23.3 C
Yogyakarta
25 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Peran Zakat Dalam Membantu Masyarakat Dalam Situasi Social Distancing

Oleh: Drs.H. Syamsul Azhari

“Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat”
(HR. Muslim No. 2699)

Diperkirakan Covid-19 masih akan dihadapi oleh dunia dalam jangka panjang. Sebagian peneliti mengatan bahwa pendemik ini tidak dapat diperkirakan kapan akan berhenti (Wan, 2020) sementara ada juga yang mengatakan baahwa dalam waktu 12 hingga 18 bulan diperkirakan vaksin sudah ditemukan untuk mengobati penyakit ini (nugent, 2020).

Juru Bicara Pemerintah Indonesia untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, sampai dengan Kamis 2 April 2020, jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona mencapai 1.790 kasus. Dari jumlah itu, korban meninggal mencapai 170 jiwa, dan angka yang sembuh 112 orang. Ada penambahan kasus konfirmasi positif 113, sehingga jumlah total menjadi 1.790 kasus positif akumulatif.

Covid-19 adalah musibah. Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasarudin Umar, penyebaran Covid-19 bukanlah azab, melainkan musibah. Musibah sendiri berarti setiap kejadian yang tidak disukai orang beriman. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan sejumlah jenis musibah, di antaranya : sakit, termasuk wabah penyakit, rasa sedih, derita, hingga tertusuk sebuah duri sekali pun. Allah Swt telah tegaskan dalam firman Nya yang aertinya “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS At-Taghabun : 11).

Rasulullah Saw menegaskan “Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena pasti berujung pada kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman. Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami hal yang menyedihkan, dia bersabar dan hal itu pun merupakan kebaikan.” (HR Muslim).

Pemerintah terus melakukan berbagai langkah, sebagai wujud ihtiar demi mencegah penyebaran virus Corona Covid-19. Baru-baru ini, Jokowi mengimbau agar physical distancing dilakukan dengan tegas serta lebih disiplin untuk menghindari semakin meluasnya wabah Corona Covid-19. Sebelumnya Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan social distancing atau pembatasan interaksi dengan disiplin. Kebijakan belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa, sebagian ASN bisa kerja dari rumah, work from home. Selain itu, segala kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat banyak, diminta untuk ditunda, serta meningkatkan pelayanan fasilitas kesehatan.

Kebijakan tersebut juga wajib dilakukan oleh Daerah mulai dari tingkatan provinsi sampai dengan Kelurahan/Desa bahkan RT/RW. Sebagaimana yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Anies berharap masyarakat dapat melakukan social distancing atau pembatasan interaksi dengan disiplin. Seperti halnya yang dilakukan oleh sejumlah negara dalam penanganan virus corona. “Kedisiplinan social distancing amat penting dan amat instrumental dalam menjaga agar penyebaran kasus Covid-19 bisa terkendali,” ucapnya. Social distancing dinilai bisa mengurangi risiko penyebaran virus corona karena virus ini menular antar manusia melalui droplet (partikel air liur) saat penderita bersin atau batuk.

Zakat merupakan satu sistem jaminan sosial yang pertama kali di dunia. Inilah sistem jaminan sosial menurut Islam yang dengan ini, setiap individu mampu mewujudkan kesejahteraan secara sempurna bagi pribadi maupun keluarga. Sistem ini dapat mengeluarkan seseorang dari status kemiskinan.

Situasi seperti saat ini, zakat harus mampu hadir berperan aktif terlibat dalam membantu masyarakat. Zakat memilik peran yang sangat strategis tidak hanya bagi orang-orang yang terdampak secara fisik maupun ekonomi, yang menyebabkan mereka kesulitan dalam masalah ekonomi/mustahiq. Selain itu, ini hal yang juga sangat penting, zakat juga wajib berperan aktif membangkitkan kesadaran masyarakat yang mampu/muzaki untuk menyisihkan sebagian hartanya, bagi kepentingan kemaslahatan umat.

Disaat-saat seperti ini, hal yang juga tidak kalah pentingnya, selain menjaga kesehatan fisik, juga menjaga ketahanan dan kekuatan rohani/mental. Perintah menunaikan zakat hikikatnya untuk kepentingan itu. Allah Swt menegaskan terjemah Arti: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. At Taubah:103)

Sekurangnya ada tiga (3) skala prioritas yang menjadi program/kegiatan Organisasi Pengelola Zakat (BAZNAS dan LAZ) agar peran zakat benar-benar mampu dirasakan kehadirannya di tengah ancaman Covid-19, meliputi:

1. Bidang Ekonomi

Melihat peran dari zakat yang strategis dalam membantu permasalahan ekonomi, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah penguatan modal, pendampingan, relaksasi jatuh tempo kredit atau pinjaman, pemberian akses ke dalam pasar serta pemberian perlindungan dan penyuluhan. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meminimalkan dampak negative wabah COVID-19 terhadap Usaha Mikro yang menjadi tumpuhan ekonomi bagi kebanyakan masyarakat berpenghasilan rendah.

2. Bidang Kesehatan

Peran zakat dalam bidang kesehatan, misalnya membagikan alat-alat kesehatan yang diperlukan warga unntuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Melakukan penyemprotan disinfektan di fasilitas ibadah dan fasilitas umum. Jika memungkinkan sinergi dengan sumber pendanaan lain, memproduksi alat kesehatan, seperti hand sanitizer, masker dan sebaginya. Memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan/relawan untuk meningkatkan profesionalitas serta penjagaan keamanan diri dalam melaksanakan tugas.

3. Bidang Dakwah

Mengingat bahwa masyarakat Indonesia condong untuk lebih mendengarkan ulama (kiai/ustadz/d’ai), zakat harus diprioritaskan untuk bidang dakwah, selain dua bidang tersebut. Pemahaman masyarakat tentang Covid-19 dan pencegahanya akan sangat evektif manakala disampaikan/disosialisasi ulama. Pendekatan medis penting, tetapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah pendekatan psikis/rohani karena masyarakat sadar bahwa Covid-19 merupakan musibah yang diberikan Allah Swt. Selain dalam bentuk peningkatan pemahaman, ulama juga perlu penguatan ekonomi karena tidak jarang, banyak ustadz/dai yang kesehariannya berkhidmat untuk berdakwah (PUSKAS BAZNAS, Maret 2020).

Dampak negative Covid-19 merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh masyarakat manapun saat ini. Salah satu pihak yang dapat melakukan tugas ini adalah OPZ (BAZNAS LAZ) dengan mengoptimalkan pungutan sekaligus pentasharufan zakat. Peran zakat harus mampu didistribusikan dan didayagunan untuk kemaslahatan umat dalam mengatasi musibah Covid-19. Zakat, adalah benteng bagi para mustahik, termasuk dalam urusan pencegahan Covid-19.

Penulis: Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA