Ditulis oleh 11:16 am COVID-19

Pembatasan Penumpang Pesawat Terbang Dalam Menghadapi Covid-19

Pelaksanaan protokol Covid-19 dalam penerbangan, baik di bandara maupun dalam pesawat penting untuk menekan laju penyebaran virus.

Oleh: Laode Ahmad Safar

Tulisan ini pengalaman penulis yang “terpaksa” harus terbang dari “Jogja-Samarinda” tanggal 22 Maret lalu dengan maskapai penerbangan berbiaya murah, yang mana jumlah penumpang saat itu penuh tanpa ada batasan jarak antara penumpang. Dalam perjalanan tersebut ada beberapa yang sudah dilakukan dan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan (karena belum dilaksanakan oleh pihak terkait) berkaitan dengan diberlakukannya PSBB oleh beberapa daerah.

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Indonesia terjangkit Corona atau COVID-19 di Istana, pada Senin (2/3/2020), hingga saat ini Selasa 14 April 2020 menurut juru bicara Pemerintah terkait corona Achmad Yulianto, ada 4839 kasus corona, 426 pasien sembuh dan 459 orang meninggal.

Berdasarkan data tersebut sudah seharusnya kita mematuhi segala hal berkaitan anjuran pemerintah untuk memutus penularan virus Covid-19 termasuk para penumpang pesawat terbang.

Pihak angkasa pura dalam hal ini Bandara Adisucipto Yogyakarta (waktu itu bandara belum pindah ke YIA Kulonprogo, red) ketika penumpang memasuki ruangan (tempat) check in telah melakukan prosedur pemeriksaan suhu tubuh penumpang. Selanjutnya pada waktu berdiri untuk antrian check in seharusnya protokol covid-19 dipastikan sudah dikerjakan, dengan menjaga jarak antar penumpang. Disini butuh peran petugas maskapai penerbangan dan petugas bandara untuk memastikan protokol ini terlaksana dengan baik. Kemudian setelah proses check in selesai, penumpang memasuki ruang tunggu yang melewati pintu metal detektor, yang biasanya terjadi antrian sehingga lagi-lagi perlu ketegasan dari pihak terkait untuk kembali memastkan jarak yang aman antara penumpang satu dengan lainnya untuk mencegah hal-hal yang tidak dinginkan bersama.

Setelah selesai proses ini, penumpang akan berada di ruang tunggu. Jaga jarak antar penumpang diruang tunggu juga diharapkan menjadi perhatian sampai penumpang masuk (naik) ke pesawat.

Pengalaman saya ketika itu, disini jarak antar penumpang mulai rapat (tidak memenunuhi protokol covid-19), sehingga akan lebih baik masing-masing petugas maskapai mengumumkan bahwa penumpang yang lebih dulu naik adalah penumpang yang duduk dekat jendela (misal dengan kursi dengan huruf A), tentu petugas yang menjaga pintu boarding pesawat lebih paham. Memang hal ini akan menyulitkan semua pihak, tetapi sekali lagi ini dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kebaikan semua pihak (penumpang, pramugari dll) sehingga tetap menjaga jarak sesuai protokol covid-19.

Ketika penumpang berada dalam pesawat, tentu ketegasan pramugari untuk mengatur sesuai protokol covid-19 tentu sangat diperlukan. Dengan jumlah penumpang yang akan dibatasi dan telah ditentukan pemerintah, diharapkan akan duduk selang seling dalam artian antar penumpang diselingi satu tempat duduk yang kosong. Misal pesawat dengan jumlah penumpang 216 yang tiap baris disi 6 kursi dan antar 3 kursi terdapat lorong (aisle) sehingga jumlah penumpang pada baris tersebut maksimal hanya diisi dengan 4 penumpang dengan posisi duduk jika pada baris 1 (No.1) akan diisi dengan nomor kursi 1A, 1C, 1D dan 1F. (1C dan 1D diantara lorong).

Kemudian pada baris-baris, nomor kursi yang diisi adalah hanya nomor kursi 2B dan 2E sehingga tetap menjaga jarak. Lanjut pada baris nomor 3 akan diisi kembali kursi 3A, 3C, 3D dan 3F dan baris no.4 akan diisi no.kursi 4B dan 4C. Demikian seterusnya sehingga jumlah penumpang dalam pesawat dengan tempat duduk 216 maksimum diisi penumpang sebanyak 108. Konsekwensi dari pembatasan ini tentu akan mengakibatkan harga tiket pesawat akan naik 2 kali lipat dibanding tanpa pembatasan. Bila harga tanpa pembatasan dimulai dengan harga 600.000, maka dengan pembatasan bisa dimulai dengan 1.200.000 atau 1.100.000 karena pajak bandara yang dibayarkan tadinya oleh 2 orang penumpang dengan pembatasan hanya dibayarkan oleh satu orang penumpang, sehingga pihak usaha penerbangan tetap berjalan dengan memperhatikan daya beli masyarakat.

Pesawat mendarat.

Ketika mendaratdan pesawat telah berhentidan parkir di tempat yang telah ditentukan oleh pihak bandara, maka penumpang akan turun. Pada waktu turun ini peran pramugari akan mengatur proses turunnya penumpang yang tentu dimulai dengan penumpang yang duduk didekat lorong dan diikuti oleh penumpang sebelah dan seterusnya sehingga tetap menjaga jarak sesuai protolok covid-19, sekali lagi disini perlu kesabaran para penumpang demi kebaikan bersama. Dan setelah tiba di terminal penumpang maka para penumpang akan diperiksa kesehatanya oleh pihak bandara yang bisa kerja sama dengan dinas kesehatan setempat karena para penumpang ini termasuk orang dalam pengawasan (ODP) dan diharapkan selama 14 hari kedepan para penumpang yang status ODP ini tidak keluar rumah untuk isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Semoga wabah Covid-19 ini segera berakhir sehingga kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari sebagimana aktivitas sebelum terjadinya wabah ini.

Penulis: Dosen Universitas Mulawarman Samarinda dan Mahasiswa Program Doktor Ekonomi UII Yogyakarta

(Visited 193 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 21 April 2020
Close