14.8 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Penggunaan Internet dan Media Sosial Mengarah Pada Depresi dan Trauma Sekunder Selama Pandemi COVID-19

Apakah anda sering mencari informasi kesehatan seputar informasi kesehatan COVID-19 di internet dan media sosial? Mungkin ada baiknya untuk berhenti sejenak. Menurut para peneliti dari Penn State dan Jinan University, penggunaan internet dan media sosial yang berlebihan untuk mencar informasi kesehatan seputar COVID-19 dapat mengarah pada depresi serta trauma sekunder.

Bu Zhong, profesor jurnalisme dari Penn State mengatakan, mereka menemukan bahwa penggunaan internet dan media sosial memiliki manfaat hingga titik tertentu, oleh karena memang memberikan dukungan informasional, emosional, dan sosial terkait dengan topik kesehatan COVID-19. Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan justru akan menyebabkan masalah kesehatan mental. Hasil dari studi menyiratkan bahwa mengambil jeda dari internet dan media sosial dapat meningkatkan kesehatan dan kesegaran selama pandemi. Hal ini sangat penting untuk mengurangi kerusakan kesehatan mental oleh karena pandemi.

Studi tersebut, yang telah dipublikasikan secara online pada 15 Agustus dalam jurnal Computers in Human Behavior, menggunakan relawan sebanyak 320, yang bertempat tinggal di distrik perkotaan Wuhan, Cina. Pada Februari 2020, para peneliti memberi para relawan sebuah survei online yang menyelidiki bagaimana para relawan mengakses dan berbagi informasi kesehatan dengan anggota keluarga, teman, dan kolega di media sosial, khususnya WeChat, aplikasi seluler media sosial paling populer di China.

Para peneliti menggunakan instrumen yang dibuat untuk mengukur tingkat kecanduan akan Facebook untuk dapat menilai penggunaan WeChat oleh para relawan. Menggunakan skala tipe Likert 5 poin, dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju, survei tersebut menilai pandangan peserta tentang WeChat dalam memberikan dukungan informasional, emosional, dan sosial kepada mereka. Survei tersebut juga menilai perubahan perilaku kesehatan para relawan oleh akibat menggunakan media sosial.

Pernyataan terkait dukungan informasi diantaranya adalah, ‘menggunakan WeChat untuk mendapatkan informasi tentang cara mengatasi epidemi virus corona’, dan ‘jika memiliki pertanyaan atau memerlukan bantuan terkait epidemi virus corona, biasanya saya dapat menemukan jawabannya di WeChat.’ Pernyataan yang terkait dengan dukungan emosional antara lain, ‘Tingkat stres menurun saat berinteraksi dengan orang lain di WeChat,’ dan ‘Informasi kesehatan di WeChat membantu mengurangi perasaan kesepian.’ Pernyataan terkait dukungan sosial antara lain, ‘menggunakan WeChat untuk berbagi saran tentang pengelolaan epidemi virus corona,’ dan ‘telah menggunakan beberapa informasi yang dipelajari dari teman WeChat sebagai bagian dari strategi manajemen untuk mengatasi epidemi virus corona.’

Survei tersebut juga menyelidiki perubahan perilaku kesehatan para relawan terkait dengan penggunaan WeChat, dengan cara meminta mereka untuk menilai pernyataan seperti, ‘Informasi kesehatan di WeChat telah mengubah banyak perilaku kesehatan, namun tidak terbatas pada penggunaan masker wajah, menggunakan pembersih, atau mencuci tangan.’

Untuk menilai depresi, para peneliti menggunakan 21 item Depression Anxiety Stress Scale di mana relawan menilai pernyataan seperti, ‘tidak bisa merasakan perasaan positif sama sekali,’ dan ‘merasa hidup tidak berarti.’

Menurut Zhong, trauma sekunder mengacu pada perilaku dan emosi yang dihasilkan dari pengetahuan tentang suatu peristiwa traumatis yang dialami oleh orang lainnya yang penting bagi individu tersebut. Dengan menggunakan Skala Stres Trauma Sekunder, para peneliti meminta responden untuk menilai pernyataan seperti, ‘jantung yang mulai berdebar-debar ketika memikirkan tentang epidemi virus corona,’ dan ‘mengalami mimpi yang mengganggu tentang epidemi virus corona.’

Zhong dan para peneliti lain menemukan bahwa penduduk Wuhan memperoleh informasi dan dukungan sosial yang besar, namun terdapat sedikit kurang dukungan emosional ketika mereka mengakses dan berbagi informasi kesehatan tentang COVID-19 dalam WeChat. Para relawan juga melaporkan serangkaian perubahan perilaku kesehatan, seperti peningkatan mencuci tangan dan penggunaan masker wajah.

Lebih dari setengah dari responden melaporkan beberapa tingkat depresi, dengan hampir 20% darinya menderita depresi tingkat sedang atau berat. Di antara para responden yang melaporkan trauma sekunder, sebagian besar melaporkan tingkat trauma yang rendah (80%), sementara lebih sedikit yang melaporkan tingkat trauma sedang (13%) dan tinggi (7%). Tak satu pun dari relawan yang melaporkan mengalami gangguan depresi atau traumatis sebelum survei tersebut dilakukan.

Zhong mengatakan bahwa hasil dari studi, yang juga ditulis oleh Yakun Huang dan Qian Liu dari Jinan University, tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial terkait dengan depresi dan trauma sekunder selama bagian awal wabah COVID-19 di Wuhan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan mengambil jeda dari internet dan media sosial dari waktu ke waktu dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mental orang selama pandemi COVID-19.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Penn State. Naskah pertama kali ditulis oleh Sara LaJeunesse. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA