Ditulis oleh 8:14 am COVID-19

Pendidikan Nilai-nilai Religiusitas (Parenting Islami) dalam Keluarga sebagai Metode Penangkal Bala’ pada Saat Pandemi Virus Covid 19

Pembiasaan berbagai ibadah oleh anak bersama orang tua diharapkan dapat meningkatkan nilai-nilai religiusitas keluarga serta diberikan perlindungn oleh Allah SWT.

I. Makna Pendidikan dalam Keluarga

Pendidikan dalam arti luas bermakna suatu proses untuk pengembangan diri pada semua aspek kepribadian manusia baik pengetahuan, nilai, sikap, serta ketrampilan. Sedangkan secara terminologi pendidikan merupakan proses perbaikan, penguatan dan penyempurnaan terhadap semua kemampuan dan potensi yang dimiliki manusia.[1] 

Menurut Subiyantoro, pendidikan pada hakekatnya mendidik, mengajar dan melatih. Istilah mendidik berarti mengembangkan budi pekerti, hati nurani, semangat, kecintaan, rasa kesusilaan, ketakwaan dan lain sebagainya.[2] Lebih lanjut Subiyantoro menambahkan bahwa pendidikan sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, terikat oleh dua misi penting yakni hominisasi dan humanisasi. Hominisasi terkait dengan kodrat biologis manusia, sedangkan proses humanisasi mengarahkan pada manusia untuk hidup sesuai dengan kaidah moral, karena manusia hakikatnya adalah manusia yang bermoral, baik moral yang berkaitan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.[3] Sedangkan menurut pakar Sejarah Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayutullah Jakarta Azyumardi Azra menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.[4]  

Kemudian Menurut K.H. Ahmad Dahlan, sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata menyatakan bahwa pembentukan kepribadian sebagai target penting dari tujuan-tujuan pendidikan. Tidak seorang pun dapat mencapai kebesaran di dunia ini maupun di Akhirat kecuali mereka berkepribadian baik. Seorang yang berkepribadian baik adalah orang yang mengamalkan ajaran Al-Qur`an dan Hadis.  Di samping itu, pendidikan harus membekali para siswa dengan pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mencapai  kemajuan materiil.[5] 

 Muhammad Anis menjelaskan bahwa pendidikan sering diartikan sebagai usaha pendewasaan manusia. Pendidikan pada hakikatnya adalah mengembangkan secara optimal potensi yang ada dalam diri manusia dalam rangka memanusiakan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi, sehingga peserta didik tetap dalam harkat dan martabat yang tinggi di antara ciptaan Allah yang lain. Manusia yang cerdas intelektual, emosional, sosial, dan cerdas beramal itulah sosok manusia berkualitas.[6] Lebih lanjut Muhammad Anis menyatakan bahwa pendidikan kejujuran sangat penting ditanamkan kepada anak didik sedini mungkin agar dapat melekat pada pribadi mereka dan mempengaruhi kehidupan masa depannya. Kejujuran adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia.[7]

Muhammad Anis menyatakan bahwa pendidikan Islam sebagaimana digambarkan dalam Q.S. at-Tahrim [66]: 6: “Hai orangorang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” Dalam ayat ini, menunjukkan bahwa pendidikan dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama anak didik. Keluarga memiliki posisi yang sangat strategis. Pengalaman di waktu kecil mempunyai pengaruh besar bagi perkembangan anak selanjutnya. Sebagaimana pepatah Arab: ”belajar di waktu kecil bagaikan mengukir  di atas batu”.  Oleh karena itu, Islam memiliki konsep yang sangat lengkap guna membangun lingkungan keluarga yang kondusif, agar proses pendidikan dalam lingkungan keluarga berjalan dengan baik.[8]      

II. Makna Kecerdasan  Spiritual (SQ)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] kata “spiritual” bermakna rohani, batin atau kejiwaan.[9]  Dalam konteks kecerdasan spiritual berarti suatu kecerdasan rohani, batin atau kejiwaan yang dimiliki oleh manusia.

Pada akhir abad 20-an beberapa pakar mulai mengenal istilah kecerdasan yang baru, selain kecerdasan intelektual (IQ), yakni kecerdasan spiritual. Zohar dan Marshall menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan orang lain.[10] Selain itu, Zohar dan Marshall menyatakan bahwa kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) merupakan kecerdasan yang berada bagian paling dalam, terkait dengan kearifan di luar ego dan pikiran manusia.[11]

Sedangkan menurut Ary Ginanjar Agustian, kecerdasan spiritual  (SQ) merupakan potensi yang ada dalam setiap diri individu, di mana dengan potensi tersebut, individu diarahkan kepada internalisasi keimanan kepada Allah Swt. Lebih lanjut, Ary Ginanjar Agustian mendefinisikan bahwa kecerdasan spiritual sebagai kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan berdasarkan pemikiran yang bersifat fitrah atau bersih, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran integralistik, serta berprinsip bahwa setiap perbuatannya adalah semata-mata untuk ibadah atau mengabdi kepada Allah Swt. Selain itu,Ary Ginanjar Agustian menyatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah suatu kemampuan untuk memberikan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-lagkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnyadan memiliki pola pemikiran integralistik serta berprinsip hanya karena Allah.[12] Kemudian, M. Palupi dan Heru Kurnianto Tjahjono dalam teori religuisitas, menyatakan bahwa religiusitas berperan dalam pembentukan sikap dan perilaku individu di dalam organisasi.[13]

Sedangkan, Musa Asy’arie mengutip pendapat Gordon W. Allport bahwa kecerdasan spiritual dibagi menjadi dua macam religiusitas, yakni: ekstrinsik dan intrinsik. Religiusitas ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan sedemikian rupa agar individu memperoleh status darinya. Seseorang puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Seseorang beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghunjam ke dalam dirinya. Kedua, religiusitas intrinsik, adalah cara beragama yang memasukan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhunjam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan dirinya. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna, semua ibadahnya punya pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan keberagamaan yang bersih dan kasih sayang.[14]

Kemudian, Hawari dalam Musya Asya’rie, dkk. menyatakan bahwa spiritualitas adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta, sebagai contoh seseorang atau individu yang percaya kepada Allah Swt. sebagai pencipta atau sebagai Maha Kuasa. Spiritualitas mengandung pengertian hubungan manusia dengan Tuhannya, menggunakan medium shalat, puasa, zakat, haji, doa, dan aspek lainnya sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.[15]

Secara naluriah, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan ini di luar dirinya. Dalam konteks ini, bisa dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah, seperti wabah virus covid 19, dan berbagai bencana atau ketika memiliki impian yang belum segera terwujud. Manusia menyembah dan minta pertolongan hanya kepada yang Maha Kuasa, yakni Allah, Swt. yang dapat membebaskan  dari berbagai persoalan tersebut. Dalam konteks ini, Allah berfirman dalam Qs.Al Baqoroh [2]: 45, Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Dan shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang khusyuk ”  Ketika kita punya permasalahan hendaknya kita mohonkan solusinya kepada Allah Swt. dengan shalat dan sabar untuk memperoleh solusi.

III. Pendidikan Nilai-nilai Religiusitas (Parenting Islami ) dalam Keluarga sebagai Metode Penangkal Bala’  pada Saat Pandemi Virus Covid 19

Pola pendidikan kecerdasanspiritual dalam keluarga adalah ditanamkannya pendidikan yang mengasah nilai-nilai kecerdasan spiritual anak setiap hari secara rutin, meliputi: (a) tadarus Al-Qur`an setiap pagi dan setiap ba`da shalat Magrib di rumah; (b) shalat Dhuha pada pagi hari; (c) shalat wajib lima waktu berjamaah di rumah: (d) shalat qiyamul lail/ Tahajud; (f) pembiasaan puasa sunah Senin-Kamis di luar bulan Ramadhan; 

Terdapat banyak manfaat penanaman nilai-nilai spiritual (SQ) terhadap anak dalam keluarga, adalah sebagai  sebagai berikut:

1. Tadarus Al-Qur`an setiap pagi dan setiap ba`da shalat Magrib di rumah

Implementasi tadarus pagi dan setiap ba`da shalat Magrib oleh anak di rumah yang dilanjutkan dengan dzikir pagi dan sore adalah pembiasaan rutin anak dalam keluarga. Dalam konteks ini, dilaksanakan pada habis shalat Subuh dan Magrib yang  dipandu oleh Ayah atau Ibu. Tujuannya adalah untuk membiasakan dan meningkatkan pemahaman anak terhadap al-Qur’an dan implementasinya serta untuk disampaikan kepada orang lain. Terkait dengan hal tersebut, Rasulullah Saw., bersabda: ”Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R. Bukhari).[16]

Motivasi membaca Al-Qur’an tersebut terdapat dalam kandungan Hadits, dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Orang yang mahir membaca Al Qur’an, maka nanti akan berkumpul bersama-sama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan bagi orang yang kesulitan dan berat jika membaca Al Qur’an, maka ia akan mendapatkan dua pahala.”(H.R. Bukhari dan Muslim).[17]

Manfaat dari membaca dan tadarus Al-Qur’an tersebut, adalah meningkatkan pemahaman anak terhadap Al-Qur’an, dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pembiasaan dan Menegakkan Shalat

Dalam kontek ini adalah pembiasaan terhadap anak terkait urgensinya shalat, baik terkait shalat Sunah maupun shalat wajib, antara lain, yakni:

  • Shalat Dhuha
    Sholat dhuha dilaksanakan pada pagi setelah membaca Al-Qur’ansebelum pengembangan diri anak untuk belajar dimulai, yang dipandu oleh orang tua Bapak atau Ibu. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:

    Allah Swt. akan memberikan kecukupan kepada seseorang yang melakukan shalat Dhuha sebanyak 4 rakaat.”(H.R.Turmudzi).[18]

    Pembiasaan implementasi ibadah tersebut, bermanfaat terhadap pengembangan kompetensi anak pada bidang keimanan dan ketakwaan, dan terwujudnya kecukupan rezeki anak.
  • Shalat Berjamaah
    Perintah melaksanakan shalat wajib lima waktu bagi muslim dan muslimah merupakan perintah Allah Swt. Hal tersebut, merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Menegakkan shalat wajib lima waktu apalagi berjamaah ditegaskan dalam suatu hadits, Rasulullah Muhammad saw. bersabda: “bahwa shalat berjamaah melebihi dua puluh derajat dari seorang yang dikerjakan di rumahnya.(H.R. Muslim).[19] Pembiasaan implementasi ibadah tersebut, bermanfaat terhadap pengembangan kompetensi kepibadian pada bidang ketakwaan dan keimanan anak.
  • ShalatQiyamul lail/ Tahajud
    Ibadah shalat tahajud atau qiyām al-laīl dilaksanakan di rumah sehabis shalat Isya dengan pendampingan orang tua. Shalat tathawwu’ ini adalah shalat yang utama setelah shalat wajib, sebagaimana hadits Aisyah ra. berkata: “Janganlah engkau tinggalkan shalat malam, karena Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkannya.” (H. R. Abu Dawud).[20] Pembiasaan ibadah tersebut, bermanfaat terhadap pengembangan kompetensi bidang ketakwaan dan keimanan anak.
  • Puasa Sunah Senin dan Kamis
    Puasa sunah ini dilaksanakan oleh anak pada setiap hari Senin dan Kamis di mana pihak orang tua menyiapkan menu makanan untuk sahur dan berbuka.

    Rasulullah Muhammad Saw. selalu melaksanakan puasa sunah ini, sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya amal perbuatan manusia diperlihatkan pada setiap hari Senin dan hari Kamis, kemudian Allah mengampuni setiap orang Muslim atau Mukmin kecuali dua orang yang saling mendiamkan. Allah berfirman,”Tundalah pengampunan terhadap keduanya.” (H.R. Ahmad).[21]

    Pembiasaan ibadah puasa sunah tersebut, bermanfaat terhadap pengembangan kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial  anak untuk melatih suka berbagi terhadap sesama.

Dengan berbagai pembiasaan implementasi ibadah oleh anak bersama orang tuanya tersebut terhadap nilai-nilai religiusitas secara rutin, yang meliputi:

(a) tadarus Al-Qur`an setiap pagi dan setiap ba`da shalat Magrib di rumah yang dilanjutkan dengan dzikir pagi dan sore; (b) shalat Dhuha pada pagi hari; (c) shalat wajib lima waktu berjamaah di rumah: (d) shalat qiyamul lail/ Tahajud; (e) pembiasaan puasa sunah Senin-Kamis (di luar bulan Ramadhan), insha Allah keluarga kita akan mendapat perlindungan dan mau’nah dari Allah swt. dari bala’. Aamiin. 


Referensi:

[1]Pudjosumedi, Profesi Pendidikan, (Jakarta: Uhamka Press, 2013), hlm.1.
[2]Subiyantoro, “Pengembangan Pola Pendidikan Nilai Humanis-Religius Pada Diri Siswa Berbasis Kultur Madrasah di Man wates 1 Kulon Progo Yogyakarta,” Disertasi.  (Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2010), hlm.116.
[3] Ibid., hlm. 117.
[4]Azyumardi Azra. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Cetakan IV. (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), hlm.3.
[5] Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2005), hlm.101.
[6] Muhammad Anis, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Yogyakarta: Mentari Pustaka, 2012)., hlm. 9.
[7] Ibid., hlm. 17.
[8] Ibid., hlm. 227-228.
[9] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia…, hlm. 209.
[10] Danah Zohar dan Ian Mashall, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual…, hlm.4.
[11]Ibid., hlm. 8-9.
[12] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan..., hlm. 57.
[13]Majang Palupi & Heru Kurnianto Tjahjono, A Model of Religiousity and Organizational Justice : The Impact on Commitment and Dysfunctional Behavior (Proceedings of the 27 thIBMA Conference, 2016).
[14]Musya Asya’rie, dkk. Tuhan Empirik dan Kesehatan Spiritual: Pengembangan Pemikiran Musa Asya’rie Dalam Bidang Kesehatan dan Kedokteran (Yogyakarta: C-NET UIN Sunan Kalijaga, 2012), hlm.112.
[15]Ibid., hlm.113.
[16]Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim (Minhajul Muslim). Terjemahan Fadhli Bahri (Jakarta Timur: Darul Falah, 2001), hlm. 29.
[17] Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin Jilid II. Cetakan ke-4.Terjemahan Achmad Sunarto (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm. 116-117.
[18] Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih, Himpunan Putusan Tarjih: Kitab Shalat – Shalat Tathawwu’(Yogyakarta: Suara Muhamadiyah, 2011), hlm. 327.
[19] Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih, Himpunan Putusan Tarjih: Kitab Shalat Jama’ah dan Jum’ah (Yogyakarta: Suara Muhamadiyah, 2011), hlm.114.
[20]Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih, Himpunan Putusan Tarjih…, hlm. 327.
[21]Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Ensiklopedi Muslim (Minhajul Muslim). Terjemahan Fadhli Bahri (Jakarta Timur: Darul Falah, 2001), hlm. 416-417.

(Visited 341 times, 2 visits today)
Tag: , Last modified: 14 Mei 2020
Close