Ditulis oleh 8:53 am COVID-19

Pengalaman Lapangan Menghadapi COVID 19, Dalam Rangka Ikut Mencerdaskan Bangsa

Di tengah masyarakat, saat menghadapi wabah, harus mengambil peran, berusaha berinisiatif dengan berfikir jernih, rasional.

Oleh: Dra. Shomiyatun, M.Pd.I

Awal mula Mendengar berita tentang wabah virus Corona, kami mensikapi  biasa biasa saja, sekedar oh iya ada virus Corona dari Negeri Cina. Sambil mencermati kebenaran berita itu, lalu semakin santerlah berita itu dengan beraneka ragam informasi, ada yang menyampaikan berita bahwa munculnya virus Corona diakibatkan karena  orang yang makan makanan secara sembarangan termasuk makan daging  tikus, ular dan  kelelawar di pasar tradisional didaerah Wuhan Negeri Cina. Mendenar  berita itu ya, kami berusaha memberikan penjelasan dan pengertian pada anak anak dan ahli keluarga bahwa Itulah pentingnya memperhatikan makanan yang baik, yang halal, yang barokah. Sehingga semuanya dapat hidup sehat.

Berita semakin gencar menghiasi media masa, radio, televisi, WA, dengan beraneka sajian berita, ada pasien yang sakit kemudian jatuh meninggal dunia, dan berbagai berita tentang bahya virus Corona dan upaya pencegahannya. Mendengar  berita itu  sedikit mulai  ikut menyimak, bahkan ada berita Virus Corona yang konon virus Corona itu  merupakan salah satu virus yang sengaja di munculkan oleh orang orang  tertentu dari Negara Adidaya sebagai alternative senjata pemusnah massal dalam rangka untuk mengurangi populasi kepadatan penduduk dunia, dan ketika banyak negara yang porak poranda akan semakin besar ketergantungannya kepada orang orang yang menguasai modal di Negara Adi daya itu.

Menyimak dan memperhatikan beraneka ragamnya serta kontroversinya informasi berita satu dengan yang lain itu, kami kurang tertarik karena berita itu perlu di klarifikasi kebenarannya sebatas itu saja, toh itu tidak ada di Negeri Indonesia. Jadi upaya kami tetap mengajak menjaga iman, berfikir realistis, berhati hati ketika menerima berita, ya sebatas menghimbau sambil ngaji bersama jamaah majlis taklim, menyisipkan pesan pesan  yang ada dalam Al-Quran, seperti yang tertera dalam Al-Quran  Surat Al-Hujurat ayat 6  yang maknanya ”Hai orang orang yang beriman jika datang kepadamu orang orang fasik memberikan berita, maka supaya diklarifikasi (sebaiknya tabayyun) supaya tidak menjadikan musibah pada suatu kaum atau masyarakat yang belum tahu, yang mengakibatkan kamu sekalian menyesal.”

Aktivitas kami sebagai  Ibu asuh Taman Asuhan Yatim Piatu Fakir Miskin Yayasan Al-Islam, pngasuh pengajian ibu ibu diwilyah Glendongan Tambakbayan, Ketua Forhati DIY, dan secara formalnya sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta biasa biasa saja, hanya pada saat ada musyawarah pengurus Yayasan Al-Islam di isi  maungidhoh hasanah  oleh  Prof. Ir. H. Syarif, mengupas  ayat al-quran  “Falyandzuril Insaanu Ilaa Tho’aamih”, yang maknanya “Hendaknya manusia itu memperhatikan tentang makanannya, sampai contoh contoh orang yang makan secara sembarangan,  akibatnya jadi sakit, ada  makanan itu baik tapi bagi orang yang usianya sudah tua yang punya darah tinggi ya  sebaiknya tidak makan daging sate kambing. Sampai kepada contoh contoh yang beraneka ragam, satu diantaranya virus Corona di Cina yang  oleh WHO sudah dinyatakan Covid 19 dan sudah menjadi pandemic International, bukan hanya dari Wuhan Negeri Cina saja.

