23.4 C
Yogyakarta
2 Agustus 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Pembahasan Buku: Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik, Perspektif Sunnah Nabi

Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA
Guru Besar UGM

(1)
Dalam literatur sosiologi dibedakan pengertian metodologi dan metode. Metodologi adalah ilmu yang mengandung pendekatan (approach) yang dipergunakan untuk membuat eksplanasi atau menjelaskan tentang keberadaan (eksistensi) suatu fenomena sosial. Eksplanasi tersebut sedikitnya mencakup: (a) seperti apa gejalanya, (b) bagaimana proses terjadinya dan (c) mengapa terjadi atau faktor-faktor indogin maupun eksogin yang determinan menentukannya. Metodologi berkembang beragaam, mengikut tradisi pikir fungsionalisme, interaksionisme, critical theory, critical discourse analysis, social constructivism, post-structuralism, post-modernism, post-truth dan lain-lain. Karena itu dalam sosiologi, metodologi tersebut tidak hanya beragam tetapi juga bersifat dinamis, mengikuti perkembangan teori-teori sosiologi yang semakin kompleks. Sementara itu, metode adalah prosedur atau cara yang diderivasi dari metodologi. Medologi yang berbeda melahirkan metode yang berbeda pula. Dalam literatur sosiologi, kata metode acapkali dipakai silih berganti dengan teknik, teknik mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data yang kelak menjadi landasan membangun knowledge (pengetahuan).

(2)
Prof. Dr. Musa Asy’arie tampak yakin sekali bahwa semua fenomena hidup dan kehidupan ini dapat dipahami dengan perspektif Sunnah Nabi. Saya kira sebagai pemeluk Islam akan sepakat dengan keyakinan tersebut. Sunnah Nabi juga petunjuk yang datang dari Allah swt, dan Sunnah Nabi yang tergolong sahih memiliki derajad tinggi seperti pesan yang terkandung dalam surat-surat Al Quran. Sunnah Nabi yang tergolong sahih memiliki kkekuatan mengikat, karena setiap pemeluk Islam harus tunduk kepadanya. Lalu dimanakah persoalannya? Menurut hemat saya persoalannya bukan pada menyepakati teks- teks yang telah dirajut menjadi doktrin tersebut. Tetapi lebih pada masalah pemahaman terhadap teks-teks tersebut. Dalam kehidupan nyata pemahaman tersebut beragam. Keragaman ini menunjukkan bahwa sebuah pemahaman tidaklah berada pada ruang hampa (vacuum). Pemahaman memiliki konteks maksudnya konteks yang berbeda melahirkan pemahaman yang berbeda pula.

Dalam upaya menciptakan peradaban yang Islami kelompok-kelompok dan organisasi keagamaan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar (al`amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar), atau perintah untuk menganjurkan kebaikan dan mencegah keburukan.

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Luqman:17).

Hendaklah kamu beramar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik- baik di antara kamu berdo’a dan tidak dikabulkan (do’a mereka). (HR. Abu Dzar)

Dalam kehidupan nyata ekspresi kegiatan melakukan amar ma’ruf nahi munkar tersebut beragam akibat dari referensi atau framing yang berbeda. Ekspresi kegiatan sebagian kalangan dikategorikan moderat, mengedepankan amar ma’ruf, dan lebih banyak melakukan edukasi dan keteladanan. Sementara itu sebagian kalangan yang lain dikategorikan “radikal”, mengedepankan nahi mungkar, atau menciptakan perubahan yang agak fundamental. Kalangan ini mengingatkan bahwa peradaban dunia pada saat ini dikuasai human’ rules, secular order. Peradaban dunia diwarnai eksploitasi dan penindasan, karena itu setiap kegiatan dakwah harus mampu mengganti human’s rules menjadi God’ rules. Asumsi dasar semacam itu bagi mereka boleh jadi juga dikategorikan sebagai metodologi berpikir profetik dan terdapat rujukan dalil Sunnah Nabi juga. Metodologi berpikir profetik semacam itu ditengarai masih terpelihara, bahkan tidak mustahil memperoleh bentuk-bentuk baru yang semakin kompleks, kendatipun memperoleh tantangan keras dari kelompok-kelompok atau organisasi yang tergolong moderat.

(3)
Dalam paparan di atas ditunjukkan sedikitnya terdapat empat premis yang harus dipenuhi ketika membahas masalah metodologi perpikir profetik dalam perspektif Sunnah Nabi. Pertama, memiliki konteks, bisa konteks melakukan perubahan sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan sebagainya. Dalam paparan di atas dicontohkan konteks melakukan perubahan sosial (pengetahuan, kesadaran, sikap dan tindakan) menjadi lebih Islami. Kedua, menegaskan Sunnah Nabi yang diletakkan sebagai referensi dalam melakukan perubahan sosial tersebut. Barangkali ini yang dikategorikan Prof Musa Asy’arie sebagai perspektif. Dalam paparan di atas dicontohkan firman Allah swt Luqman:17 dan HR. Abu Dzar, yang bagi pemeluk Islam diyakini sebagai kebenaran mutlak, karena itu lalu menolak perspektif lain yang berkembang dari peradaban lain (non-Islam, kafir).

Ketiga, perspektif sebagaimana dinyatakan dalam Luqman:17 dan HR. Abu Dzar tersebut diderivasi pemeluk Islam menjadi metodologi yang dikemas dalam bentuk pendekatan (approach) dan prinsip-prinsip yang melandasi gerakan melakukan perubahan sosial (pengetahuan, kesadaran, sikap dan tindakan) menjadi lebih Islami. Jargon gerakan tersebut “amar ma’ruf nahi munkar”. Gerakan tersebut terutama dilakukan oleh kelompok-kelompok atau organisasi keagamaan, dengan berbagai ragam leaderships dan pola relasi kuasa antara religious elites dan massa. Keempat, metode yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok dan organisasi keagamaan tersebut di satu sisi memberi tekanan pada amar ma’ruf, dan di sisi yang lain memberi tekanan pada nahi munkar. Pilihan tersebut bisa dilegitimasi oleh kepentingan ekonomi dan politik.

Kelompok-kelompok dan organisasi keagamaan yang mengedapankan atau memberi tekanan pada amar ma’ruf pada umumnya bersifat moderat, toleran, dan percaya bahwa perubahan sosial (pengetahuan, kesadaran, sikap dan tindakan) tersebut dapat dilakukan secara gradual. Seperti telah disampaikan dalam uraian terdahulu tema besar mereka adalah edukasi dan keteladanan. Sementara itu kelompok-kelompok dan organisasi keagamaan yang mengedepankan nahi munkar pada umumnya bersifat radikal, “hitam-putih”, karena beranggapan bahwa perubahan sosial tersebut kurang memperoleh hasil optimal manakala dilakukan secara gradual (***).


Tulisan ini merupakan bahan diskusi buku berjudul Rekonstruksi Metodologi Berpikir Profetik Perspektif Sunnah Nabi, karya Prof. Dr. Musa Asy’arie Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang diselenggarakan paa Jum’at, 19 Juli 2019, di Sekretariat Yayasan AR. Baswedan.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA