Ditulis oleh 8:39 am PENDIDIKAN

Pendidikan yang Memerdekakan

Pemerdekaan jiwa inilah Ruh pendidikan. Yakni ‘pemerdekakan’ jiwa manusia dari ketidakmampuan untuk menentukan pilihan dan menanggung konsekuensi dari setiap pilihannya.

Hakekat Kemerdekaan adalah keberanian untuk memilih dan menanggung segala resiko atas pihannya.

Jika seseorang tidak punya keberanian memilih atau berani memilih tapi tidak berani mengambil konsekuensi atas pilihannya, berarti tidak memiliki kemerdekaan.

Demikian karena kemerdekaan adalah fitrah yang dilekatkan Alloh SWT pada setiap jiwa dan menjadi penanda eksistensinya di dunia.

Jika kemerdekaan hilang dari jiwa, maka eksistensi kemanusiaanyapun turut hilang. Keberadaannya menjadi tidak terasa walau secara fisik sosoknya masih ada.

Begitu berharganya kemerdekaan, Alloh SWT, sebagai dzat yang maha kuasa, tidak pernah mengambilnya. Dia tidak pernah memaksakan kehendak kepada manusia yang notabene berada dalam kekuasaanNya.

Kepada manusia Dia hanya menunjukkan dua jalan: Kemuliaan dan Kesesatan. Dengan segala konsekwensinya dan kemudian mempersilahkan setiap manusia untuk memilihnya. (Qs 2: 256).

Semuanya disampaikan dengan sangat gamblang, detil dan terbuka. Ini jalan keselamatan, jika berjalan di atasnya maka akan mulia hidup manusia di dunia dan akherat. Dan ini jalan kesesatan, jika berjalan di atasnya maka akan nista hidupnya, di dunia dan akherat.

Lalu Alloh SWT mengutus RasulNya dan dilanjutkan oleh ahlul ilmu untuk menyampaikan kepada manusia. Maka berjalanlah proses pemerdekaan dalam kehidupan yakni pendidikan, mulai dari diri pribadi, keluarga, dan bangsa.

Karena hidup adalah deret pilihan, dimana setiap saat orang dihadapkan pada pilihan dan setiap pilihan akan mempengaruhi pilihan selanjutnya. Maka proses pemerdekaan (pendidikan) pun harus berjalan sepanjang waktu hingga batas akhir hidupnya dan harus terus berkembang seiring dengan berganti dan berkembangnya pilihan. Bahkan ketika secara fisik orang sudah tidak bisa lagi bergerak, proses pilihan masih berjalan dalam jiwanya.

Ruh Pendidikan.

Pemerdekaan jiwa inilah Ruh pendidikan. Yakni ‘pemerdekakan’ jiwa manusia dari ketidakmampuan untuk menentukan pilihan dan menanggung konsekuensi dari setiap pilihannya. Baik ketidakmampuan yang disebabkan oleh ketidakmauan (motivasi), ketidakpahaman (ilmu) maupun yang disebabkan oleh keterbatasan fisik (skill).

Karena itu dalam pendidikan harus terkandung tiga dimensi peningkatan: pelurusan motivasi, penguasa ilmu, dan ketrampilan amal. Jika salah satu saja hilang maka hilanglah ruh pendidikan.

Dalam perspektif inilah, kita musti merenungkan. Setelah 75 tahun merdeka, masih adakah Ruh Pendidikan dalam kehidupan bangsa Indonesia?

Faktanya, justru kita dapatkan fakta tragis yakni hilangnya proses pemerdekaan (ruh pendidikan) baik di lembaga formal (sekolah/PT), keluarga dan masyarakat.

Jargon Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka nyatanya baru menyentuh aspek tekhnis operasional, memerdekakan kerja guru, dosen dan peserta didik dari perangkap administratif. Tapi secara fundamental belum memerdekakan sekolah dan kampus dari kehendak (kooptasi) industri. Semua manusia yang terlibat di dalamnya masih ditempatkan dan menempatkan sebagai obyek dan organ Industrialisasi.

Hal ini bisa dilihat dari parameter sukses yang sadar tidak sadar diterapkan baik personal maupun lembaga, hanya disandarkan pada tingkat keterserapan oleh dunia industri.

Akibatnya, alih alih memerdekakan jiwa, proses ‘pembelajaran’ justru memenjarakan jiwa dalam sangkar dunia. Sehingga seluruh hidupnya tidak bisa lepas dan hanya berorientasi pada dunia.

Pendidikan direduksi menjadi sekedar pengajaran. Pengajaranpun hanya sekedar untuk memenuhi prasarat mendapatkan dunia (kerja), yang secara formal disimbolkan dengan selembar kertas bernama ijazah. Sementara peningkatan kemandirian,kreatifitas dan keberanian untuk menentukan pilihan sering diabaikan.

Demikian maka banyak kita saksikan paradok kemerdekaan: dimana orang yang hidup di negeri merdeka, secara fisik terlihat merdeka (pandai, berkedudukan dan berlimpah harta), jiwanya justru menderita. Padahal buah dari kemerdekaan adalah bahagia dunia dan akherat.

Pendidikan yang Memerdekakan.

Jika bangsa ini ingin tetap merdeka dan terus berkembang serta hidup bahagia,maka pendidikan yang memerdekakan menjadi niscaya adanya. Karena hanya melalui pendidikan yang memerdekan, jiwa manusia bisa berkembang dan bahagia.

Yakni pendidikan yang melepaskan jiwa dari perangkap dunia. Yang mengembangkan jiwa tetap dalam fitrah kamanusiaannya sebagai pemimpin dunia (khalifah fil ardi) dan tetap merdeka. Tidak pernah tunduk kecuali hanya kepada khaliknya (‘abdulloh).

Pendidikan yang mengukur kesuksesanya tidak dengan angka dan kepemilikan harta. Tetapi dengan kelurusan hati (iman), ketundukan jiwa (ketaatan ibadah) kedalaman ilmu, dan kemanfaat hidup (kwalitas amal).

Pendidikan yang tidak mengajarkan dunia sebagai realitas ansich, obyek yang harus diekploitasi dan dimiliki. Tetapi dunia sebagai fenomena sifat Alloh SWT, yang maha kuasa, kaya, pemurah, pengasih dan penyayang. Dunia sebagai rahmat sekaligus amanah yang harus disyukuri dan dijaga.

Pendidikan yang menempatkan manusia sebagai jiwa mulia (ahsanu takwim) yang harus dimuliakan dan siap memuliakan (bersinergi). Bukan makhluk tak berdaya yang bebas dimanfaatkan, atau musuh yang harus dikalahkan bahkan dilenyapkan.

Pendidikan yang melazimkan fikir dan dzikir dalam setiap aktifitas pembelajarannya.

Sehingga terlahir darinya generasi yang jiwanya merdeka dari ikatan dunia. Hati dan fikirannya selalu terkagum dengan kekuasaan Alloh SWT. Hingga ketika melihat dunia tidak ada hasrat kecuali untuk menjadikan sebagaia wasilah pengabdian kepada penciptanya, seraya berseru Robbana ma Kholakta hadza baatila subhanaka fakina ‘adzabannaar.

Sekarang setelah 75 tahun merdeka. Pendidikan yang memerdekakan, masih adakah di Indonesia?

Baca juga: Hijrah Peradaban

(Visited 30 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 31 Agustus 2020
Close