Berangkat dari penjerlasan Prof. Ir. H. Syarip salah seorang cendekiawan muslim yang sudah mengunjungi lima benua yang tinggal di kompeks BATAN Jl. Babarsari dengan penjelasan yang runtut, mulailah saya mencoba memperhatikan, menyimak dan belajar bersama anak anak dan suami, lebih terhentak lagi ketika Presiden Republik Indonesia sudah menyampaikan bahwa Covid 19 telah masuk ke Indonesia, Gubernur DKI Jakarta bpk Anies Baswedan menyampaikan bahwa Jakarta sudah masuk zona merah untuk Covid 19, sudah banyak yang dinyatakan positip kena Covid 19 , begitu juga daerah Istimewa Yogyakarta terjadi perbincangan yang semakin ramai, terlebih ketika sebagian sekolah sudah menyatakan belajar di rumah, bahkan Sri sultan Hamengkubuwono yang tadinya belum berkenan menetapkannya, pada akhirnya juga menyampaikan supaya anak anak sekolah belajar di rumah mulai 23 sampai 31 Maret 2020, bahkan diperpanjang sampai 14 April 2020.

Ditengah masyarakat, kami harus mengambil peran, berusaha berinisiatif dengan berfikir jernih rasional bahwa wabah itu dari dulu sudah ada, yang sengaja kami sampaikan lewat majlis majlis taklim, bahwa sebagai ornag muslim hendaknya selalu memohon pertolongan kepada Allah, dengan ikhtiar ikhtiar, mengajak diri dan  orang lain, dengan mengambil hikmah, ikhtiar kami antara lain:

1. Mengajak diri, keluarga, jamaah masjid dan warga masyarakat sekitar selalu berusaha menjaga wudhu ditempat kran air yang mengalir, meskipun tidak mau melaksanakan sholat lima waktu, tetap usahakan menjaga wudhu dengan ikhtiar ini, insya Allah akan  terjaga kebersihannya diri kita, sehingga virus Corona tidak nempel di tubuh kita, kalau orang lain menyarankan cuci tangan dengan sabun,  kita ikuti saja namun jangan sampai berlebih lebihan, kita sudah melakukan mandi sehari dua kali dan berwudhu dengan baik Insya Allah selain sehat, besuk di yaumil Qiyamah akan dibangkitkan dalam keadaan wajahnya bersinar, manga yang sudah terbiasa ditingkatkan, dan yang belum terbiasa mulai dibiasakan

2. Menggiatkan Melaksanakan sholat jamaah di masjid dengan tertib setiap hari, selain sholat lima waktu gerakan sholat tahajud, membaca Al-Quran surat Al-Kahfi kita giatkan setiap malam jumat dan menggiatkan majlis majlis Al-Quran/Majlis taklim, bahkan dari yang sudah ada kita tambahkan pengajian Takmir Masjid seminggu satu kali. Terkait dengan Sholat jamaah di masjid ini mulai terjadi kontra versi karena sebagian sudah mendengar fatwa Ulama bahwa supaya sholat dirumah, namun kami, suami dan anak anak tetap mengajak jamaah di Masjid. Dengan alasan yang sederhana saja: Ketika terjadi gempa bumi Bantul Yogyakarta, Masjid masjid di penuhi dan dibuka dapur umum untuk melayani masyarakat, la sekarang ada Covid 19 orang orang malah dianjurkan sholat dirumah, coba mari berfikir sejenak, saat ini hujan hampir setiap hari mengguyur bumi wilayah kita, bahkan gunung Merapi beberapa waktu yang lalu dinyatakan mulai aktif kembali mengeluarkan asap,  kalau terjadi Corona dan gempa bumi bersamaan kemana masyarakat akan lari ?. Bagi orang muslim hanya lari kepada Allah, wujudnya lari ke rumah Allah, yaitu lari ke Masjid. Maka Insya Allah kami menganjurkan siapa yang masuk Masjid aman. Mari difikir secara jernih, tidak ada maksud membangkang terhadap fatwa majlis Ulama dan melawan aturan pemerintah untuk tidak takut dan tidak menghadang merebahnya covid 19,sebagai muslim mukmin  jangan sampai melebihi takutnya kepada Allah, apalagi sampai panic. Kepanikan itu sudah bagian dari salah satu virus tersendir ilo, sambil kami beri pencerahan bahwa:

a.Wilayah kita belum ada yang dinyatakan positip Covid 19 terutama di wilayah RW 85 04 Tambakbayan ini.

b. Kita wajib menghindari dan tidak boleh mendatangi daerah yang dinyatakan jelas jelas merebaknya wabah penyakit. La daerh kita belum ada wabah lo, baru kabarnya di sana-disana.

Maka sifatnya kita sebatas preventif, maka Insya Allah kita jaga dan mengantisipasi dengan doa di Masjid, sambil kami berikan penjelasan yang intinya:

Pada suatu saat akan  ada tujuh golongan yang akan dapat naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah satu diantaranya orang yang hatinya tertaut di Masjid. Al hamdulillah kami dan masyarakat bisa tetap berjamaah di Masjid Al-Iman Glendongan Tambakbayan.

Dra. Shomiyatun, M.Pd.I saat menjadi pembicara diskusi buku Prophetic Parenting, Cara Nabi Mendidik Anak, bersama Prof. Dr. Hj. Aliyah Rasyid Baswedan, M.Pd, 15 November 2019 di Yayasan Abdurrhman Baswedan.

Beriring dengan berjalannya waktu, desakan ajakan untuk tinggal dirumah dan sholat dirumah bahkan  info masjid masjid di Yogyakarta lock down semakin banyak, bahkan  suami kami mendapat ancaman lewat WA mau ditantang ketemu secara fisik, oleh salah satu ketua RT , yang sebenarnya dia ketua RT yang memberi ancaman itu tempat tinggalnya tidak satu Rt dengan wilayah yang kami tempati, tentu suami kami merasa kurang nyaman akhirnya kami memberikan penjelasan ke warga lewat WA bahwa Adzan tetap dikumandangkan sebagai tanda datangnya waktu sholat lima waktu, dan bagi yang ingin sholat di Masjid mangga dipersilahkan, toh Takmir Masjid juga sudah berusaha masjidnya semua karpet di gulung di pel, dan disemprot dengan disinfektan, dan juga disiapkan soaphand (Sabun cuci tangan), baik didekat tempat wudhu maupun dekat pintu masuk Masjid. Untuk Menjaga kemaslahatan setelah berkoordinasi dengan beberapa pengurus takmir sepakat bahwa Jumatan di Masjid Al-Iman tempat kami berjamaah, oleh suami di umumkan bahwa Jumatan pada tgl 27 Maret 2020 diistirahatkan di Masjid Al-IMAN diganti sholat dhuhur biasa sampai menunggu kebijakan lebih lanjut, namun untuk sholat 5 waktu Masjid tetap difungsikan. Insya Allah aman, Alhamdulillah daerah kami aman dari covid 19, semoga selanjutnya juga tetap aman.

1. Ajakan untuk menggiatkan kembali dan meningkatkan shodaqoh, kami sangat meyakini bahwa Ashodaaqotul daful balak. Ajakan bershodaqoh tentu kita awali dengan diri sendiri dan keluarga, karena kegiatan shodaqoh rutin ini sudah terbiasa di masyarakat lingkungan kami, seperti:

a. Menyantuni anak anak yatim piatu fakir Miskin untuk memberikan fasilitas belajar mulai tingkat SD sampai tamat SMA, juga santunan berupa sembako kepada orang orang sekitar yang dirumahnya ada bapak Ibu yang berusia diatas 60 th yang  kondisi ekonominya memprihatinkan, juga kita berikan bantuan shodaqoh, kita lakukan setiap bulan sekali, sedang anak yatim piatu fakir miskin yang tinggal bersama kami kita berikan fasilitas penuh mulai dari makan minum dan biaya sekolah. Aktifitas rutin ini ada covid 19 atau tidak, Alhamdulillah tetap berjalan.

b. Ajakan memberi makanan dan minuman disetiap selesai sholat subuh di Masjid dan makan siang di Masjid Al-Iman, yang diprakarsai suami, kluarga kami da nada yang dijadwal seperti takjil Romadhon da nada yang memberikan dengan spontanitas dan suka rela.

c. Gerakan membeli asid dengan harga berfariasi, mulai dari sepuluh ribu, lima belas ribu, dua puluh ribu, dan yang sudah punya botonya diberi kesempatan untuk isi ulang sampai bulan Romadhon tiba.Dan juga gerakan membeli masker kain dengan harga lima ribu sampai sepuluh ribu, yang dilayani oleh anak kami sendiri dan di produksi oleh keponakan kami yang sebelumnya usaha konveksi pengrajin tas.

d. Gerakan shodaqoh membangun Masjid, karena masjid Al-Iman yang kami tempati itu skalanya kecil, maka masyarakat kita ajak membangun perluasan pengembangan masjid Al-Iman, yang kami dapat amanat menjadi salah satu pengurus bagian penggalangan dana, dan suami sebagai ketua 1 Takmir Masjid Al-Iman, sebelum terjadi Covid 19 ini sudah sepakat panitia pembangunan,takmir masjid dan warga masyarakat memulai membangun Masjid, dengan perencanaan anggaran 3,5 M dalam bentuk swadaya masyarakat,  diatas tanah 254 m dimulai sekitar bulan Juni 2019 sampai bulan Maret 2020 ini Alhamdulillah masih tetap berjalan, alamatnya  di RT 15 RW 85 04 Tambakbayan Caturtungggal Depok Sleman Yogyakarta dengan desain berlantai dua, sampai bulan Maret 2020 belum selesai, dengan semarak covid 19 ini  masih tetap dilaksanakan tergetnya awal romadhon tahun ini sudah dapat dipakai. Beriring dengan seruan ajakan dikampung kami,  gang gang masuk bertulisan lock down, maka mulai tgl 28 Maret 2020, Ketua Panitia Pembangunan setelah berkoordinasi dengan pengurus menyampaikan bahwa semua pekerja (+- 15 orang) di istirahatkan, dengan alasan kehati hatian mengantisipasi masuknya covid 19, pertimbangan berikutnya dengan suasana covid bantuan dari masyarakat dan jamaah serta simpatisan masyarakat tidak dapat berjalan lancar, bahkan dapat dibilang dananya habis. Berdasarkan laporan bendahara pembangunan, bahwa saat pertemuan bersama dengan pengurus RT RW dan segenap tokoh masyarakat, sudah terserap baik yang berupa uang maupun material terkumpul hamper satu Milyard, sedang sampai bulan maret uang tinggal cukup untuk membayari tukang selama satu minggu kedepan. Maka saat ini kegiatan pembangunan masjid di Istirahatkan, semoga beriring dengan meredanya covid 19 nanti berangsur angsur dapat simpatisan masyarakat muslim khususnya dan dapat mulai kembali.

e. Gerakan shodaqoh memberi makan siang, ditengah masyarakat yang  ramai membicarakan corona atau covid 19, maka di akhir bulan maret 2020 ini sudah mulai berbicara sulitnya berjualan, kesulitan mencari bahan, kesulitan ekonomi dan sebagainya, maka kami berniat memberikan shodaqoh makanan ala kadarnya, alhamdulilah didukung oleh simpatisan dapat menghadirkan dan menyalurkan nasi box kurang lebih 50 nasi bok, kita bagikan ditengah jamaah dan masyarakat sekitar dengan cara kami mengirim seseorang untuk memberikan door to door ke rumah dengan nama nama yang sudah kami berikan dari tempat kediaman kami.

2. Memberikan pencerahan lewat Media You tube, suami dengan anak anak menghadirkan pengajian lewat on line, dapat di akses melalui “prospecTiVe Channel”, kami kirim kegroup group yang kami kenal, bagaimana sikap manusia menghadiapi Virus Corona /Covid 19, Misalnya kajian Quran Surat Al- Maarij ayat 18-25, ada manusia yang berkeluh kesah ada yang tidak berkeluh kesah, bagaimana jawaban orang muslim mukmin, mangga dapat disimak dengan membuka channel tersebut.

Itu sekilas yang dapat kami sampaikan, belum banyak yang bisa kami lakukan, yang jelas saling mendoakan dan saling berbuat semoga dapat menata diri, kluarga dan masyarakat, untuk antisipasi kegiatan kegiatan selanjutnya, sekecil apapun, ikhtiar dan berbuat kepada Allah kita bertawakkal, semoga kita selalu dikaruniai kesehatan yang barokah.

Penulis: Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) dan Dosen LB. di Universitas Pembangunan Negeri Yogyakarta

(Visited 716 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 6 April 2020
Close