Peran Penting Seleksi Alam Dalam Kemampuan Organisme Untuk Berevolusi Dan Beradaptasi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Jika kita melihat kembali kebelakang, atau bahkan melihat dunia dekitar kita, maka kita dapat menemukan bukti dari seleksi alam. Contoh-contoh seperti pelindung resin dari pohon pinus lodgepole berevolusi untuk bertahan dari burung dan tupai yang haus benih, leher jerapah yang panjang secara evolusioner disukai karena mencapai tumbuhan tinggi yang tidak dapat disentuh oleh pesaing. Kita tahu bahwa seleksi alam membentuk bagaimana hewan dan tumbuhan berevolusi dan beradaptasi. Akan tetapi, apakah seleksi alam juga mempengaruhi kemampuan organisme untuk berevolusi? Jika ya, sampai sejauh apakah evolusi tersebut?

Dalam sebuah studi baru, yang diterbitkan baru-baru ini di Science, memberikan indikasi akan beberapa jawaban yang mengejutkan untuk pertanyaan tersebut. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Andreas Wagner dari University of Zurich dan Santa Fe Institute, memasukkan populasi protein fluoresen kuning dari invertebrata laut ke berbagai jenis tekanan seleksi, lemah dan kuat, untuk mencari tahu mana yang meningkatkan kemampuan berevolusi lebih efektif. Tujuan akhir evolusioner dalam percobaan ini adalah untuk membuat populasi protein berevolusi dari fluoresensi kuning menjadi hijau. Para peneliti menemukan bahwa kelompok di bawah seleksi kuat memenangkan perlombaan evolusi hijau, karena populasi tersebut mengalami mutasi yang membuat mereka lebih kuat, dan oleh karenanya mereka lebih mampu berevolusi.

Wagner mengatakan bahwa dalam sepengetahuan mereka, hal ini adalah bukti eksperimental pertama bahwa seleksi dapat mendorong kemampuan untuk beradaptasi dalam pengertian Darwin dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berevolusi. Hingga kini masih terdapat orang yang mempertanyakan apakah evolusi itu nyata. Dan yang dilakukan oleh Wagner dan para peneliti lainnya ini tidak hanya melihat fosil di mana kami memiliki catatan sejarah, akan tetapi mereka mengamati evolusi di laboratorium.


Dirinya menambahkan bahwa oleh karena secara luas diasumsikan dalam bidang biologi evolusioner bahwa seleksi yang lemah memberikan keuntungan bagi kemampuan organisme untuk berevolusi, penemuan para peneliti tersebut nemunjukkan bahwa seleksi yang kuat menghasilkan kekokohan yang lebih besar, persyaratan utama untuk kesuksesan evolusioner, yang mengejutkan para peneliti.

Dalam pengamatan para peneliti, apa yang terjadi, adalah bahwa protein di bawah seleksi kuat mengakumulasi mutasi yang meningkatkan ketahanannya ke tingkat yang lebih besar.

Penemuan tersebut benar-benar mengejutkan peneliti oleh karena hal ini menunjukkan bahwa seleksi untuk kecocokan tidak bertentangan dengan seleksi untuk ketahanan, yang kontras dengan penelitian sebelumnya. Sementara sebagian besar mutasi yang ditemui protein merusak stabilitas atau kemampuannya untuk melipat dengan benar, mutasi yang meningkatkan ketahanan sebenarnya mengurangi efek merusak tersebut. Protein yang kuat memiliki peluang lebih tinggi untuk berfungsi dan dengan demikian mengembangkan sifat-sifat baru.

Wagner berharap bahwa penelitian ini akan membantu menyelesaikan kontroversi yang sudah berlangsung lama mengenai apakah kemampuan evolusi organisme itu sendiri dapat berevolusi. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa seleksi alam pada kemampuan berevolusi tidak boleh terlalu langsung, itu harus diganti oleh seleksi kecocokan. Akan tetapi sekarang para peneliti menghadapi situasi di mana keduanya berjalan seiring. Dengan kata lain, kontrovesi tersebut tidak perlu ada.


Sumber:
Situs sciencedaily. Materi awal berasal dari Santa Fe Institute. Foto: Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora