16.4 C
Yogyakarta
16 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Pemberdayaan Masyarakat Desa Pada Situasi Pandemi Covid-19

Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Corona virus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus penyebab Covid-19 ini dinamakan Sars-CoV-2. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS dari unta ke manusia. Adapun, hewan yang menjadi sumber penularan Covid-19 ini masih belum diketahui. (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) 2020).

Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Pada tanggal 7 Januari 2020, Cina mengidentifikasi pneumonia yang tidak diketahui etiologinya tersebut sebagai jenis baru coronavirus (coronavirus disease, Covid-19). Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO telah menetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia/ Public Health Emergency of International Concern (KKMMD/PHEIC).

Penambahan jumlah kasus Covid-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus dilaporkan di 192 negara/wilayah. Di antara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas kesehatan yang dilaporkan terinfeksi. Pada tanggal 2 Maret 2020, Indonesia melaporkan kasus konfirmasi Covid-19 sebanyak 2 kasus. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, Indonesia sudah melaporkan 790 kasus konfirmasi COVID-19 dari 24 Provinsi yaitu: Bali, Banten, DIY, DKI Jakarta, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kep. Riau, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Lampung, Riau, Maluku Utara, Maluku dan Papua (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) 2020). Tentunya di dalam setiap provinsi terdapat banyak desa yang terdampak Covid-19 ini.

Covid-19 dapat menekan tingkat kesejahteraan masyarakat desa keluarga pelaku dan pekerja UKM, dan pekerja dengan gaji rendah pada usaha skala besar dan menengah ke tingkat yang lebih rendah, bahkan ke tingkat di bawah garis kemiskinan. Banyak keluarga hampir miskin yang jatuh menjadi miskin, dan sangat miskin, akibat dampak Covid-19 terhadap operasi usaha kecil-mikro, dan pekerja yang dirumahkan pada berbagai sektor ekonomi formal dan informal (Budastra 2020). Komunitas pekerja informal yang menggantungkan hidup pada pendapatan harian seperti sopir angkot, tukang ojek, tukang parkir, penyandang disabilitas, karyawan yang kena PHK, pedagang kantin sekolah, pedagang kaki lima, dan kuli panggul. Untuk itu perlu adanya inovasi desa dalam upaya pembangunan desa melalui strategi pemberdayaan masyarakat.

Strategi adalah cara untuk mengerahkan tenaga, dana, daya, dan peralatan yang dimiliki guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Arti pemberdayaan masyarakat itu sendiri adalah suatu proses yang mengembangkan dan memperkuat kemampuan masyarakat untuk terus terlibat dalam proses pembangunan yang berlangsung secara dinamis sehingga masyarakat dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi serta dapat mengambil keputusan secara bebas (independent) dan mandiri (Sumaryo, 1991).

Proses pemberdayaan masyarakat bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya sendiri dengan menggunakan dan mengakses sumber daya setempat sebaik mungkin. Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat miskin. Dalam prosesnya perlu diperhatikan bahwa perempuan akan terlibat secara aktif. Proses pemberdayaan masyarakat didampingi oleh suatu tim fasilitator yang bersifat multidisiplin. Tim pemberdayaan masyarakat sebaiknya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Peran utama tim pemberdayaan masyarakat adalah mendampingi masyarakat dalam melaksanakan proses pemberdayaan. Peran tim pemberdayaan masyarakat pada awal proses sangat aktif tetapi akan berkurang selama proses berjalan sampai masyarakat sudah mampu melanjutkan kegiatannya secara mandiri (Hardiyanti 2008).

Pemberdayaan masyarakat dilaksanakan melalui beberapa tahapan sebagai berikut (Hadiyanti 2008).

Tahap pertama: Seleksi Lokasi.
Seleksi wilayah dilakukan sesuai dengan kriteria yang disepakati oleh lembaga, pihak-pihak terkait, dan masyarakat. Penetapan kriteria ini penting agar tujuan lembaga dalam pemberdayaan masyarakat akan tercapai serta pemilihan lokasi dilakukan dengan sangat baik.

Tahap kedua: Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat.
Sosialisasi pemberdayaan masyarakat adalah suatu kegiatan yang sangat penting untuk menciptakan komunikasi serta dialog dengan masyarakat. Sosialisasi pemberdayaan masyarakat pada masyarakat membantu untuk meningkatkan pengertian pada masyarakat dan pihak terkait tentang program. Proses sosialisasi sangat menentukan ketertarikan masyarakat untuk berperan dan terlibat di dalam program.

Tahap ketiga: Proses Pemberdayaan Masyarakat.
Tahap ini terdiri dari kegiatan: a). kajian keadaan pedesaan partisipatif, b). pengembangan kelompok, c). penyusunan rencana dan pelaksanaan kegiatan, serta, dan d). monitoring dan evaluasi partisipatif.

Tahap keempat: Pemandirian Masyarakat.
Proses pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses pembelajaran terus menerus bagi masyarakat dengan tujuan kemandirian masyarakat dalam upaya-upaya peningkatan taraf hidupnya. Artinya, bahwa peran tim pemberdayaan masyarakat akan pelan-pelan dikurangi dan akhirnya berhenti. Peran tim pemberdayaan kelompok sebagai fasilitator akan dipenuhi oleh pengurus kelompok atau pihak lain yang dianggap mampu oleh masyarakat. Waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pemberdayaan masyarakat tidak tentu. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses yang akan berjalan terus menerus.

Terkait pemberdayaan masyarakat dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi nomor 11 Tahun 2019 menjelaskan bahwa Padat karya tunai (Cash for work) merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa khususnya yang miskin dan marginal yang bersifat produktif dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya, tenaga kerja, dan teknologi lokal untuk memberikan tambahan upah/ pendapatan, meningkatkan daya beli, mengurangi kemiskinan, dan sekaligus mendukung penurunan angka stunting. Dengan skema Padat Karya Tunai dalam pelaksanaan Dana Desa diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, dengan memberikan honorarium (upah) langsung tunai kepada tenaga kerja yang terlibat, baik secara harian maupun mingguan, sehingga dapat memperkuat daya beli masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat terutama pada masa pandemik Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini.

Strategi pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan produktivitas ekonomi desa, yakni harus disesuaikan dengan potensi masyarakat dan lingkungan sumber daya desa tersebut.

Mengembangkan produk usaha masyarakat
Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang belum dikelola di desa untuk dikembangkan sebagai produk usaha masyarakat yang menghasilkan, caranya fokus pada komoditi lokal misalnya ketrampilan menganyam nanti bisa membuka lapangan pekerjaan. Pelatihan menjahit misalnya bisa di fokuskan pada kebutuhan saat ini seperti membuat masker kain yang dapat bernilai jual saat pandemi ini. Atau masyarakat bisa membuat olahan makanan khas atau cemilan yang bisa dijual. Produk usaha ini bisa dijual melalui UKM, warung-warung/toko-toko terdekat, ataupun online agar jangkauan makin meluas.

Mengembangkan sektor pertanian
Dengan menyediakan fasilitas/bantuan teknologi modern dan benih /pupuk yang unggul serta bantuan bakterisida sehingga mampu menghasilkan panen dengan cepat dan baik bagi masyarakat desa. Gerakan masyarakat bertani perlu digalakkan, dimana masyarakat bisa menggunakan pekarangan rumah atau ladang ladangnya ditanami tanaman-tanaman sayur atau buah yang mampu menjadi investasi pangan untuk beberapa waktu kedepan, masyarakat bisa menanam tanaman pangan apa saja bahkan harapanya kelak bisa saling bertukar hasil tanaman sebagai upaya membangun kesejahteraan bersama.

Mengembangkan sektor perikanan
Masyarakat desa bisa diajari untuk budidaya ikan, yang nantinya bisa dikonsumsi sendiri maupun dijual dan menjadi sumber pendapatan. Pekarangan rumah atau lahan kosong bisa menjadi peluang membuat kolam ikan, tentunya perlu pelatihan secara langsung maupun melalui buku panduan budidaya ikan.

Mengelola sektor pemasaran
Masyarakat bisa dilatih untuk menggunakan teknologi untuk berjualan dan promosi lewat media online agar pemasaran lebih meluas, akses transportasi juga perlu di fasilitasi di desa agar distribusi lancar sehingga perekonomian berjalan lancar dan meningkat.

Keempat strategi di atas harus disesuaikan dengan potensi dan lingkungan masyarakat desa. Perlu orang-orang yang terpilih untuk dimasukkan ke dalam sebuah tim fasilitator yang bersifat multidisiplin yang mampu mengawal masyarakat dari awal sampai masyarakat mampu secara mandiri. Untuk itu membangun kesadaran masyarakat untuk maju perlu dilakukan sebelumnya. Maka dari itu perlu kerja sama berbagai pihak untuk mewujudkan tujuan pembangunan desa dan pelayanan publik yang baik.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA