29.6 C
Yogyakarta
16 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KABAR

Pencegahan Agresivitas di Kalangan Pelajar

Kesadaran akan pentingnya pengelolaan aspek-aspek psikologis dewasa ini semakin meningkat. Pengelolaan aspek-aspek psikologis ini tentunya bertujuan dalam rangka menangani penyakit-penyakit psikis yang belakangan ini banyak muncul. Penyakit-penyakit psikis ini seperti stres dan frustrasi yang merupakan stimulus/emosi terkondisikan, akhirnya dapat menyebabkan munculnya tingkah laku agresif. Perilaku agresif biasanya terjadi pada siswa-siswi yang mulai menginjak remaja. Keinginan untuk menunjukkan eksistensi dirinya dan pencarian jati diri kadang membuat remaja berperilaku berlebihan yang bisa membahayakan diri mereka atau orang lain.

Dalam dekade terakhir, tawuran atau perkelahian pelajar yang tergolong dalam perilaku agresif remaja dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Perkelahian pelajar, telah melibatkan banyak pelaku dan menimbulkan korban yang tidak sedikit. Hal ini telah menimbulkan kecemasan yang makin mendalam dari berbagai pihak yang berkepentingan. Kecemasan dan keprihatinan tersebut barulah sampai kepada tahap sikap dan perasaan, karena sampai saat ini belum ada jalan keluar atau solusi yang efektif tentang cara mengatasi perkelahian dan tindakan kekerasan yang semakin mengarah kepada tindakan kriminal itu.

Banyak faktor yang mempengaruhi remaja/pelajar melakukan perilaku agresif; Pertama, faktor pola asuh orangtua. Peranan dan bantuan orangtua kepada anak akan dapat tercermin dalam pola asuh yang diberikan kepada anak-anaknya. Kecenderungan pola asuh orangtua yang positif dapat mengendalikan perilaku anaknya, termasuk mengendalikan perilaku agresif. Kedua, pengaruh interaksi antar teman sebaya. Pengaruh teman sebaya ini sangat kuat dan merupakan salah satu reaksi atas status yang disandangnya. Di satu sisi, remaja melakukan gerak memisahkan diri dari orangtua dan di sisi yang lain, remaja melakukan gerak menuju ke arah teman sebayanya.

Ketiga, konsep diri (self concept). Konsep diri adalah kesadaran atau pengertian tentang diri sendiri, yang mencakup pandangan tentang dunia, kepuasan tentang kehidupan, dapat menghargai atau menyakiti diri sendiri, mampu mengevaluasi kemampuan sendiri, dan persepsi mengenai diri sendiri. Subjektivitas manusia selalu membedakan cara pandang sesuatu objek yang diamati. Demikian pula menyangkut pengamatan atas diri sendiri. Keempat, kontrol diri (self control). Kontrol diri dibutuhkan karena manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok sehingga dengan adanya kontrol diri manusia dapat hidup nyaman, tenteram serta dapat meminimalisir masalah baik dengan orang lain maupun lingkungan sekitar. Selain itu, kontrol diri juga dibutuhkan dalam mengontrol emosi, memilih tujuan jangka panjang dengan tidak menyegerakan kepuasan.

Untuk mencegah munculnya agresivitas pelajar, dapat diterapkan langkah-langkah berikut ni : Pertama, orangtua hendaknya menerapkan pola asuh yang tidak authoritarian, melainkan pola asuh yang dapat memberikan contoh yang baik, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak serta dapat mencegah perilaku agresif siswa. Kedua, program kesiswaan di sekolah/madrasah hendaklah diupayakan untuk menfasilitasi para siswa untuk dapat selektif di dalam memilih teman, sehingga tidak terjerumus kepada pertemanan yang kurang mendukung keberhasilan pendidikan. Ketiga, pengembangan pembelajaran keagamaan dan budi pekerti hendaklah diarahkan untuk terbentuknya pribadi paripurna, yang pandai melakukan kontrol diri atas berbagai sikap dan perilakunya, sehingga dapat mencegah berbagai perilaku negatif.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA