Pendidikan Nilai: “Asupan dan Nutrisi” Tanpa Jeda Bagi Anak

IMG_20180814_225301_1(1)
Pertanyaannya, efektifkah pembelajaran yang diberikan bila berbasis online kepada anak-anak usia dasar? Bagaimana dengan internalisasi nilai kepada anak, dapatkah ditempuh dengan sistem belajar online? Bukankah

Oleh: Muhammad Shaleh Assingkily, S.Pd., M.Pd.

Sulitnya ekonomi dan pentingnya keluar rumah, menjadi keluhan warga yang mesti beraktivitas di luar rumah. Hal ini pasalnya demi mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Namun apa daya, keadaan berkata lain, era Coronavirus disease (Covid-19) seperti sedang “mengkarantina” umat manusia untuk berdiam diri di rumah. Bahkan, adapula guyonan yang beredar, bahwa cukup dengan “rebahan akan mampu ikutserta menyelamatkan dunia” (ah, ada-ada saja!).

Covid-19 merupakan penyakit menular yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat secara luas. Oleh sebab itu, tindakan pencegahan terhadap jenis penyakit menular tersebut wajib dilakukan secepat mungkin. Indonesia sebagai negara hukum, maka pencegahan terhadap jenis penyakit menular tersebut wajib dibentuk dalam sebuah aturan atau regulasi.

Menurut Dalinama, urgensi pembentukan aturan terkait dengan pencegahan Covid-19 ini wajib dibentuk dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan karena kedua peraturan tersebut merupakan peraturan pelaksanaan daripada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ada 5 Peraturan Pemerintah yang wajib dibentuk dalam rangka melakukan tindakan penanggulangan dan pencegahan ancaman penyakit yang mudah menular seperti Covid-19 dan ada 11 Peraturan Menteri Kesehatan terkait yang wajib dibentuk dalam rangka mengantisipasi ancaman Covid-19.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan menemukan bahwa ada beberapa peraturan pelaksana dari undang-undang tersebut yang wajib dibentuk yaitu Pasal 10 ayat (4), Pasal 11 ayat (3), Pasal 14 ayat (2), Pasal 15 ayat (4), Pasal 19 ayat (6), Pasal 24, Pasal 30 ayat (4), Pasal 32, Pasal 35 ayat (5), Pasal 47, Pasal 48 ayat (6), Pasal 60, Pasal 70, Pasal 75 ayat (4), Pasal 77 ayat (3), Pasal 82 ayat (4), dan Pasal 83 ayat (3). Dari 17 pasal tersebut, jenis peraturan perundang-undangan yang disinggung yakni Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan.

Kedua jenis peraturan tersebut sangat berguna dalam hal mengantisipasi kedaruratan kesehatan yang pada akhirnya menjurus pada kekarantinaan kesehatan masyarakat Indonesia. Kiranya kedua jenis peraturan ini segera dibuat dalam rangka memberi kepastian hukum dalam mencegah menularnya Covid-19 secara meluas.

Lantas, urgensitas pembentukan peraturan tersebut juga diimbangi dengan dilaksanakannya pendidikan berbasis daring (online). Salahkah? Tentu tidak. Pertanyaannya, efektifkah pembelajaran yang diberikan bila berbasis online kepada anak-anak usia dasar? Bagaimana dengan internalisasi nilai kepada anak, dapatkah ditempuh dengan sistem belajar online? Bukankah beredar informasi, bahwa dengan diliburkannya sekolah, malah menambah kuantitas tugas rumah (PR) bagi siswa? Bagaimana pula para orangtua menyikapi hal ini?

Sejatinya, proses pembelajaran berbasis online merupakan alternatif tepat dalam upaya memberikan materi ajar kepada anak di era covid-19. Hal ini dilakukan agar anak tetap memperoleh “asupan dan nutrisi” belajar meskipun dari rumah masing-masing. Meskipun begitu, anak juga butuh “asupan dan nutrisi” pendidikan nilai tanpa “jeda” dari orang sekitarnya. Sederhananya, hal ini dapat diperoleh anak melalui (1) tuntunan dan (2) tontonan.

Aspek tuntunan, memberi “asupan dan nutrisi” yang baik bagi anak. Di mana orangtua bekerjasama dengan pihak sekolah maupun masyarakat memberikan tuntunan langsung berupa aktivitas yang patut dilakukan anak selama era covid-19, seperti (a) kegiatan umum; berupa cuci tangan sebelum beraktivitas, menghindari keramaian, dan sebagainya, serta (b) kegiatan khusus; mengajak anak meningkatkan ibadah sunnah di rumah, meningkatkan kualitas waktu (Quality Time) bersama keluarga, dan membiasakan rutinitas baru yang baik kepada anak.

Adapun aspek tontonan, dipenuhi kebutuhan anak era saat ini dengan mendapat informasi yang layak konsumsi dan mengandung nilai pendidikan bagi perkembangan moral anak. Dalam konteks ini, tontonan yang dimaksud meliputi film atau video singkat via media sosial (youtube, et.al) yang bermanfaat bagi anak. Lebih lanjut, tontonan ini dalam makna luas ditampilkan melalui keteladanan yang diberikan oleh orangtua di rumah kepada para anak. Sehingga, anak akan tetap mendapat “asupan dan nutrisi” pendidikan nilai meskipun masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pendidikan nilai merupakan “asupan dan nutrisi” yang harus diberi tanpa henti kepada setiap generasi. Sebab, karakter bangsa akan terbentuk melalui karakter kumulatif dari individu-individu yang mendiami suatu bangsa. Oleh karena itu, mari ditingkatkan upaya internalisasi nilai-nilai kebaikan kepada anak, agar tercipta generasi kaya “gizi” secara fisik dan psikis. Sehingga, tidak menghambat usia ideal bangsa di tahun 2045, dengan melahirkan SDM yang unggul dan memiliki karakter cinta akan bangsanya.

 Salam Pandjang Oemoer Pendidikan!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close