Ditulis oleh 3:00 pm KALAM

Pembiasaan Menjalankan Ibadah Di Rumah Sebagai Antisipasi Terkena Covid-19

Bahwasanya pembiasaan itu adalah perilaku yang sudah menjadi biasa dijalankan dalam waktu-waktu tertentu tanpa ada paksaan dan ia sadar menjalankannya, tanpa diikuti oleh emosi yang negatif.

Hampir dua bulan Covid-19 menjadi momok bangsa ini. Perasaan sedih, resah, usaha dan pasrah mewarnai perasaan setiap orang dan dipengaruhi oleh berita-berita yang saling menguatkan kesedihan bahkan terkadang membuat keputusasaan. Saat itulah penting bagi setiap individu untuk berbagi rasa dan saling memberi support untuk selalu menjaga kestabilan iman dan imun dengan mengikuti anjuran dari pihak berkompeten: berdo’a, jaga jarak, pakai masker, stay at home dan cuci tangan. Semua itu anjuran popular yang sudah disosialisasikan dari awal Covid-19 lewat berbagai media massa. Namun, bagaimana tanggapan dan sikap masyarakat? Adakah semua taat, atau melonggarkan, atau bahkan sama sekali tidak mengindahkan? Tentu semua mempunyai alasan, mulai dari alasan tentang potensi dan tidak potensi datangnya corona, pertimbangan kebutuhan ekonomi, sampai kepada alasan nilai-nilai agama yang harus dikerjakan dan yang boleh ditinggalkan.

Menyikapi kebijakan pemerintah yang mulai saat ini tidak akan mengumumkan jumlah penambahan kasus positif Covid-19, memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk berikhtiar sendiri dan dimulai dari keluarga dengan menggunakan cara sendiri karena setiap keluarga memiliki karakteristik pendidikan dan pembelajaran yang berbeda, sementara rambu-rambu terbebas dari Covid-19 telah disosialisakan dengan banyak dukungan dan banyak juga bantahan, katakan saja dengan “Diskusi dalam Youtube” agar tidak terkesan “negatif”. Kondisi-kondisi tersebut telah diketahui oleh banyak orang, dari anak-anak hingga orangtua. Tentu yang mempunyai fasilitas untuk selalu melihat perkembangan keadaan. Ini kesempatan bagi setiap keluarga untuk dapat mengajarkan ikhtiar dan kemudian kepasrahan yang utuh kepada Allah atas kondisi saat ini.

Merujuk kepada pendapat Khoirun Ni’am bahwa “perspektif teologis i’tiqadiyyah, perspektif syari’ah, perspektif Ritual Ubudiyyah terlihat banyak dijadikan motif bersikap masyaraka terhadap Covid-19. Atas dasar keimanan dan ketaatan terhadap aturan syari’ah serta keinginan untuk menjalankan ibadah secara maksimal…” dalam https://arrahim.id/kn/belajar-dari-cara-penyikapan-ulama-terdahulu-dalam-menghadapi-pandemi-bag-2-habis/ artinya di tengah pandemi corona yang semakin tidak terkendali dan tidak selalu diketahui, ini adalah kondisi riil keterbatasan manusia. Meskipun dengan kecanggihan alat detektor dan segala usaha pencegahan telah dilakukan, ternyata Allah mempunyai skenario di luar dugaan manusia. Dan manusia hanya bisa berikhtiar dan memaksimalkan ibadah serta bertaqarrub kepada Sang membuat wabah yakni Allah SWT.

Lalu… bagaimana membiasakan keluarga terutama anak-anak untuk selalu menjalankan ibadah dan kepasrahan yang penuh kepada Allah? Beberapa catatan yang dapat dijadikan pertimbangan di antaranya:

  1. Bahwasanya pembiasaan itu adalah perilaku yang sudah menjadi biasa dijalankan dalam waktu-waktu tertentu tanpa ada paksaan dan ia sadar menjalankannya, tanpa diikuti oleh emosi yang negatif. Di antara cirinya adalah melakukan dengan bahagia, tanpa menafikkan lelah dan sedikit keluhan
  2. Memiliki kesamaan niat dan tujuan. Hal ini penting untuk diberitahukan kepada seluruh anggota keluarga, karena apa yang dilakukan saat ini adalah di luar kebiasaan sebelum mewabahnya Covid-19. Dengan begitu diharapkan kegiatan ritual baik sholat, puasa dan tedarrus (saat Ramadlan) benar-benar akan membawa dampak kepada kesahatan mental dan psikologis segenap anggota keluarga
  3. Memahami maksud dari aturan dan anjuran pemerintah dalam menghadapi Covid-19.
    Salah satunya adalah lockdown. Hal ini dikuatkan oleh hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda:
    وعن أسامة بن زيد رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ إذا سمعتم الطاعون بأرض، فلا تدخلوها، وإذا وقع بأرض، وأنتم فيها، فلا تخرجوا منها‏
    ‏‏متفق عليه‏)‏‏)
    Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jika kalian mendengar ada wabah tha’un di suatu tempat, maka jangan kalian masuk dan datang ke sana, dan apabila terjadi di suatu tempat sedangkan kalian ada di dalamnya, maka jangan kalian keluar darinya.” (Muttafaqun ‘alaih /HR. Bukhari dan Muslim).
    Solusi dari Rasulullah SAW pada saat ini dapat diartikan sebagai lockdown, yakni menghindari orang keluar dan masuk ke dalam area wabah. https://www.islamdalil.com/wabah-penyakit-thaun-pengertian-sejarah-pencegahan-dan-pengobatannya/
  4. Tetap optimis dan semangat dalam menjalankan hal-hal yang positif, dengan tetap menjaga kebersihan dan kekebalan tubuh, berkaitan dengan kesehatan fisik kita. Karena Covid-19 tidak akan datang pada orang yang mempunyai kesehatan (imun) yang kuat.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat. Amiin Yaa Robbal Alamiin.

(Visited 56 times, 1 visits today)
Last modified: 31 Mei 2020
Close