Pembatasan Jarak dan COVID-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pembatasan jarak sosial haruslah dilakukan dengan sangat ketat oleh karena tampaknya hal tersebut sangat terkait dengan kemungkinan yang lebih rendah untuk terkena infeksi virus corona.

Penggunaan transportasi umum, mengunjungi tempat yang penuh orang, atau hanya bepergian keluar rumah kini telah dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan untuk dinyatakan positif terkena virus corona SARS-CoV-2. Sementara itu, pembatasan jarak sosial yang ketat telah dikaitkan dengan menurunnya kemungkinan untuk terkena virus corona. Kedua hal tersebut kini tengah menjadi studi dari para peneliti di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg.

Untuk analisis mereka, para peneliti mensurvei sampel acak lebih dari 1.000 orang di negara bagian Maryland pada akhir Jun. Peneliti menanyakan tentang praktik pembatasan jarak sosial, penggunaan transportasi umum, riwayat infeksi SARS-CoV-2, dan berbagai pertanyaan berhubungan dengan COVID-19 lainnya.

Dalam studi tersebut ditemukan bahwa mereka yang mengatakan sering menggunakan transportasi umum, memiliki kemungkinan 4 kali lebih besar untuk juga melaporkan riwayat tes positif infeksi virus corona. Sementara untuk mereka yang mempraktikkan pembatasan jarak sosial di luar rumah yang ketat memiliki peluang sepersepuluh untuk melaporkan pernah positif virus corona.

Studi ini diyakini merupakan suatu evaluasi skala besar pertama dari berbagai macam perilaku terkait dengan COVID-19 yang didasarkan pada data survei tingkat individu, dan bukanlah data agregat dari sumber seperti aplikasi pada ponsel. Hasil dari studi tersebut dipublikasikan secara online pada 2 September di Clinical Infectious Diseases.

Sunil Solomon, MBBS, PhD, MPH., seorang profesor di Departemen Epidemiologi Sekolah Bloomberg dan seorang profesor kedokteran di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins yang merupakan penulis senior dari studi mengatakan bahwa temuan mereka mendukung gagasan bahwa jika seseorang pergi keluar rumah mereka, maka praktik pembatasan jarak sosial haruslah dilakukan dengan sangat ketat oleh karena tampaknya hal tersebut sangat terkait dengan kemungkinan yang lebih rendah untuk terkena infeksi virus corona.

Studi semacam ini juga relatif mudah dilakukan, sehingga menurut Solomon dan rekan-rekannya studi tersebut dapat berpotensi menjadi suatu alat yang berguna untuk mengidentifikasi tempat atau subkelompok populasi dengan tingkat kerentanan terhadap virus corona yang lebih tinggi.

Virus corona, SARS-CoV-2, atau COVID-19 kini telah menginfeksi hampir 30 juta orang di seluruh dunia, di mana 900.000 lebih di antaranya telah meninggal berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan tidak adanya vaksin sampai sekarang, banyak otoritas kesehatan masyarakat telah menekankan praktik-praktik seperti tinggal di rumah, memakai masker serta pembatasan jarak sosial saat berada lingkungan umum. Namun hingga kini, belum ada cara yang baik untuk memantau apakah, serta di kelompok masyarakat mana, praktik semacam itu dilakukan secara baik.

Solomon dan rekan-rekannya, termasuk penulis pertama Steven Clipman, Ph.D. kandidat di Departemen Kesehatan Internasional Sekolah Bloomberg, secara cepat mengakses para relawan survei melalui perusahaan yang di dalamnya terdapat kumpulan besar orang-orang yang berpotensial sebagai layanan komersial untuk riset pasar. 1.030 orang yang termasuk dalam penelitian ini semuanya tinggal di Maryland, yang kini terus mengalami peningkatan jumlah kasus yang terinfeksi COVID-19 dan juga mereka yang meninggal karenanya, menurut Departemen Kesehatan Maryland.

Para peneliti mengajukan pertanyaan kepada para relawan survei tentang perjalanan mereka di luar rumah baru-baru ini, penggunaan masker, pembatasan jarak sosial dan praktik yang terkait, serta infeksi COVID-19 yang telah dikonfirmasi baik yang baru-baru ini atau yang telah sejak lama.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa 55 (5,3 persen) dari 1.030 peserta telah dites positif terinfeksi COVID-19 setiap waktunya, sementara 18 (1,7 persen) melaporkan hasil tes positif dalam dua minggu sebelum mereka disurvei.

Para peneliti menemukan bahwa ketika mempertimbangkan semua variabel yang dapat mereka evaluasi, bahwa menghabiskan lebih banyak waktu di tempat umum terkait dengan memiliki riwayat infeksi COVID-19. Sebagai contoh, riwayat infeksi sekitar 4,3 kali lebih umum di antara para relawan yang menyatakan bahwa mereka telah menggunakan transportasi umum lebih dari tiga kali dalam dua minggu sebelumnya, dibandingkan dengan mereka yang menyatakan tidak pernah menggunakan transportasi umum selama dua minggu tersebut.

Riwayat infeksi juga 16 kali lebih umum di antara mereka yang mengatakan mereka pernah mengunjungi tempat seperti tempat ibadah tiga kali atau lebih dalam dua minggu sebelumnya, dibandingkan dengan mereka yang melaporkan tidak mengunjungi tempat ibadah selama periode tersebut. Dalam survei tersebut tidak dibedakan antara mereka yang mengunjungi tempat ibadah untuk beribadah atau untuk tujuan lain, seperti pertemuan dan kegiatan lainnya.

Sebaliknya, bagi mereka yang mengatakan mempraktikkan pembatasan jarak sosial di luar ruangan “selalu” hanya 10 persen lebih mungkin untuk memiliki riwayat COVID-19, dibandingkan dengan mereka yang melaporkan “tidak pernah” melakukan pembatasan jarak sosial.

Analisis awal yang relatif sederhana menghubungkan banyak variabel lain dengan riwayat infeksi COVID-19, termasuk apakah mereka merupakan orang berkulit hitam atau Hispanik. Tetapi analisis yang lebih canggih dan “multivariabel” menunjukkan bahwa banyak dari hubungan yang tampak ini sebagian besar disebabkan oleh perbedaan dalam pergerakan mereka dan pembatasan jarak sosial.

Clipman mengatakan bahwa ketika mereka menyesuaikan variabel praktik pembatasan jarak sosial, banyak dari variable-variable sederhana lainnya hilang, yang memberikan bukti bahwa pembatas jarak sosial merupakan ukuran efektif untuk mengurangi penularan COVID-19.

Data menunjukkan bahwa melakukan praktik pembatasan jarak sosial yang lebih besar dan ketat di antara beberapa kelompok yang sangat rentan terhadap COVID-19, menunjukkan bahwa mereka relatif sadar akan kerentanan mereka. Sebagai contohnya 81 persen dari peserta di atas 65 tahun dilaporkan selalu melakukan pelatihan pembatasan jarak sosial saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Sementara itu hanya 58 persen peserta dengan usia 18-24 tahun yang melakukan kegiatan tersebut.

Hasil-hasil dari survei studi ini konsisten dengan pesan kesehatan untuk masyarakat umum, bahwa pemakaian masker, pembatasan jarak sosial, dan membatasi perjalanan bila memungkinkan, mengurangi penyebaran virus corona. Namun, para peneliti menyarankan bahwa studi tersebuti, yang menggunakan survei cepat yang serupa terhadap kelompok sasaran tertentu, juga dapat menjadi alat yang berguna untuk memprediksi di mana dan di antara kelompok masyarakat mana virus tersebut menular dan menyebar paling cepat.

Solomon mengatakan bahwa dirinya beserta rekan-rekannya melakukan penelitian tersebut di Maryland pada bulan Juni, dan penelitian tersebut menunjukkan antara lain bahwa mereka yang lebih muda di negara bagian tersebut cenderung tidak melakukan pembatasan jarak sosial secara baik, dan sebulan kemudian sebagian besar infeksi COVID-19 yang terdeteksi di Maryland datang dari kalangan muda.

Hal ini dapat menunjukkan kemungkinan menggunakan survei cepat dan murah ini untuk memprediksi di mana wabah akan terjadi berdasarkan perilaku, dan kemudian memobilisasi sumber daya kesehatan masyarakat yang sesuai.

Solomon dan timnya sekarang melakukan survei serupa di negara bagian lainnya dan mempelajari potensi survei sebagai alat epidemiologi prediktif.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Johns Hopkins University Bloomberg School of Public Health. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora