Ditulis oleh 2:30 pm COVID-19

Pentingnya Pengendalian Diri Dalam Mendukung Upaya Pencegahan Covid-19

Covid-19? Mari seluruh bangsa Indonesia kita bersatu lawan Covid-19. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Kata kuncinya; pengendalian diri.

Oleh: Dra. Sri Wahyu Widiati

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat khususnya yang beragama Islam sangat berharap ketika memasuki bulan Ramadhan pandemi covid-19 sudah berakhir. Banyak rencana sudah disusun untuk menyambut datangnya bulan suci bulan yang penuh ampunan.

Bayangan akan dapat sholat tarawih di masjid atau mushola, tadarus bersama di masjid – masjid maupun mushola, keliling kampung membangunkan warga untuk sahur, ngabuburit sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa, buka puasa bersama dengan teman sekolah, teman kantor dan teman – teman lainnya sudah ada di pelupuk mata.  Tetapi apa daya manusia hanya bisa berharap, Alloh SWT lah yang menentukan. Bukannya pandemi berlalu melainkan berita di Tribun Jogja.com menyebutkan bahwa kasus positif corona bertambah. Hingga Jum’at ( 24 April 20020 ) siang, terdapat penambahan 436 pasien positif covid -19. Sehingga jumlah keseluruhan kasus positif corona di Indonesia menjadi 8.211 pasien.( Tribun Jogja.com “ Update Terbaru Data Virus Corona Sabtu 25 April 2020,AS Urutan Pertama, Indonesia di Posisi 36 “- Sabtu,25 April 2020 08:39 ). Harapan akan berakhirnya pandemi muncul lagi ketika diberitakan bahwa jumlah pasien yang sembuh lebih banyak dari pada pasien yang meninggal. Tetapi faktanya hingga hari ini hari ketika kita sudah memasuki hari ketiga  di bulan Ramadhan pandemi masih belum berakhir. Tidak ada maksud untuk menakut – nakuti tetapi antisipasi agar kita tetap waspada terhadap menyebarnya virus corona. Virus yang tidak tampak oleh mata telanjang tetapi akibatnya nyata dan membawa petaka. Semoga kita dijauhkan dari virus tersebut.

Rasa sedih juga pilu muncul ketika ada beberapa kasus pasien positif corona meninggal dan jenazahnya ditolak warga. Terpapar corona pasti pasien sudah menderita. Keluarganya juga demikian, kalau sampai meninggal juga masih mendapat penolakan dari warga apakah tidak bertambah menderita. Padahal Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto sudah menjelaskan bahwa jenazah pasien positif corona tidak berbahaya. Sebab, sebelum tim medis memakamkan, jenazah telah diurus dengan prosedur yang tepat.

Lain lagi pengorbanan paramedis sebagai garda terdepan dalam penanganan pasien yang positif terinfeksi virus corona. Seperti diketahui,virus corona cenderung mudah menyebar dan menular, dengan medium berupa droplet. Oleh sebab itu maka tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan pasien positif harus sangat berhati – hati dalam menanganinya. Alat pelindung diri yang dikenakannya membuat tenaga medis tidak leluasa untuk makan, minum bahkan ke toilet dalam waktu berjam – jam. Resiko besar mengancamnya. Tetapi mereka dengan suka rela menjalankan tugasnya merawat pasien positif corona. Dan bangsa Indonesia berduka cita dengan meninggalnya beberapa tenaga medis karena terpapar virus corona. Miris rasanya ketika mendengar berita ada warga masyarakat yang menolak tempat pemakamannya untuk memakamkan jenazah tenaga medis yang  meninggal karena terpapar virus corona beberapa hari yang lalu. Haruskah,pantaskah kita memperlakukan tenaga medis yang meninggal dengan cara seperti itu,setelah perjuangan besarnya membantu pasien terpapar corona ?

Sebagai warga masyarakat Indonesia, bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah pandemi covid -19 ini ? Dengan tegas saya menjawab pertanyaan tersebut bahwa semua warga masyarakat harus berperan serta dalam upaya mencegah berkembangnya virus corona. Lantas bagaimana kita bisa berperan serta dalam upaya pencegahan covid -19 tersebut ?

Pertama : Harus tahu cara – cara yang bisa dilakukan untuk mencegah covid -19. Dari beberapa informasi yang dihimpun dari berbagai sumber ada beberapa cara ampuh untuk mencegah penyebaran virus corona, antara lain :

  1. Rajin mencuci tangan.
  2. Hindari sentuhan atau kontak fisik mulai dari berjabat tangan hingga berpelukan.
  3. Menerapkan etika batuk dan bersin secara benar, saat bersin dan batuk mulut harus ditutup baik menggunakan tangan, sapu tangan maupun tisue. Dan setelahnya agar mencuci tangan dengan benar.
  4. Jaga jarak dengan orang lain minimal sekitar 1 meter.
  5. Hindari berkumpul dengan orang lain dalam jumlah banyak.
  6. Hindari menyentuh wajah.
  7. Hindari berbagi barang pribadi mulai dari peralatan makan,minum, handphone maupun sisir dan barang – barang  pribadi lainnya seperti alat kosmetik.
  8. Rajin bersihkan perabotan terutama yang sering disentuh oleh anggota keluarga, seperti : gagang pintu, furnitur hingga remot TV.
  9. Mencuci bersih makanan ( sayuran dan buah – buahan ) sebelum dimasak atau dimakan.
  10. Menjaga imunitas tubuh.
  11. Mengenakan masker apabila sakit atau harus berada di tempat umum.
  12. Tetap tinggal di rumah kecuali ada kepentingan yang tidak bisa tidak harus keluar rumah.
  13. Berhati – hati ketika harus menggunakan fasilitas umum seperti ATM.
  14. Mematuhi larangan mudik bagi para perantau sesuai aturan pemerintah.

Kedua : Memiliki komitmen untuk melaksanakan cara – cara ampuh pencegahan penyebaran covid – 19 tersebut.Komitmen ini sebaiknya tidak hanya untuk diri sendiri saja tetapi juga mau mengajak orang lain, minimal di lingkungan keluarganya. Dan akan lebih baik lagi jika bisa mengkampanyekan gerakan pencegahan penyebaran covid 19 untuk masyarakat luas. Sehingga lebih banyak anggota masyarakat yang tahu dan sadar pentingnya upaya pencegahan covid 19, karena mencegah lebih baik dari pada mengobati. Kampanye pencegahan covid 19 bisa dalam bentuk video, foto, poster, animasi, lagu bahkan tiktok dan diunggah di facebook, instagram maupun you tube.

Ketiga : Pengendalian diri atau self control merupakan kemampuan diri dalam mengendalikan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Seorang individu dengan pengendalian diri yang baik dapat memahami konsekuensi dan akibat dari tindakan yang dilakukan. Sebagai contoh seorang ibu yang memiliki anak sedang kuliah di daerah lain, setelah beberapa bulan tidak pulang dan karena harus mengosongkan asrama atau tempat kos maka anaknya pun pulang. Rasa rindu tentu membuat sang ibu ingin memeluk anaknya tetapi self controlnya menuntunnya untuk tidak melakukan itu. Langkah – langkah pencegahan covid 19 lah yang dilakukan. Sebelum masuk rumah anak harus cuci tangan pakai sabun di air yang mengalir, langsung masuk kamar mandi, mandi keramas, baju langsung dicuci,tas, sepatu,kendaraan disemprot menggunakan disinfektan dan tetap jaga jarak sampai 14 hari kedepan. Dan melarang anaknya untuk keluar rumah juga sampai 14 hari kedepan. Disamping langkah – langkah pencegahan covid 19 tersebut tidak lupa melaporkan kedatangan anaknya yang dari luar daerah itu ke Pemerintahan Desa setempat. Pengendalian diri merupakan kata kunci untuk dapat memiliki komitmen terhadap cara – cara pencegahan penyebaran covid 19. Mari kita bersatu lawan corona, mencegah lebih baik dari mengobati.

Penulis adalah guru di SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen

(Visited 709 times, 1 visits today)
Last modified: 29 April 2020
Close