Ditulis oleh 4:22 pm PENDIDIKAN

Pendidikan dan Masyarakat

Dalam masyarakat yang tidak menonjolkan pencapaian dalam pembelajaran, tentu akan membangun suasana belajar yang lebih berfokus pada pengembangan pengetahuan dan pencarian kebenaran.

Ki Hadjar Dewantara, mengungkapkan adanya tiga pusat pembelajaran, yang patut mendapatkan perhatian, yakni kelas (sekolah), keluarga dan komunitas. Secara lebih sederhana, kita akan meninjau tiga pusat tersebut, sebagai dua arena utama, yakni dunia pendidikan dan masyarakat. Pandangan dasar yang hendak digunakan adalah bahwa keadaan di masyarakat akan tercermin dalam dunia pendidikan, atau dunia pendidikan merupakan cermin apa yang terjadi di masyarakat.

Diskusi menggali pengalaman praktek pendidikan yang diadakan oleh Akademi Al Hikmah, pada 8 Juli lalu, tatkala membahas pengalaman beberapa negara Skandinavia, menunjukkan hal tersebut. Dr. Roni, menggambarkan masyarakat di sana adalah masyarakat menghindari jarak sosial-ekonomi yang tidak perlu. Seseorang pantang merasa lebih dari yang lain, karena mereka percaya bahwa setiap orang punya kebisaan sendiri-sendiri yang tidak bisa dipertandingkan.

Seseorang yang terpelajar, tidak menggunakan identitas pendidikannya sebagai sarana untuk menjaga jarak. Atau menggunakan sebagai sarana untuk mengatakan dirinya lebih mampu dari yang lain. Cara mereka memanggil nama, dengan hanya menyebutkan nama, merupakan cermin lain dari kuatnya semangat kesetaraan di antara mereka.

Digambarkan pula bahwa masyarakat di sana, memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ketidaktahuan bukan kejahatan. Ketidaktahuan bukan bukti kebodohan, yang membuat orang harus merasa malu jika mengungkapkannya. Seseorang tidak segan dan tidak malu untuk mengatakan bahwa dirinya tidak tahu dan karena itu bertanya. Mungkin tidak ada adegan dimana orang bertanya mendapatkan sorakan: wuuu…, atau bentuk perundungan lainnya. Hal ini berarti pula telah terbangunnya suatu keadaan paling dasar dari penyelenggaraan pendidikan, yakni iklim belajar.

Tidak mungkin suatu proses pembelajaran berjalan dalam suasana dimana ketidaktahuan dianggap sebagai cela, jahat atau negatif. Secara demikian, nilai sekolah bukan suatu bentuk pencapaian, karena hal tersebut tidak memiliki makna apa-apa dalam kehidupan masyarakat. Pencapaian dalam proses pembelajaran adalah pengetahuan, kemandirian dan cara berpikir yang teratur, bukan yang lain.

Beberapa hal tersebut tentu hanya potongan gambar dari kultur yang berkembang dari suatu masyarakat, dan hal itulah yang ikut memberi warna pada kegiatan proses belajar mengajar. Dalam masyarakat yang tidak menonjolkan pencapaian dalam pembelajaran, tentu akan membangun suasana belajar yang lebih berfokus pada pengembangan pengetahuan dan pencarian kebenaran.

Sebaliknya dalam masyarakat yang menganggap pencapaian dalam proses belajar sebagai keutamaan, akan ikut memberi nuansa belajar dimana perlombaan yang berlangsung, mungkin bukan perlombaan pendalaman pengetahuan melainkan perlombaan mencapai status tertentu.

Contoh sederhana ini hendak menegaskan bahwa sangat tidak mungkin melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan jika tanpa mengupayakan perbaikan dalam tata hidup bersama. Nilai-nilai yang tidak sesuai dengan spirit pembelajaran harus dapat diubah dan digantikan dengan nilai-nilai yang memberi dukungan bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang berorientasi pada penggalian dan pengembangan pengetahuan, serta pencarian kebenaran.

Tentu proses tidak berjalan bertingkat, melainkan berjalan secara dialektis. Perubahan nilai di masyarakat ikut mendorong iklim pembelajaran yang kondusif. Dan proses pembelajaran yang baik akan menghasilkan pengetahuan dan insan terpelajar yang akan memperkuat proses transformasi sosial.

(Visited 36 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 9 Juli 2020
Close