Pendidikan Jarak Jauh

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Datangnya teknologi telah membuka akses pada pengetahuan secara terbuka dan luas. Sebenarnya inilah perubahan yang paling mendasar.

Secara mengejutkan kita membaca berita bahwa setelah Pandemi Covid-19, pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Rasa terkejut disini, bukan keterkejutan layaknya seseorang yang tiba-tiba mendapatkan hadiah yang tiada sedikitpun dinantikan. Atau keterkejutan anak-anak dalam bermain. Tapi keterkejutan yang bersifat strategis. Yakni, munculnya kebijakan yang bersifat jangka panjang, punya daya ubah yang luar biasa, dan hal tersebut datang dalam suasana darurat kesehatan.

Artinya keterkejutan tersebut lebih didasarkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni apakah kebijakan tersebut telah didasarkan pada riset yang komprehensif, yang melibatkan para insan pendidikan, dan publik luas, ataukah tidak.

Dari segi pemikiran kekinian, tentu arahan tersebut tidak begitu mengejutkan, karena demikian itulah cara kerja teknologi. Sebagaimana kita ketahui dan kita alami bersama, bahwa di masa Pandemi ini, tanpa terasa terjadinya perubahan perilaku, dimana pada hampir semua segi hidup publik, tengah bermigrasi ke online.

Jika dulu belanja, dilakukan dengan cara datang ke pasar atau pusat-pusat pembelanjaan, maka kini, dapat dilakukan dari rumah. Memang tidak semua orang bisa melakukannya, tetapi kecenderungan ke arah sana tidak terelakkan. Migrasi online sebagai keseluruhan memang belum terjadi, tetapi tanda akan terbitnya keadaan tersebut telah dapat dipastikan.

Kembali kepada soal pendidikan, yakni migrasi offline ke online, atau mungkin campuran, tentu merupakan persoalan yang sangat serius dan harus menjadi perdebatan publik. Mungkin arah debat bukan soal apakah arah tersebut benar atau tidak, atau apakah perlu dilanjutkan atau harus ditahan lajunya, tetapi lebih kepada persiapan apa yang harus disiapkan?

sumber pengetahuan telah menyebar, dan tidak lagi terpusat atau hanya satu sumber.

Mengapa demikian? Apakah kita otomatis setuju dengan model pendidikan jarak jauh? Apakah pendidikan jarak jauh bukan merupakan cara yang akan mendegradasi kualitas pendidikan? Tentu saja masalah-masalah ini perlu dibahas dengan dingin dan seksama. Hal yang tidak dapat diabaikan sebagai kenyataan adalah bahwa saat ini, sumber pengetahuan telah menyebar, dan tidak lagi terpusat atau hanya satu sumber.

Datangnya teknologi telah membuka akses pada pengetahuan secara terbuka dan luas. Sebenarnya inilah perubahan yang paling mendasar. Dengan keterbukaan tersebut, seorang murid di sekolah, sesungguhnya tidak mengandalkan pengetahuan dari gurunya yang berdiri di depan kelas. Teknologi memungkinkan murid untuk mengakses apa yang akan disampaikan guru di depan kelas. Dan bahkan jika sang guru tidak meng-update pengetahuannya, maka sangat mungkin sang murid berada di depan gurunya.

Kenyataan ini tidak mungkin ditutupi atau tidak mungkin kita berpura-pura tidak menyadarinya. Kenyataan tersebut amat perlu diterima sebagai keniscayaan perubahan. Soalnya bagaimana kita mempersiapkan, agar proses belajar mengajar tetap berjalan dengan arah yang jelas. Barangkali lebih produktif jika segi-segi yang bersifat mempersiapkan keadaan baru yang diselenggarakan.

Pertanyaan tentang pendidikan moral, pendidikan karakter dan ragam pendidikan nilai, yang mungkin dirasa kurang mampu diselenggarakan secara online dan jarak jauh, perlu mendapatkan riset dan diskusi intens. Selain itu, masalah infrastruktur dan ekosistem pembelajaran online, sangat penting dipastikan pemerataannya. Agar jangan sampai migrasi ke pendidikan jarak jauh, menjadi cara tambahan yang memarginalisasi yang lemah dan akan makin memperlebar jurang kesenjangan pendidikan.

Syamsudin, S Pd., MA

Syamsudin, S Pd., MA

Ketua Pusat Studi Pendidikan IKA UNY. Dosen UP45 Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti