Ditulis oleh 1:28 pm KABAR

Pendidikan Untuk Pengembangan Sifat Bawaan Manusia

… penting bagi orangtua untuk mengenal dan memahami sifat bawaan anak, sehingga tidak merugikan anak untuk masa-masa yang akan datang.

Dalam pandangan Islam, anak adalah amanah yang dibebankan Allah SWT kepada kedua orangtua. Dalam kaitannya dengan amanah pendidikan anak, orangtua berperan dalam : (a) memelihara kesehatan fisik dan mental anak, (b) meletakkan dasar kepribadian anak, (c) membimbing dan memotivasi anak, (d) memberikan fasilitas yang memadai, dan (e) menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi pengembangan diri anak.[1] Pengalaman orangtua mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan perilaku anak akan sangat membantu dalam mengkondisikan anak dalam pembentukan perilakunya. Dengan kata lain, apa yang dilakukan orangtua akan diikuti pula oleh anak-anaknya.[2] Oleh sebab itu, penting bagi orangtua untuk mengenal dan memahami sifat bawaan anak, sehingga tidak merugikan anak untuk masa-masa yang akan datang.

Menurut Muhammad Chirzin,[3] manusia adalah komunitas tunggal, anak cucu Adam.[4] Jika semua manusia yang hidup sekarang ini adalah anak cucu dari dua orangtua yang sama, Adam dan Hawa, maka manusia niscaya mewarisi banyak sifat dari orangtua pertama itu melalui gena-gena—sebagai sarana yang menurunkan ciri-ciri warisan dari generasi ke generasi berikutnya. Ciri-ciri yang tampak dimiliki oleh Adam dan umat manusia antara lain sebagai berikut:

  1. Keimanan akan adanya Allah.
    Keberadaan Adam dan Hawa di surga yang kemudian melakukan pelanggaran atas larangan Allah, dan tobat mereka yang diterima Allah hingga diturunkannya mereka ke bumi membuktikan bahwa Adam dan Hawa beriman kepada Allah. Keimanan kepada Allah merupakan ciri-ciri manusia yang diwariskan kepada manusia melalui gena-gena berbarengan dengan ciri-ciri lainnya.[5]
  2. Pengetahuan.
    Adam diberi anugerah pengetahuan oleh Allah sehingga praktis semua manusia memiliki potensi untuk mencari, menuntut, dan mengembangkan pengetahuan serta mengajarkannya kepada orang lain. Pada sejumlah orang, potensi itu bersifat aktif, sedangkan pada orang lain tertekan dan tidak berkembang dengan maksimal.[6]
  3. Ketergesa-gesaan dan keingintahuan.
    Adam dan Hawa melakukan eksperimen pertama dengan mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya. Barangkali ide itu muncul dari keingintahuan mereka apakah janji setan benar, bahwa jika mereka makan buah pohon terlarang itu akan menjadi malaikat dan kekal di dalam surga. Mereka pun tergesa-gesa mengiyakan rayuan setan dan melalaikan pesan Tuhan, hingga mereka menyadari kesalahan mereka dan malu, karena secara tiba-tiba bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka terlihat.
  4. Keingintahuan pada anak cucu Adam secara praktik mendorong mereka melakukan segala macam eksperimen dalam berbagai macam bidang kehidupan. Sementara, ketergesa-gesaan menyebabkannya ingin berjalan lebih cepat, dan memperoleh segala sesuatu lebih cepat pula.[7] Suatu kebetulan yang menarik, bahwa banyak eksperimen dilakukan para ilmuwan dengan tujuan tertentu, tetapi dalam banyak kasus menghasilkan hal yang berbeda. Sejarah sains dan teknologi pun penuh dengan penemuan-penemuan yang tidak terduga semacam itu.
  5. Status.
    Adam diberi status sebagai khalifatullah fil ardhi, khalifah Allah untuk “menguasai” bumi. Karena itulah praktis semua manusia tergoda dan tergila-gila mengejar status (kekuasaan). Keinginan mengejar status, kekuasaan dan supremasi inilah yang sering menimbulkan gangguan stabilitas, baik dalam lingkup kepentingan kehidupan berpribadi, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, bersuku, berbangsa, dan bernegara.[8]
  6. Penguasaan energi.
    Manusia cenderung menggali dan hingga batas tertentu mengeksploitasi energi alam semesta untuk memenuhi kebutuhan dan ketamakan hidup mereka. Salah satu perolehan ilmiah utama adalah kemampuan untuk menguasai dan memanfaatkan berbagai energi, seperti hidrotermal, tenaga nuklir, tenaga surya, dan sebagainya.
  7. Kenikmatan.
    Adam dan Hawa diperintahkan Allah bertempat tinggal di surga dan menikmati segala makanan, minuman, dan hiburan yang tersedia di sana sesuka hati, kecuali mengkonsumsi makanan dari pohon terlarang. Adam dan Hawa diberi kehidupan ideal yang penuh kenikmatan. Banyak upaya ilmiah ditujukan untuk mendatangkan kenikmatan yang dikejar kepada manusia. Sebagian dari hasil temuan yang mendatangkan kenikmatan itu membawa manfaat, namun tidak sedikit hal-hal yang dianggap mendatangkan kenikmatan itu membawa mudharat yang lebih besar bagi manusia.[9]
  8. Panjang umur.
    Kematian adalah sesuatu yang sering menghantui hati dan perasaan manusia. Adam dan Hawa ingin melepaskan diri dari rasa takut akan kematian ini, dan ingin hidup selama-lamanya dengan memakan buah dari “pohon keabadian”. Ketakutan akan kematian praktis dimiliki oleh semua umat manusia, dan kebanyakan dari manusia ingin menjalani kehidupan selama mungkin. Pujangga besar Chairil Anwar mengatakan : ”aku ingin hidup seribu tahun lagi”.
    Sebagian besar penelitian ilmiah tanpa disadari ditujukan untuk mendapatkan sarana-sarana meningkatkan rentang hidup manusia atau harapan hidup manusia. Banyak di antara kita yang di dalam mematuhi perintah Tuhan karena ingin sekali berumur panjang dan memperoleh kenikmatan selamanya di dalam surga.[10]
  9. Pakaian dan rasa malu.
    Ketika melakukan suatu pelanggaran, tersingkaplah kemaluan Adam dan Hawa, sehingga mereka berusaha menutupi organ tubuh mereka dengan dedaunan yang tersedia di surga. Barangkali karena adanya rasa malu inilah manusia kemudian mengenakan kain untuk menyembunyikan dan menutup bagian-bagian tubuh mereka yang sangat pribadi, di samping adanya faktor lain, untuk menghias dan[11] melindungi tubuh dari panas dan dingin.[12]
  10. Tergoda.
    Adam dan Hawa tergoda setan memakan buah terlarang, kemudian insyaf atas kesalahan mereka dan bertobat memohon ampun kepada Allah SWT. Sebagian besar manusia jatuh terjerumus ke dalam perangkap setan, sehingga melanggar aturan Allah dan melakukan perbuatan dosa dan kesalahan. Tetapi cepat atau lambat, banyak di antara mereka lantas bertobat dan memohon ampunan-Nya, serta kembali ke jalan yang benar.

Berkaitan dengan ciri-ciri warisan ini, Moeljono Notosoedirjo dan Latipun menyebutnya dengan istilah pengalaman awal.[13] Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi di masa lalunya. Oleh para ahli, pengalaman awal ini dipandang penting dan bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kelak kemudian hari.[14] Di sinilah arti penting sentuhan pendidikan dari kedua orangtua.


[1] Hibana S. Rahman, Pendidikan Anak Usia Dini, hlm.100-101.
[2]Azam Syukur Rahmatullah, Psikologi Kemalasan, hlm.49.
[3] Muhammad Chirzin, Kearifan AlQur’an, Eksistensi, Idealitas, Realitas, Normativitas dan Historisitas, (Yogyakarta : Pilar Media,2007),hlm.94-100.
[4] QS Al-Baqarah,2:213 dan Al-A’raf, 7:26-27.
[5] QS Al-A’raf,7:23 dan 172-173.
[6] QS Al-Baqarah, 2:31-33.
[7] QS Al-Anbiya’, 21:37.
[8] QS Al-Baqarah, 2:30 dan QS Shad, 38:26.
[9] QS Al-A’raf, 7:19 dan QS Al-Baqarah, 2:219.
[10] QS Al-Baqarah, 2: 96 dan QS Al-A’raf, 7 : 20.
[11] QS Al-Baqarah, 2 : 35-36, QS Al-Isra’, 17:85.
[12] QS Al-A’raf, 7 : 22, 26-27.
[13]Moeljono Notosoedirjo & Latipun, Kesehatan Mental, Konsep dan Penerapan, (Malang:Penerbitan UM Malang, 2002), hlm.81.
[14]Ibid.

(Visited 56 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 1 Juni 2020
Close