, sesuatu yang tidak dapat diakses/ditangkap pancaindera. Tidak bisa dilihat, diraba/dipegang, dirasakan, dicium, dan didengar. Tapi eksistensinya ada. Percaya kepada yang ghaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

Kandungan Surat Al Baqarah Ayat 3 ini menerangkan bahwa manusia terbagi atas dua golongan. Pertama adalah mereka yang hanya mempercayai hal nyata namun tidak mempercayai atau tidak mengakui adanya sesuatu dibalik kenyataan itu. Orang-orang yang seperti itu, biasanya tidak mempercayai adanya Tuhan, malaikat, kiamat, akhirat, dan lain-lain. Kedua adalah orang yang mempercayai adanya hal yang nyata dan ghaib.

[3] Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. menurut istilah syara’ ialah ibadah yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

[4] Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

Inilah pondasi atau dasar orang beriman, beriman pada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki kepada orang lain. Setelah pondasi terbentuk, maka perintah shalat dalam Al Qur’an tidak didahului dengan beriman kepada yang ghaib, tetapi langsung perintah shalat dan diikuti dengan perintah menafkahkan sebagian rezki. Misalnya, Surat Al Anfaal: 3:

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Kemudian Surat Al Fathir 29:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

Kemudian Surat Ibrahim 31:
Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman! Hendaklah mereka mendirikan sembahyang, menginfakkan sebahagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terang sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.

Dan masih banyak lagi ayat semacam ini yang jumlahnya dalam Al qur’an 30an lebih. Di dalam Al Qur’an teks perintahnya shalat (habluminallah) dan menafkahkan sebagian rezki (habluminannas). Secara hakikat/kontekstualnya adalah berdoa kepada Allah (habluminallah) dan setelah itu kemudian berbagi (habluminannas). Berdoa apa saja yang kita minta, secara khusus sudah ada tuntunannya dalam shalat.

Secara umum, kalau memulai beraktivitas didahului dengan baca basmalah/tasmiah (kucuali masuk toilet), baru dilanjutkan aktivitas untuk berbagi. Berbagi apa? Apa saja yang bisa kita bagikan. Dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka bisa bagi-bagi rezeki/rasa kemanusiaan (Sila ke-2), bagi-bagi ketenangan/rasa persatuan (Sila ke-3)/rasa keadilan (Sila ke-5), dan bagi-bagi tugas/perwakilan (Sila ke-4). Yang kemudian oleh pendahulu kita/pendiri bangsa (founding fathers) disebut Pancasila.

Jadi, untuk melaksanakan Sila ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 harus didahului dengan pelaksanaan Sila ke-1. Atau dengan kata lain, Sila ke-1 menjiwai/menggerakkan Sila-Silla berikutnya dalam Pancasila, yang dalam bahas PMP/PSPB Sila ke-1 sebagai Prima Causa. Prima causa adalah sebuah kalimat bahasa Latin yang berarti penyebab atau faktor utama tanpa diawali oleh faktor lain. Prima artinya pertama atau yang utama, causa artinya penyebab atau faktor dari sesuatu (QS 112: 1-4):

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Jika kita bisa melaksanakan Pancasila dengan benar maka barakah Allah dari langit dan bumi akan dibuka seluas-luasnya. Barakah itu bisa berupa rasa aman, tenteram, tenang, rukun, bersatu, bahagia berkeadilan dengan sumber daya alam yang melimpah (gemah ripah loh jinawi). Akhirnya masyarakatnya makmur, semuanya berebut ingin memberi, memberi yang terbaik yang bisa diberikan.

Sementara jika kita tidak bisa melaksanakan dengan benar, misalnya berbagi bukan karena Allah tapi ada nafsu tertentu, berbuat adil bukan karena Allah, bekerja sama bukan karena Allah, ingin menguasai, ingin memiliki, suka tidak jujur/berbohong dsb. Sifat tersebut berlawanan dengan ayat-ayat Allah di atas. Oleh karena itu yang muncul bukan barakah Allah melainkan adalah kegelisahan, ketidaknyamanan, ketidaktenangan, keretakan dalam berkomunikasi, menipisnya rasa peratuan, kesusahan, keserakahan, yang bisa jadi berujung pada perpecahan. Dan ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.

Orang yang biasa tidak jujur, misalnya, energinya habis untuk menutupi ketidakjujurannya. Karena setiap berbuat bohong itu takut ketahuan, harus berbuat bohong lagi untuk menutupi kebohongan yang pertama. Nah, kebohongan yang tadi harus ditutupi dengan kebohongan lain, demikian seterusnya. Jadi, ndak kerja orang tersebut. Kerjanya hanya membuat kebohongan baru, habis waktunya. Habis energinya tak tersisa. Dan dia tidak akan pernah nyaman dalam hidupnya.

Kalau dirinya sudah tidak nyaman maka wajahnya tidak nyaman dilihat, omongannya tidak nyaman didengar, tulisannya tidak nyaman dibaca, dan keputusannya pasti tidak akan adil. Karena ketidakjujuran tidak akan menghasilkan kebaikan. Dan ini adalah bentuk siksaan Allah di dunia. Belum nanti di akhirat, sudah jelas menanti.

Firman Allah:
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS 7: Al A’raaf: 96).

Pilihan ada pada diri kita, mau beriman atau tidak beriman, mau jalan taqwa atau fujur. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang beriman dan bertaqwa, mampu mengawali aktivitas kita dengan berdoa kepada Allah sehingga mengakhiri setiap aktivitas dengan husnul khotimah. Dan itulah ciri insan Rabbani. Kuncinya adalah Man jadda wa jada siapa yang sungguh-sungguh pasti bershasil, Man shabaru zafira, siapa yang bersabar pasti beruntung, Man yazro’ yahsud, siapa menanam pasti menuai.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Visited 79 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 6 Juli 2020
Close