Ditulis oleh 7:38 pm COVID-19

Penyelesaian Langit dan Bumi Wabah Covid-19

Indonesia dalam duka yang mendalam. Belum hilang dari ingatan bangsa ini, di saat sekitar 700 nyawa melayang menyertai proses pemilu, kemudian banjir, erupsi gunung berapi, tanah longsong yang juga telah menelan banyak nyawa. Nah, di awal tahun 2020 kembali negeri ini dilanda musibah yang tak kalah dahsyat, yakni merebaknya coronavirus (COVID-19). COVID-19 bahkan telah menjadi pandemik di negeri ini dan satu-persatu korban berjatuhan, dari rakyat biasa hingga para tenaga medis. Tidak hanya sampai disitu, di luar negeri, coronavirus juga telah menyerang para pejabat negeri. Dari 192 negara di dunia, 142 negera telah terpapar coronavirus ini sepekan yang lalu. Kini, Info terakhir 147 negara. Begitu dahsyatnya, hanya dalam satu pekan bertambah lima negara yang kena wabah COVID-19.

Banyak negara yang kemudian melakukan lockdown (karantina), stay at home (tinggal di rumah) dan physical distancing (jaga jarak fisika) – social distancing (jaga jarak sosial) untuk menghentikan penyebaran virus ini agar tidak semakin meluas. Dan inilah yang disebut penyelesaian bumi.

Lockdown (karantina)
Kebijakan lockdown memang berat, tapi demi keselamatan nyawa rakyat, maka negara yang bertanggungjawab akan tetap melakukan. Ibarat orang tua yang akan melakukan apapun demi keselamatan anak dan kekuarganya. Itu semua penyelesaian bumi. Itupun dianjurkan Rasulullah SAW: “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar dari daerah itu” (HR. Bukhari & Muslim).

Stay at home (tinggal di rumah)
Allah berfirman dalam Surat (33) Al Ahzab: 33:
”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”
Pesannya sangat jelas bahwa lafadz Qarna mengandung arti perintah untuk tinggal. Tinggalnya di mana? Di rumah-rumahmu, di keluargamu, karena kata Nabi rumahku adalah sorgaku. Rumah kalian adalah sorga kalian semua. Ciptakan sorga di keluarganya masing-masing. COVID-19 menggiring kembalinya kesadaran bahwa yang paling hakekat dalam kehidupan adalah keluarga. Sehingga Nabi sendiri memberi parameter kebaikan manusia diukur dari kebaikannya kepada keluarganya: “Sebaik-baiknya kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku (Rasulullah) orang yang terbaik diantara kalian kepada keluargaku”.

Kemudian physical – social distancing
Dicontohkan Gubernur Syam sewaktu kena wabah, Amr bin Ash berkata: “Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung. Mereka pun berpencar dan menempati gunung-gunung. Wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar”.

Lalu bagaimana penyelesaian langit: (1) BERSABAR.- mati syahid (HR. Bukhari dan Ahmad); (2) BERBAIK SANGKA dan BERIKHTIARLAH. “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya” (HR. Bukhari); (3) BERDOA setiap pagi dan sore: Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’aliim (Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui); (4) BERSEDEKAH, untuk menringankan beban para du’afa, baik sendiri maupun berjamaah di kelolah masjid, ormas, dsb. Ini penting, karena baru 18 hari libur kehidupan masyarakat sudah semakin terasa, khususnya di sektor sosial ekonomi. Orang punya hajad tidak boleh (yang terlanjur menggelar hajatan ada yang dibentak-bentak, meski ada juga yang santun dalam meningatkannya), pengajian pengajian sementara ditiadakan, sholat jumat hanya beberapa jamaah bahkan ada yang ditiadakan juga. Aktivitas ekonomi juga sangat terasa, warung sepi, pasar sepi, kantin sekolah tutup, ojek – ojol sepi, dll.

Dampak ekonomi ini sangat dirasakan bagi masyarakat kecil yang biasa bekerja satu hari untuk makan satu hari habis. Belum jelas sampai kapan ini berakhir. Rasa cemas, gelisah menyelimuti masyarakat yang hidup pas pasan. Untuk mendapatkan masker satu lembar saja sulitnya Masya Allah. Padahal masyarakat kecil sangat membutuhkan, tapi tak ada yang memberi gratis, sebagaimana kaos ketika kampanye digratiskan, padahal masyarakat tidak butuh amat (Halooo…!!! Yang kemarin bagi-bagi kaos saat pemilu, bisakah sekarang bagi-bagi masker saat ada wabah COVID-19 ini?). Mungkin tidak terasa bagi yang ASN, setiap tanggal satu dipastikan klunting bahasa harian yang sering terucap. Bagi yang berpikir sempit (tak general), masalah libur akibat wabah COVID-19 hanya dipandang dari sisi kesehatan. Namun sesungguhnya kalau kita cermati akan berdampak pada sosial, ekonomi, politik bahkan keamanan dan ketahanan pangan.

Karena itu penting sekali untuk bersedekah. Diriwayatkan dari Asma’ radhiyallahu ‘anha ia berkata:
“Aku bertanya,” Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai harta selain yang diberikan Zubair kepadaku, apakah aku boleh menshodaqohkannya? “Beliau menjawab : “Bershodaqohlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya, niscaya Allah akan memperhatikan dirimu” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan “Sesungguhnya shodaqoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), dholim, atau bahkan orang kafir, Karena Allah subhaanahu wa ta’ala Akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shodaqoh tersebut. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi umat manusia, baik yang berpendidikan maupun orang yang masih awam. Seluruh penduduk muka bumi sepakat tentang hal ini karena mereka telah mencobanya. (lihat al-Wabilu sh -shoyib, karya Ibnul Qoyyim (1/49).

Semua solusi itu sudah ada, Solusi langit dan Bumi. Mudah-mudahan badai segera berlalu, menyadarkan kita semua. Kita hanya takut kepada Allah Al Khofid Yang Maha Menyempitkan. Bukan takut hidup sempit karena Si COVID. Berlindunglah kepada Allah Al Qowiy Yang Maha Kuat, bukan berlindung dari Al Covid mahluk ciptaanNya. Tergantunglah kita kepada ALLAH AS SHOMAD bukan seolah hidup tergantung kepada VIRUS AL COVID. Semoga kita semua tetap tenang, bahagia, produktif dan selamat hingga badai COVID reda. Dan yang lebih penting lagi semua bertobat, tobat nasional menjadi manusia beriman dan bertaqwa sehingga Allah membukakan barakah dari Langit dan bumi (QS. Al A’raaf: 96). Aamiin. Bukankah begitu?!!

(Visited 476 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 19 Mei 2020
Close