Pendidikan, Sains, Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Perjalanan bangsa selama 75 tahun ini, juga dapat menjadi bahan renungan, apakah penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan arah sejarah yang hendak dituju.

Bulan-bulan ini, 75 tahun yang lalu, sejumlah tokoh, merintis berdirinya sebuah negara baru: Negara Republik Indonesia. Hal yang penting untuk menjadi perhatian adalah bahwa upaya tersebut tidak lepas dari suatu keinginan untuk membentuk hari depan baru, dimana setiap manusia Indonesia memiliki kemampuan yang memungkinkannya untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Tidak dapat disembunyikan, bahwa trauma pada kolonialisme demikian hebat, sehingga apa yang dibayangkan sebagai negara baru, sesungguhnya merupakan negara yang dapat menjamin bahwa apa yang terjadi di masa kolonial tidak lagi ada pada masa nasional. Oleh sebab itulah, negara yang hendak didirikan, dari awal disyaratkan memiliki kemampuan untuk membawa bangsa kepada perubahan mendasar, yakni bangsa yang hidup dalam tatanan yang baik dan bermartabat, yang dirumuskan sebagai: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana mencapai keadaan tersebut Salah satu pilar penting dalam mencapai keadaan tersebut adalah pendidikan. Oleh sebab itulah, perkara pendidikan mendapatkan perhatian khusus sedari awal. Hal ini tampak dari terbitnya suatu edaran pemerintah pada awal Republik (September 1945), dengan sangat jelas menekan pentingnya suatu pendidikan nasional yang menggantikan pendidikan kolonial. Suatu pendidikan bagi bangsa Indonesia yang merdeka, oleh sebab itulah jiwa pendidikan digariskan secara tegas.

Adapun arah pengajaran dikatakan: Pengajaran harus memberikan segala imu pengetahuan dan kepandaian umum, yang perlu atau berguna bagi hidup lahir dan batin murid-murid dan pelajar-pelajar kelak sebagai warga negara dan sebagai anggota masyarakat dengan dasar Kekeluargaan.

Tentang pentingnya pendidikan, M. Natsir menyatakan:

 “Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu”.

Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka. Bangsa Jepang, salah satu Timur yang sekarang jadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran majunya, masih akan terus tinggal dalam kegelapan sekiranya mereka tidak mengatur pendidikan bangsa mereka; kalau sekiranya mereka tidak membukakan pintu negerinya yang selama ini tertutup rapat, untuk orang-orang pintar dan ahli-ahli ilmu negeri lain yang akan memberi didikan dan ilmu pengetahuan kepada pemuda-pemuda mereka disamping mengirim pemuda-pemuda mereka ke luar negeri mencari ilmu.

 Spanyol, satu negeri di benua Barat, yang selama ini masuk golongan bangsa kelas satu, jatuh merosot ke kelas bawah sesudah enak dalam kesenangan mereka dan tidak mempedulikan pendidikan pemuda-pemuda yang akan menggantikan pujangga-pujangga di hari kelak. (17/6/1934)

Dengan keterangan tersebut, menjadi terang kiranya bahwa salah satu titik strategis yang boleh lah dipandang sebagai lantaran sebab dari belum sepenuhnya dicapai keadaan yang menjadi cita-cita luhur bangsa adalah pendidikan. Perjalanan bangsa selama 75 tahun ini, juga dapat menjadi bahan renungan, apakah penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan arah sejarah yang hendak dituju, ataukah masih menyimpan masalah-masalah yang masih amat perlu untuk diperbaiki dan diperhebat.

Sebagai bangsa, pendidikan haruslah memberikan bangsa kemampuan untuk menjadikan semua potensi yang dimiliki dapat diaktualkan, sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan dasarnya. Bagi setiap warga, pendidikan berarti kesetaraan atas akses pada kemajuan, dan perbaikan taraf kehidupannya. Hal berarti pendidikan harus “cocok” dengan kebutuhan warga dan bangsa, dan bukan sekedar memenuhi kebutuhan industri.”

Kutipan panjang pandangan M. Natsir, hendak menunjukkan betapa pentingnya penyelenggaraan pendidikan dan terutama terus melakukan perbaikan sistem pendidikan kita. Pandemi Covid-19, dapat dikatakan merupakan tes cepat yang sangat baik untuk kita memeriksa bagaimana tata kehidupan kita secara keseluruhan, tidak terkecuali bidang pendidikan. Tentu kita mengerti bahwa dunia pendidikan telah berusaha demikian keras, baik dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada pada dirinya atau usaha untuk ambil bagian dalam proses mengatasi Pandemi Global ini.

Dari segi internal, kita masih menyaksikan bagaimana dunia pendidikan kembali didera masalah-masalah lama, seperti masalah penerimaan siswa baru. Soal-soal seperti sekolah favorit, ketidakmerataan akses pendidikan, pembiayaan dan lain-lain, masih juga muncul, kendati dalam suasana Pandemi Covid-19. Kita sulit mengerti mengapa hal tersebut masih terjadi, padahal janji perbaikan telah lama diucapkan.

Dari eksternal, kita kurang melihat bagaimana dunia pendidikan ambil peran terdepan, seperti misalnya dalam upaya mempercepat tumbuhnya kesadaran warga, bahwa satu-satunya cara cepat mengatasi pandemi adalah dengan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak).

Keadaan ini tentu saja mengundang kita semua untuk berani melakukan refleksi. Suatu cara yang lebih elegan untuk memeriksa kenyataan yang selama ini berlangsung. Tujuan kita tentu bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, atau sekedar memenuhi hasrat emosi, tetapi suatu upaya dengan arah yang sangat jelas, membuat perubahan sebagaimana yang dibayangkan oleh M. Natsir.

Hanya dengan pendidikan yang baik, akan meningkatkan kemampuan bangsa, sehingga bangsa dapat menjadikan seluruh potensi yang dimilikinya (baik manusia, alam dan posisi geografisnya yang strategis) menjadi hal yang aktual yang dapat membawa bangsa kepada hari depan yang lebih baik dan mulia.

(Bersambung)

Syamsudin, S Pd., MA

Syamsudin, S Pd., MA

Ketua Pusat Studi Pendidikan IKA UNY. Dosen UP45 Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti