Ditulis oleh 9:57 am KALAM

Perasaan Bersalah dalam Komunikasi Guilt Trip

Bicara yang baik dan memperhatikan suasana hati atau perasaan orang lain merupakan kesan yang dititipkan pada benak seseorang.

Oleh: Diana Leli Indratno, S.E. M.M.

Inti dari komunikasi adalah memindahkan pesan, berita, atau informasi dari sumber kepada penerima pesan. Komunikasi itu sendiri dapat dilihat dari konten atau isinya dan cara pengungkapannya, serta media yang digunakan. Berbicara, mendengar, dan menulis merupakan bentuk komunikasi verbal. Sedangkan gestur tubuh, intonasi suara, ekspresi wajah juga merupakan bentuk komunikasi yang disebut komunikasi non verbal.

Komunikasi tidak dapat berdiri sendiri dengan menekankan pada isi atau pesan yang disampaikan. Gaya bahasa, gaya bicara, dan cita rasa bahasa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam melakukan komunikasi. Bahkan apa yang kita sampaikan kepada orang lain, memiliki dampak psikologis yang dirasakan: senang, gembira, atau justru sebaliknya yaitu jengkel, marah, sakit hati maupun perasaan bersalah. Setiap bahasa yang diucapkan mengandung cita rasa, sehingga seseorang bisa merasakan enak atau tidaknya kata-kata yang didengar.

Kadang seseorang merasakan tidak nyaman dengan kata-kata yang didengar dari orang lain. Ada perasaan bersalah akibat pilihan kata yang membuat tidak enak hati dan tersimpan dalam ingatan. “Kamu gimana sih, udah dibela-belain datang tepat waktu, malah…..”, Ini adalah ungkapan yang bisa menimbulkan efek psikologis yang dirasakan oleh lawan bicara. Dampaknya adalah seseorang akan mengalami perasaan tidak enak dan merasa bersalah. Banyak contoh ungkapan-ungkapan yang kalau dirasakan menimbulkan ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan bersalah, yang disebut Guilt Trip.

Guilt Trip yang sudah menjadi kebiasaan dan selalu diulang-ulang akan menimbulkan kebosanan bagi lawan bicara. Seseorang akan kehilangan respek dan tidak dihargai karena ketidakmampuannya dalam mengelola dan mengendalikan komunikasi.

Banyak diksi dan narasi yang lebih sejuk untuk diperdengarkan yang membuat orang merasa senang dan diperhatikan. Kemampuan menata bahasa dan pengungkapannya sangat menentukan kualitas dalam merawat hubungan kekancan. Bicara yang baik dan memperhatikan suasana hati atau perasaan orang lain merupakan kesan yang dititipkan pada benak seseorang. Bukankah kata-kata itu “tidak kulak” dan tidak pula berbayar ? Kenapa harus menggunakan kata yang menimbulkan ketidaksukaan ? Mending bicara yang enak didengar dan syukur-syukur membuat orang merasa senang dan terhibur.

Semoga bermanfaat.

Penulis adalah Dosen STIE IEUpaweda Yogyakarta dan Pengurus Alumni Pascasarjana UMY

(Visited 176 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 28 April 2020
Close