Ditulis oleh 8:00 am COVID-19

Pentingnya Adversity Quotient di Masa Pandemi

Adversity Quotient ini idealnya dimiliki oleh setiap orang. Apa itu Adversity Quotient? Bagaimana mendapatkannya?

Janganlah kamu bersikap lemah (pesimis) dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imron 139)

Saat ini, seluruh bangsa Indonesia menghadapi kesulitan. Sudah lebih tiga bulan (Februari – Mei), pandemi Covid-19 terjadi, dan tidak jelas kapan akan berakhir. Musibah ini berdampak besar pada seluruh aspek kehidupan, bukan hanya aspek kesehatan, tetapi juga kehidupan beragama, bermasyarakat, berkeluarga, ekonomi, pendidikan, dll. Kondisi ini melanda seluruh dunia, baik negara maju, berkembang, maupun negara tertinggal, semua menderita.

Umat beragama tidak lagi bisa berjama’ah, keluarga tidak bisa lagi bebas bersilaturahmi, banyak keluarga yang tidak lagi bisa berkumpul (khususnya keluarga para tenaga medis), ibu terpaksa meninggalkan anak susuannya, ayah/ibu meninggal tidak lagi diurus oleh anak-anaknya, orang tercinta meninggal tanpa ditunggu dan dikuburkan oleh kerabat. Ekonomi terpuruk, tsunami PHK melanda, pengangguran hadir didepan mata, ditambah lagi keluhan masyarakat tentang melambungnya pembayaran listrik. Pendidikan terbengkelai, meski ada kebijakan daring, namun ternyata Indonesia itu bukan Jawa, sehingga masalah jaringan kuota yang membengkak menambah beban. Yang paling baru adalah ‘tagihan listrik” dan ‘baby booming’. PSBB, larangan mudik, isolasi RS, wilayah, maupun mandiri, menjadi masalah tersendiri bagi manusia.

Menghadapi kondisi yang demikian, tentu akan berpengaruh terhadap kondisi mental dan psikologis manusia. Manusia pasti mengalami stress (ringan maupun berat) dan  depressi. Apa pun kondisi buruk/tidak menyenangkan yang sedang atau akan dihadapi oleh manusia, Islam selalu mengajarkan: sabar, jangan berputus asa, dan tawakkal. Konsep inilah yang akan membangun ketahanan, ketangguhan mental, tahan banting, dan daya juang dalam menghadapi musibah dan ujian. Untuk bisa menghadapi kesulitan, maka the human operating system harus diperkuat, seluruh software (pengetahuan, keterampilan, talenta, dan pengalaman) harus diases dan dioptimalkan lebih efektif. Dalam konsep psikologi kondisi dan kemampuan ini disebut dengan istilah Adversity Quotient.

A. Adversity Quotient

Adversity Quotient merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk diselesaikan. Dengan kata lain merupakan suatu kemampuan untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala masalah, tantangan atau pun kesulitan hidup. Adversity Quotient  menggambarkan bagaimana seseorang bisa tetap berdiri tegak dalam kesulitan dan bagaimana seseorang mengatasinya, sehingga bisa juga disebut sebagai ketahanan, ketangguhan, dan daya juang.

Oleh karena itu, dalam masa pandemi seperti saat ini, Adversity Quotient ini idealnya dimiliki oleh setiap orang. Apabila Adversity Quotient seseorang lemah, akan mengakibatkan stress, karena tidak memiliki ketangguhan mental dan daya juang. Kondisi stress ini akan menimbulkan perilaku yang buruk (maladaptive), seperti: mengamuk, anarkhis, dsb.

B. Peran Religiusitas untuk memperkuat Adversity Quotient

Bagi beberapa orang, kondisi sulit akan dijadikan sebagai tantangan untuk membuat kehidupannya lebih baik, namun tidak demikian halnya bagi orang lain, karena untuk bisa melawan kesulitan dan memaksimalkan usaha selama waktu-waktu sulit, dibutuhkan kekuatan dari dalam. Salah satu kekuatan yang bersifat hakiki adalah agama (religion) dan  keberagamaan (religiousity). Keberagamaan merupakan kecenderunngan manusia untuk melihat semua aspek positif maupun negative, juga peristiwa yang terjadi berkaitan dengan nilai kehidupan yang ada hubungannya dengan Tuhan.

Agama memainkan peran yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan agama, manusia akan mampu memahami sekaligus bertahan dalam menghadapi realita maupun penderitaan. Agama akan membentuk penganutnya menjadi kuat, optimis, dan kontributif dalam menghadapi realita agar lebih bermakna dan selalu memiliki harapan. Orang yang beragama akan melihat segala sesuatu yang terjadi pada mereka adalah sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta, selanjutnya, terkait dengan kondisi yang sulit, manusia juga akan menggunakan agama untuk mengatasinya.

Baca juga: Mungkinkah Hari Kebangkitan Nasional, Menjadi Momentum Langkah Bersama Mengakhiri Wabah Covid-19?

Peran penting agama dalam kehidupan manusia ini sudah dibuktikan dengan beberapa hasil penelitian, antara lain: berbagai aspek agama terbukti mempunyai hubungan yang kuat dengan kesejahteraan fisik dan psikhis manusia; beribadah (sholat, berdo’a, bersedekah, membaca Al Qur’an, dll.), mebaca bacaan keagamaan, terbukti berkorelasi dengan tingkat depresi; keterlibatan seseorang dalam aktivitas keagamaan terbukti mampu melindungi mental, fisik, bahkan ketanggungan seseorang; level Adversity Quotient ternyata juga berkorelasi dengan level keberagamaan seseorang.

Untuk mampu menghadapi ujian atau musibah agar tidak stress, Islam sudah memberikan tuntunan. Ada empat hal yang harus ditumbuhkan pada diri setiap muslim agar tangguh:

  1. Sabar. Sabar, akan membuat seseorang selalu tenang dan tenteram, karena hatinya selalu bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Orang yang sabar hidupnya selalu merasa berkecukupan. Sabar merupakan pondasi utama dalam menghadapi ujian dan harus dibarengi dengan husnudzon pada Allah.
  2. Bersyukur. Wujud rasa syukur bukan sekedar ucapan Alhamdulillah (terimakasih) pada Allah atas segala nikmat, tetapi yang paling penting adalah memanfaatkan karunia Allah pada jalan yang diridhai Allah. Misalnya karunia akal, maka harus digunakan untuk berpikir yang benar, baik, dan akan menghasilkan pemikiran untuk kebaikan.
  3. Optimis. Optimis adalah sikap atau kemampuan untuk percaya bahwa hidup tidaklah mudah, namun dengan upaya baru hidup akan menjadi lebih baik. Optimisme juga merupakan kemampuan untuk melihat sisi terang (kesempatan) dari suatu kondisi yang gelap (sulit).
  4. Do’a dan dzikir. Sebagai mukmin, kita harus yakin bahwa do’a (memohon pada Allah) mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat, termasuk dalam mengatasi kesulitan/masalah. Sedangkan dzikrullah akan menenteramkan, karena kita mengingat Allah dan mengembalikan segalanya pada Allah.

Empat tuntunan Islam ditambah dengan software pribadi (pengetahuan, keterampilan, talenta, dan pengalaman) harus diperkuat agar human operating system bisa optimal. Dengan demikian, setiap mukmin akan memiliki Adversity Quotient, ketahanan, ketangguhan, serta daya juang tinggi dalam menghadapi musibah, ujian, atau kesulitan, khususnya pada masa pandemi Covid-19 yang tidak ada kepastian kapan berakhir.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al Baqoroh 286).

(Visited 434 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 10 Mei 2020
Close