Ditulis oleh 2:34 pm COVID-19

Penawar Solutif dari Kompendium QS. Al-Insyirah

Terdapat tiga prinsip utama menghadapi problematika kehidupan, yakni yakin, syukur, dan tawakkal.

Oleh: Muhammad Shaleh Assingkily, S.Pd., M.Pd.

Kalam Ilahi, Penawar Hati Bagi yang Meyakini.

Muhammad Shaleh Assingkily

Pikiran positif mendatangkan energi positif. Kegelisahan, rasa gundah, khawatir, dan keluh kesah, kerap kali malah merugikan diri sendiri. Tidak jarang, bila manusia berada pada “zona tidak nyaman”, akan merasa tertekan dan timbul kegelisahan. Hanya saja, bila terus memupuk kegelisahan dalam diri, akan menimbulkan energi-energi negatif yang dengannya bukan menyelesaikan masalah, lagi-lagi malah merugikan diri sendiri.

Berfikir positif dalam menghadapi setiap masalah, membuat hidup semakin bermakna dan mendatangkan ketentraman jiwa. Sebagai manusia, sikap mawas diri (waspada), perlu adanya. Namun, bukan dipikirkan sisi buruknya. Apalagi sampai berlarut-larut dalam waktu yang relatif lama.

Berfikir positif dalam menghadapi setiap masalah, membuat hidup semakin bermakna dan mendatangkan ketentraman jiwa.

Pikiran positif merupakan “akar” dari sikap dan tindakan yang positif. Upaya seseorang untuk terus berpikir positif, akan berlanjut pada upaya mencari solusi dari suatu permasalahan. Menghadirkan dan memupuk asa, serta menepis kekhawatiran dan rasa (cemas, gelisah, takut, dan sebagainya). Bahkan, bila sesuatu yang diupayakan belum tercapai, pikiran positif akan terus memotivasi. Setidaknya, tiada kata menyerah, apalagi berpangku tangan hanya pasrah. Melainkan, selalu ada keinginan usaha dan berdoa lantas bertawakkal kepada Allah swt.

Coronavirus Disease-19 (Covid-19) merupakan masalah bersama yang mendunia. Berbagai upaya dilakukan untuk memotong rantai penyebaran virus ini, mulai dari perihal sederhana yang dimulai dari sendiri, hingga cakupan masyarakat luas untuk tindak pencegahannya. Seperti rajin cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir, kenakan masker, hindari kontak di lokasi umum, physical distancing, selalu mencuci bahan makanan, tingkatkan imunitas tubuh, bahkan kini di beberapa daerah dan wilayah diterapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kesemuaannya merupakan upaya bersama dalam meminimalisir terjadinya penularan virus tersebut.

Bila upaya edukasi, sosialisasi dan tindak pencegahan dalam skala umum telah dilakukan, bagaimana dengan aspek lainnya? Sering didengar ungkapan di tengah merebaknya virus corona ini, “Ekonomi mati bisa bangkit, namun nyawa-nyawa yang telah kembali kehadirat-Nya tidakkan bisa bangkit”. Bagi segelintir orang, ungkapan ini benar adanya. Namun, tidak jarang pula orang “harus nekat” tetap beraktivitas seperti sedia kala, karena untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Kehadiran negara sangat dibutuhkan untuk bertanggungjawab memfasilitasi kebutuhan warganya dalam situasi dan kondisi darurat saat ini. Begitupun, sebagai individu, seseorang merupakan bagian dari satu komunitas yang disebut keluarga, masyarakat, warga negara, bahkan warga dunia. Layaknya pikiran positif yang dipatrikan oleh Presiden ke-3 RI, eyang BJ. Habibie, kira-kira dideskripsikan dalam ungkapan berikut, “…sebagai bagian dari masyarakat, kita bertanggungjawab untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan. Sebab, bila masyarakat makmur dan sejahtera, tentu saja keluarga kita, juga diri kita akan secara otomatis makmur dan sejahtera pula….

Memupuk rasa persaudaraan dengan turut membantu sesama dalam kondisi apapun, terlebih kondisi darurat Covid-19 saat ini adalah menjadi suatu keniscayaan untuk dilakukan. Saling membahu, membantu dan meringankan beban saudara kita, adalah tugas kemanusiaan yang harus disegerakan.

Mencermati hal ini, sebagai Muslim, sudahkah kita kembali kepada prinsip solutif dari al-Qur’an sebagai penawar masalah kehidupan? Bukankah kita kerap berdoa “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardh wal laa fi as-sama’, wa huwa as-Sami’ al-‘Alim.” (Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak celaka segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).

Al-Qur’an Surah ke-94, yakni QS. Al-Insyirah mengedukasi umat Muslim untuk terus ber-husnudzan kepada Allah, atas setiap permasalahan yang menimpanya. Dua ayat dalam surah tersebut menegaskan, (5) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, dan (6) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Tentu, kita yakini bersama bahwa setiap permasalah “pasti” punya solusi.

Berdasarkan kompendium QS. Al-Insyirah, terdapat tiga prinsip utama menghadapi problematika kehidupan, yakni Yakin, Syukur, dan Tawakkal. Ketiganya tampak sederhana, namun begitu “berat” implementasinya, bila tidak disertai keyakinan akan ayat-ayat Allah swt. dalam upaya memperoleh petunjuk dan hidayah dari-Nya.

Yakin, merupakan muara pikiran positif, energi positif, dan tentunya hasil positif. Sebagai Muslim, apapun masalah yang dihadapi. Keyakinan dan prasangka baik atas setiap takdir Allah adalah perihal utama yang semestinya muncul dalam diri. Hanya saja, bila sudah tertimpa masalah, kerap kali pikiran kita diselimuti rasa ragu, keluh kesah, dan sebagainya. Untuk itu, melalui kompendium surah al-Insyirah ini, diharapkan terpatri teguh rasa yakin kepada Allah bahwa setiap masalah yang dihadapi akan berujung kemudahan dan kebaikan. Ingat! Syarat utamanya kita yakin dan berpikir positif.

Syukur, tidaklah sekadar dimaknai sikap berpasrah diri pada setiap problematika kehidupan. Sejatinya, syukur merupakan bentuk optimalisasi usaha atas instrumen kehidupan yang diberikan Allah kepada manusia. Allah beri kehidupan dilengkapi instrumennya kepada manusia.  Untuk itu, ketika ditimpa sesuatu masalah, setelah hadir rasa yakin, maka selanjutnya sebagai seorang Muslim dianjurkan mengoptimalkan usaha, sebagai bentuk terimakasih atas “kesempurnaan” instrumen yang diamanahkan Allah kepada manusia sebagai makhluk “terbaik” yang diciptakan-Nya. Maka dalam QS. Al-Insyirah, setelah berlapang dalam suatu urusan, manusia diminta untuk melanjutkan kepada urusan lainnya. Sehingga, bentuk optimalisasi diri atas amanah instrumen kehidupan dapat terejawantahkan dengan baik.

Tawakkal, bermakna sikap berserah diri kepada Allah swt. setelah melakukan upaya maksimal dalam suatu pekerjaan. Bila ditimpa masalah, manusia sesuai fitrahnya akan berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Sebab, menghindar tentu bukan solusi. Melalui ayat terakhir dari QS. Al-Insyirah dianjurkan kepada setiap Muslim untuk tidak lupa berserah diri kepada Allah. Sehingga, hasil dari setiap upaya tetap menghasilkan energi positif dan prasangka baik kepada Sang Pencipta.

Bila ketiga kata di atas, dimaknai secara tekstual, tentu akan menjadi “sia-sia”. Oleh karena itu, mengkontekstualisasikan kompendium ayat tersebut, dapatlah menjadi “penawar solutif” dari setiap permasalahan. Pertanyaannya, masih yakinkah Anda bahwa Kalam Ilahi menjadi penawar hati dan kehidupan? Sebagai Muslim, kita wajib meyakininya. Dengan cara ini, diharapkan semakin meneguhkan diri, bahwa setiap masalah jangan dilihat dari “apa itu masalahnya?” melainkan “bagaimana menyikapinya?”. Sebab, masalah adalah bagian dari ujian kehidupan manusia, berpikir positif, yakin, syukur, dan tawakkal akan menimbulkan ketentraman jiwa bagi yang menyakini kalam Ilahi.

Salam Pandjang Oemoer Pendidikan!

Penulis: Dosen UIN Sumatera Utara Medan/Dosen STIT Al Ittihadiyah Labuhanbatu Utara


Memupuk rasa persaudaraan dengan turut membantu sesama dalam kondisi apapun, terlebih kondisi darurat Covid-19 saat ini adalah menjadi suatu keniscayaan untuk dilakukan.


(Visited 81 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 20 April 2020
Close