Ditulis oleh 8:40 am COVID-19

Peran Ganda Ibu Ditengah Pandemi Covid-19

Banyak hikmah yang ditemukan sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karir dalam kondisi karantina karena Covid-19.

Oleh: Fatiyah, MA

Sejak awal munculnya berita penularan wabah COVID-19 di China pada Desember 2019, sejak itu pula muncul kekhawatiran bahwa hal ini akan menjadi musibah bagi umat manusia di muka bumi. Namun keterlambatan pemerintah Indonesia menyadari munculnya gejala Covid-19 ini menjadikan semakin banyak korban dikalangan masyarakat yang tertular virus corona. Bahkan masih hangat dalam ingatan public bagaimana WHO dan seorang professor dari Harvard mengingatkan bahwa penyebaran virus Corona telah sampai di Indonesia. Kabar ini diumumkan mengingat bangsa Indonesia terlihat sama sekali tidak siap dalam penanganan wabah ini sebagaimana halnya negara-negara di Eropa, Jepang atau Singapura sekalipun.  

Imbasnya adalah ketika beberapa kantor pemerintah dan perguruan tinggi memutuskan untuk melakukan perintah sesuai instruksi pemerintah seperti, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melakukan social distancing dan Work from Home (wfh) secara serempak pada 16 Maret 2020. Hal ini juga berakibat pada institusi sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP dan SMA yang meliburkan para siswanya belajar di sekolah, namun tetap melanjutkan belajarnya di rumah masing-masing.

Disinilah kisah dimulainya berbagai perubahan disegala lini dan potret kehidupan sehari-hari manusia, tanpa kecuali dalam kehidupan berkeluarga. Peranan ganda seorang wanita saat ini, baik sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karier diuji ketahanannya menghadapi pandemi global di tengah masyarakat yang harus tetap tinggal di rumah dan work from home, sekaligus mendampingi anak serta mengurusi rumah tinggalnya sesuai dengan intruksi kedua kementerian tersebut. Mungkin seperti itulah idealnya cara berfikir masyarakat, sementara antara harapan dan kenyataan ternyata jauh berbeda.   

Repotnya tugas bagi seorang ibu bekerja (wfh) yang memiliki anak usia 7-9 tahun yang sedang duduk di bangku sekolah SD tingkat 1-3 dalam situasi tersebut adalah; apa yang harus dilakukannya? Tidak lain yaitu secara fulltime harus mendampingi (secara fisik hadir, duduk di samping anaknya) menemani, membantu dan mengantikan peran gurunya di sekolah untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan gurunya melalui media online. Sementara itu, secara bersamaan si ibu memiliki tanggung jawab sebagai wanita karir atas tugas-tugas kantornya yang telah terjadwal dalam waktu yang sama dengan pendampingan belajar online anak-anaknya. Bisa dibayangkan betapa repot, dan ruwetnya kondisi semacam ini terjadi selama beberapa hari awal karantina di rumah.

Adaptasi yang dipaksakan, dan managemen (mengelola) emosi adalah kunci sukses dalam mengatur keharmonisan kejiwaan keluarga dalam berumahtangga. Bersyukur suami saya sangat pengertian untuk ikut membantu mendampingi sekolah daring anak-anak di rumah. Entah bagaimana nasib ibu-ibu lain yang tanpa dibantu oleh suami atau keluarganya, sudah pasti mereka memiliki pengalaman yang berbeda dan menarik untuk diceritakan.

Maka dalam kondisi semacam ini bagi saya terasa menggemaskan (maaf, setengah jengkel) jika ada yang mengatakan bahwa ketika kondisi lockdown ini terjadi, apa yang harus dikerjakan? Mau ngapain kita di rumah? Padahal bagi seorang ibu rumah tangga, kondisi ini justru membuat pekerjaan semakin menumpuk dan multitaskingnya ditantang, tidak ada waktu berfikir untuk istirahat, karena dari bangun tidur dan tidur lagi di malam hari, selalu saja ada pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan dan dipikirkan –besok masak apa ya? Persiapan kuliah sudah di buat belom ya? Artikel kurang berapa halaman ya? Dan koreksi ujian masih 1 kelas lagi (masyallah).

Namun di balik semua itu, ternyata subhanallah….Banyak hikmah yang ditemukan sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karir dalam kondisi karantina saat ini. Berdasar pengalaman pribadi selama berlangsungnya musibah pandemik Covid-19 ini, saya melakukan banyak evaluasi diri antara lain; quality time bersama keluarga, mengurusi anak-anak sepenuhnya dan belajar menyiapkan masakan untuk anak-anak dan keluarga. Mendampingi waktu sholat dan mengaji, serta bermain dan nonton bersama-sama, meski harus uyel-uyelan di kamar tidur yang kecil, tetapi ada kebahagiaan disana.

Semua kegiatan rumah tangga, pendidikan dan karier bisa dijangkau dan dilakukan asalkan kita pandai dalam me-manage waktu dan psikologi masing-masing anggota keluarga. Saya bersyukur, karena jika tanpa bantuan seorang suami di samping saya, maka saya akan sangat kewalahan menghadapi hari-hari karantina dan “wfh” maupun online school/collage di rumah. Saya pikir hal inilah yang umumnya dialami oleh ibu-ibu rumah tangga se-Indonesia, wa bil khusus emak-emak muda yang tidak memiliki asisten rumah tangga. Doa saya bagi semua keluarga di luar sana, jagalah keharmonisan dan kebersamaan di dalam keluarga, sabar dan banyak introspeksi diri dengan meningkatkan kegiatan beribadah bersama keluarga, insyallah semoga semua cobaan di masa sulit ini akan segera berlalu dan membawa kebaikan untuk alam semesta. Aamin yaa rabbal ‘alamin.

Penulis: Dosen Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga

(Visited 788 times, 2 visits today)
Tag: Last modified: 19 April 2020
Close