Penolakan Dibuka Kembalinya Universitas di US

Penolakan
Dalam suatu kasus, terdapat anggota-anggota fakultas universitas mengeluarkan suara 'tidak percaya' untuk menunjukkan bahwa kanselir mereka mengabaikan kekhawatiran mereka.

Dengan semakin bertambahnya korban oleh virus corona atau COVID-19, banyak orang yang khawatir akan pembukaan sekolah, khususnya di Amerika. Terdapat banyak gelombang aktivis yang tengah menyapu kampus-kampus di Amerika Serikat di tengah krisis COVID-19. Di seluruh negeri, para pekerja dari universitas, yang diantaranya adalah anggota fakultas dan staf yang mengajar di kelas dan laboratorium, serta staf yang bertuga membersihkan asrama mahasiswa, menolak untuk bekerja di kampus bersama mahasiswa, dimana hal tersebut, menurut mereka, mempertaruhkan kesehatan mereka.

Salah satu kelompok pekerja telah mengajukan gugatan terhadap sistem University of North Carolina (UNC), yang juga mencakup 16 institusi di seluruh negara bagian. Gugatan tersebut diajukan karena diklaim bahwa sistem UNC tersebut belum menyediakan tempat kerja yang aman bagi para stafnya.

Selain gugatan tersebut, banyak kelompok lain yang mengadakan protes, yang di dalamnya juga terdapat demostran ‘orang mati’, yang mensimulasikan kematian akibat virus corona, untuk menuntut diberlakukannya kelas jarak jauh dan lebih banyak pengujian untuk COVID-19. Dalam suatu kasus, terdapat anggota-anggota fakultas universitas mengeluarkan suara ‘tidak percaya’ untuk menunjukkan bahwa kanselir mereka mengabaikan kekhawatiran mereka.

Irene Mulvey, presiden American Association of University Professor (AAUP) mengatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya melihat gelombang aktivisme fakultas, yang bagus untuk profesi tersebut. Dirinya menambahkan bahwa krisis akibat COVID-19 dan keputusan buruk yang dibuat benar-benar membahayakan nyawa memperkuat fakultas-fakultas untuk mengambil tindakan melawan.

Katalis Protes

Gerakan-gerakan baru ini bermunculan ketika infeksi dari COVID-19 di kampus-kampus AS mulai berkembang dan bertambah. Penyebaran yang terjadi, seperti di UNC-Chapel Hill, dimulai setelah institut tersebut dibuka pada awal Agustus lalu. Dan dalam hari pembelajaran digeser menjadi pembelajaran jarak jauh, dan para pelajar mulai keluar dari asrama mereka. Pada 3 September, 1.075 siswa dan 60 karyawan di universitas tersebut dinyatakan positif virus corona. Bila dilihat secara menyeluruh, menurut New York Times, sekitar 24.000 kasus COVID-19 muncul di universitas AS sejak akhir Agustus.

Para pekerja kampus berpikir bahwa universitas mendasarkan keputusan untuk melakukan pembukaan kembali pada sudut pandangan keuangan mereka yang suram dan bukan karena pertimbangan keamanan. Pendanaan federal dan negara bagian untuk universitas negeri telah menurun dalam beberapa tahun terakhir di Amerika Serikat. Hal ini menyababkan universitas semakin bergantung pada uang sekolah dan biaya lainnya untuk dapat terus membuka pintu mereka.

Administrator khawatir bahwa para mahasiswa, yang kini harus dihadapkan dengan pembelajaran jarak jauh, kemungkinan akan menunda pendaftaran mereka hingga tahun 2021. Serta dengan menggunakan internet untuk pembelajaran artinya akan menghilangkan pendapatan kampus dari konsumsi serta asrama. Contoh telah diberikan pada 27 Agustus, oleh kanselir UNC-Chapel Hill, Kevin Guskiewicz, yang mengatakan bahwa universitasnya akan kehilangan 55 juta US dolar dari uang hasil asrama dan makan selama semester ini.

Untuk universitas-universitas yang berada dalam posisi ini, menurut Jay Smith, seorang profesor sejarah di UNC-Chapel Hill dan wakil presiden cabang AAUP, keputusan untuk membuka kembali selama pandemi bergantung pada salah satu dari dua pilihan. Yakni mengambil risiko bencana kesehatan masyarakat atau menghadapi bencana keuangan.

Bahkan terdapat seorang profesor sains di Northern Arizona University (NAU) di Flagstaff, yang namanya tidak disebutkan menyatakan bahwa situasi ini “menakutkan”. Kesemuanya ini tentang uang pendaftaran, dan menganggap bahwa dirinya juga ikut bertanggung jawab atas tindakkan mempertahankan berjalannya kamus mereka. Kelas tatap muka di NAU telah dimulai pada 31 Agustus, dengan beberapa siswa diajar secara langsung dan yang lainnya menggunakan sistem online, secara bergantian. Sejauh ini, tujuh kasus COVID-19 telah terkonfirmasi di kampus tersebut.

Banyak universitas yang mengatakan bahwa mereka telah melakukan yang terbaik untuk membuka kembali kampus mereka dengan aman, dengan menekankan bahwa banyak siswa masih menginginkan kelas tatap muka. Beberapa juga menggarisbawahi bahwa staf dapat meminta untuk memberikan pengajaran secara online. Juru bicara lembaga tersebut mengatakan dalam email bahwa semua karyawan NAU, termasuk fakultas dan staf, dapat meminta akomodasi atau modifikasi tempat kerja. Termasuk kemungkinan mengajar / bekerja dari jarak jauh.

Penolakan

Kesehatan serta keselamatan tentunya menjadi suatu prioritas utama dalam pembukaan kembali sekolah-sekolah serta universitas. Pemaksaan untuk terus beroperasi tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan tentunya menjadi isu yang besar bagi banyak karyawan dan tenaga kependidikan. Beberapa pekerja bahkan memiliki pendapat bahwa memaksa tenaga pendidik untuk mengajar secara langsung adalah sesuatu yang ilegal.

Pada 10 Agustus, anggota fakultas, mahasiswa pascasarjana dan staf di beberapa institusi dalam sistem UNC mengajukan gugatan class action di Pengadilan Tinggi Wake County. Mengklaim bahwa hak mereka atas ruang kerja yang aman telah dilanggar oleh rencana pembukaan kembali kampus. Penggugat diantaranya adalah Zofia Knorek, seorang mahasiswa pascasarjana ekologi dan asisten peneliti di UNC-Chapel Hill, dan pengurus asrama Jermany Alston, yang juga bekerja di UNC-Chapel Hill.

Knorek, yang merupakan penggugat dalam kasus pengadilan sistem UNC, menekankan bahwa aktivismenya bukanlah gangguan dari sainsnya. Namun justru terhubung dengannya. Dirinya menegaskan bahwa mengejar keadilan sosial sangat penting dalam ekologi (dan sebaliknya) karena banyak masalah lingkungan yang dihadapi, seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan lain-lain, adalah akibat langsung dari konsumsi sumber daya alam yang sangat tidak adil.

Meskipun undang-undang negara bagian tersebut membatasi kekuatan serikat di Carolina Utara, organisasi seperti AAUP dan UE local 150, serikat pekerja layanan publik Carolina Utara, dimana mereka mewakili staf dan mahasiswa pascasarjana, telah bergabung untuk menentang rencana pembukaan kembali, yang juga termasuk mendukung gugatan tersebut.

Anggota fakultas dan mahasiswa pascasarjana di seluruh sistem mengadvokasi diri mereka sendiri dengan cara memprotes dan mengajukan gugatan. Namun mereka juga mengadvokasi staf, yaitu pekerja rumah makan, pekerja taman, dan sebagainya, yang termasuk paling rentan di komunitas mereka. Pekerja-pekerja ini lebih sering berjumpa secara dekat dengan siswa asrama di kampus daripada staf lainnya.

Untuk komentar dari dewan pemimpin sistem UNC, seperti yang tengah ditanyakan berulang kali oleh Nature, tidak menanggapi permintaan untuk mengkomentari situasi ini. Dewan pada akhirnya mendikte rencana pembukaan kembali. Hal tersebut ditetapkan oleh badan legislatif Carolina Utara yang dipimpin Partai Republik dan juga karena telah banyak dikritik oleh anggota fakultas karena memprioritaskan pendapatan daripada keselamatan, dan karena tidak mendelegasikan lebih banyak wewenang kepada masing-masing institusi dalam sistem.

Gerakan yang Tumbuh

Aktivisme juga terjadi di tempat lain di sistem UNC. Anggota fakultas di Appalachian State University di Boone, yang masih membuka kelas tatap muka meskipun telah terdapat 267 orang yang dikonfirmasi terkena COVID-19, mengeluarkan resolusi yang menyatakan “tidak percaya” pada kanselir mereka karena gagal menolak mandat dewan pimpinan untuk membuka kembali. Kantor kanselir tidak menanggapi permintaan untuk mengeluarkan komentar.

Pekerja kampus tersebut juga berencana untuk menentang pembukaan kembali di tempat lain. Georgia College di Milledgeville terbuka dan membutuhkan pengajaran langsung meskipun ada 635 kasus di dalam komunitas kampus yang hanya berjumlah 8.000.

Pada 28 Agustus, mahasiswa pascasarjana dan staf yang diorganisir di bawah United Campus Workers of Georgia melakukan aksi ‘orang mati’. Yakni aksi di mana para peserta berbaring di samping batu kuburan sementara, diberi jarak sebagai bentuk tindakkan menjaga jarak sosial, untuk memprotes akan risiko dibukanya sekolah. Jessica McQuain, seorang mahasiswa master bahasa Inggris di universitas yang menyelenggarakan acara tersebut menyataka bahwa aksi tersebut “suram”.

Melanie DeVore, palaeobotanist, mengajar hampir 100 siswa secara langsung pada semester ini di Georgia College. Untuk menjaga agar risiko tertular yang rendah, DeVore mendapat izin untuk mengajar di luar di geladak kapal. Dia membandingkan persyaratan pengajaran secara langsung dengan film Alien 1979, di mana kru pesawat luar angkasa menemukan bahwa meskipun misi mereka adalah prioritas utama, mereka sendiri dapat dibuang. Dan dia, seperti banyak orang lainnya, mengaitkan persyaratan untuk mengajar secara langsung dengan fokus universitas pada keuangannya dan mengatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya tersudut karena model bisnis universitas.

Seorang juru bicara dari Georgia College menjawab permintaan wawancara oleh Nature dengan pernyataan: “Georgia College sepenuhnya mendukung kebebasan berbicara dan berekspresi untuk fakultas, staf, dan siswa kami.” Pernyataan selanjutnya mengatakan bahwa “kesehatan dan kesejahteraan mahasiswa dan komunitas kampus akan selalu menjadi prioritas utama kami.”

Di universitas lain, aktivisme yang berjalan bukanlah tentang pengajaran secara langsung. Dua puluh serikat pekerja terpisah di Rutgers University di New Jersey, yang sebagian besar ditutup, dengan sebagian besar kelas dilakukan secara online, bergabung untuk mengusulkan pemotongan jam kerja dan gaji. Hal ini mereka upayakan untuk menghindari PHK selama penutupan kampus. Namun rencana tersebut ditolak, dan sekitar 1.000 orang di-PHK, termasuk ratusan dosen paruh waktu.

Todd Wolfson, seorang profesor jurnalisme dan presiden Rutgers AAUP-American Federation of Teachers, mengatakan bahwa koalisi tersebut berencana untuk memperjuangkan para pekerja tersebut untuk dipekerjakan kembali.

Hasilnya adalah Rutgers berhasil membuat kesepakatan berupa cuti dengan beberapa serikat pekerja untuk membatasi pemecatan dan membuat catat bahwa administrator universitas telah melakukan pemotongan gaji. Dory Devlin, seorang juru bicara mengatakan bahwa Rutgers tengah berada di tengah-tengah krisis keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang disebabkan oleh COVID-19, dan menunjuk pada kekurangan 200 juta dollar dalam pendapatan yang hilang dan alokasi negara. Universitas tersebut kini tengah terus bekerja dengan untuk menghindari melakukan PHK. (njd/nature)

(Visited 20 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020