Ditulis oleh 3:59 pm COVID-19

Pemahaman Kosmologis Atas Pageblug Wabah Corona

Orang Jawa menyebut wabah yang menular dengan istilah pageblug mayangkara. Segala daya upaya diusahakan demi keselamatan.

A. Lintasan Pageblug Mayangkara

Orang Jawa menyebut wabah yang menular dengan istilah pageblug mayangkara. Esuk lara, sore mati. Sore sambat, esuk padha layat. Segala daya upaya diusahakan demi keselamatan. Lantas muncul gagasan dilakukan upacara tolak balak.

Pada jaman Ajisaka datang dari negeri Hindustan, tanah Jawa sedang dirundung masalah. Prabu Dewata Cengkar menaburkan bledug asin yang dapat mengganggu kesadaran manusia. Siapa saja yang menghirup bledug asin, pikiran jadi berubah total. Bledug asin ditujukan pada anak muda berdaging segar. Untuk jatah pasokan makan buat Prabu Dewata Cengkar di kerajaan Medang Kamulan. Masyarakat mendapat teros hebat. Korban berjatuhan. Ajisaka turun tangan untuk memberi pertolongan. Dia menjalankan tapa ngrame. Yaitu tetulung marang sesamaning ngaurip.

Wajah Ajisaka memang rupawan. Bebesan sugih rupa kurang candra. Artinya cakap cakep cukup. Tampan sekali. Ajisaka sowan di Sitihinggil Istana Medang Kamulan. Dia menyerahkan diri untuk dijadikan mangsa. Alangkah suka gembira Prabu Dewata Cengkar mendapat jatah daging manusia muda. Lezat sekali rasanya. Ajisaka mengajukan usul. Dia sukarela dimakan mentahan, asal Prabu Dewata Cengkar menggelar ikat kepala udheng. Usul yang gampang. Prabu Dewata Cengkar sanggup sambil ngguyu ngakak. Udheng milik Ajisaka digelar. Gulungan udheng malah meluas. Jalannya Prabu Dewata Cengkar dari arah Grobogan menuju samudra kidul. Tepat di pantai Bekah, kakinya tertangkap bajul putih. Prabu Dewata Cengkar tenggelam di Pantai Bekah yang gawat kaliwat liwat, angker kepati pati.

Baca juga: Memahami Metafisika Lintang Kemukus

Negeri Medang Kamulan kembali aman damai. Raja raksasa telah sirna. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Angkara murka Prabu Dewata Cengkar hilang dari muka bumi. Ajisaka mengajak warga Medang untuk melakukan tata cara tolak balak. Dengan tujuan supaya wabah bledug asin segera menyingkir. Upacara dipimpin oleh abdi kinasih, Dora Sembada. Berkat jasanya yang besar itu, seluruh warga menobatkan Ajisaka sebagai raja di Medang Kamulan. Sejak ini berlaku kalender tahun saka. Masyarakat mulai belajar ha na ca ra ka atau aksara Jawa.

Kerajaan Medang Kamulan terletak di daerah Purwodadi Grobogan. Prabu Ajisaka membangun peradaban yang menguntungkan. Sungai Serang yang berhulu dari gunung Merbabu dijadikan lalulintas barang jasa. Masyarakat Semarang, Magelang, Salatiga, Boyolali, Sragen bisa berlayar lewat Kali Serang. Sedang warga Rembang, Tuban, Bojonegoro, Blora naik perahu lewat Kali Lusi. Dua sungai bertemu di Grobogan. Lalu mengalir melintasi Kudus, Demak dan Jepara. Kesengsaraan wabah bledug asin diubah Prabu Ajisaka menjadi kemakmuran. Sumber pageblug disulap menjadi sumber energi. Sekarang tempat itu dinamakan daerah Bledug Kuwu. Daerah ini merupakan penghasil garam unggulan. Kerajaan Medang Kamulan berhasil menjadi negara yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

B. Penanganan Wabah Klothok

Wabah Klothok berupa bau banger yang bisa bikin kepala klenger. Bau banger yang menusuk hidung ini sungguh berbahaya. Orang bisa pingsan dalam tempo yang tidak terlalu lama. Napas orang jadi sesak. Berlanjut dengan kematian. Amat mengerikan. Kehing pepati pindha babatan pancing.

Penyebaran wabah Klothok meliputi daerah Blitar, Tulungagung Trenggalek, Kediri dan Kertosono. Daerah termasuk wilayah kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro. Rajanya bernama Sinuwun Prabu Jayakatwang. Sang Prabu berusaha sekuat tenaga, agar bencana segera sirna. Para sarjana winasis diajak rembugan. Pujangga kerajaan siang malam melakukan pembicaraan. Semua sepakat untuk mengundang Sunan Bonang dari Kadipaten Tuban. Beliau punya daya linuwih untuk melakukan ritual tolak balak. Demi ketentraman negeri Kediri, agar selamat sentosa, nir bita, nir baya, nir sambikala.

Kanjeng Sunan Bonang memenuhi undangan Prabu Jayakatwang. Ikut serta dua murid kesayangan. Yakni Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Meskipun ada perbedaan keyakinan makrifat, saat ini semua ulama bersatu. Wabah Klothok cepat cepat diatasi. Dari pengamatan Sunan Bonang, wabah bersumber dari kaki gunung Kelud. Ternyata Buta Locaya yang menguasai makhluk halus menyebar wabah Klothok. Atas permintaan gerombolan ilmu hitam. Mereka ingin membuat kekacauan di kerajaan Kediri. Dengan maksud berkuasa atas tanah Jawa. Tiap malam Rabo Pon mereka lek lekan di petilasan Empu Gandring. Daya tuanya bisa untuk membuat onar. Motif mereka untuk njungkeng kawibawan.

Gerombolan ilmu hitam yang memuja Buta Locaya dihadapi dengan laku spiritual. Bersama dengan para santri, Sunan Bonang mengumandangkan syair syair kidungan. Gunanya untuk membendung menjalarnya pageblug mayangkara. Virus Klothok secara kosmologis saat mantri sakti dibaca. Kanjeng Sunan Kalijaga diberi mandat untuk membaca kidungan. Suasana tintrim heneng hening penuh daya magis. Kukusing dupa kumelun, sumundhul ing ngawiyat. Sunan Kalijaga sedhakep saluku tunggal, hamepet babahan hawa sanga, sajuga kang sinidhikara.

Dhandhanggula. Ana kidung rumeksa ing wengi. Teguh hayu luputa ing lara. Luputa bilahi kabeh. Jim setan datan purun. Paneluhan tan ana wani. Miwah panggawe ala. Gunane wong luput. Geni atemahan tirta. Maling adoh tan ana ngarah mring mami. Guna duduk pan sirna.

Pembacaan itu dilakukan di hadapan Prabu Jayakatwang beserta punggawa Istana Dahono Puro. Dilanjutkan di Grobogan Sedudo lereng gunung Wilis. Terus di Pelataran candi penataran Blitar. Kaki gunung Kelud dilaksanakan baca kidung bersama murid petilasan Dewi Kilisuci. Terakhir di bukit Mantun. Di sinilah virus Klothok boleh dibilang hilang. Lenyapnya wabah Klothok dibukit Mantun perlu diabadikan. Atas restu Prabu Jayakatwang gunung Mantun diubah namanya menjadi Gunung Klothok. Sejak itu kawasan Kediri terbebas dari mara bahaya. Prabu Jayakatwang mengajak Kanjeng Sunan Bonang untuk merayakan syukuran. Alhamdulillah, rakyat kembali hidup normal. Petani pergi ke sawah, bakul berdagang di pasar. Subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.

C. Upacara Tolak Balak Corona

Pada tanggal 19 Maret 2020 diadakan upacara tolak balak corona. Diselenggarakan oleh Paguyuban Pametri Rahayu atau PPR. Lembaga budaya ini dipimpin Mas Ayu Tumenggung Sukinah Puspaningtyas. Beliau pemilik sanggar seni srandhul di Gantiwarno Klaten. Juga aktif sebagai juru rias manten. Namanya semakin berpengaruh, setelah suwita menjadi abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.

Baca juga: Pageblug: Perlawanan Alam Atas Keserakahan Manusia

Tempat upacara ini di kawasan candi Prambanan. Jumlah personil sekitar 7 orang. Berbusana Jawa lengkap. Berjalan dari regol menuju kali Opak. Bagian depan berjalan sambil menabur bunga piton. Piton berasal dari kata pitu, yang berarti pitulungan. Sedang kukus dupa yang berhembus ke atas, bermakna nenuwun kepada Tuhan. Inilah tata cara Kejawen warisan para leluhur.

Japa mantra kinarya palupi. Tinedhakan saking serat kekidungan. Minangka tulak sarike. Angalap berkahipun. Kanjeng Nabi lan para Wali. Poma sagung kang maca. Den samya tuwajuh. Lahir batin sedyanira. Ing pangajab pikantuk ganjaran becik. Nugrahaning Pangeran.

Tembang dhandhanggula itu dilantunkan sambil berjalan bergantian. Di bawah jembatan Kali Opak yang berair bening, upacara dilanjutkan dengan ngobong dupa. Kembang dilarung di aliran Kali opak. Kanan kiri serba bersih. Tak tampak sedikit pun sampah. Air gemericik. Dari perspektif kosmologis, menjadi tanda doa kabul. Kira kira satu jam kemudian, upacara tolak balak corona berakhir. Angin berhembus dari arah candi Prambanan. Dhedhep tidhem premanem. Tan ana sabawane. Walang alisik, gegodhongan tan ana obah.

(Visited 260 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 11 Mei 2020
Close