Ditulis oleh 5:30 am KALAM

Perguruan Tinggi Sebagai Penggerak Pemajuan Ilmu Pengetahuan

Jauh sebelum pendidikan tinggi mulai dikembangkan, pusat-pusat pendidikan berupa pesantren dan padepokan telah berperan mencerdaskan masyarakat terutama terkait dengan pendidikan agama dan sosial budaya.

Prof. Dr. Muhammad Baiquni, MA

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q, al Baqoroh 2:30)

Abstrak

Tulisan singkat ini menyajikan dinamika trend perubahan dunia setelah Revolusi Industri berkembang dari hasil riset ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi serta kemajuan industri. Jumlah penduduk yang meningkat pesat, pemanfaatan sumberdaya dan lingkungan, serta gaya hidup tidak terlepas dari tunggang langgang kecepatan perubahan yang terjadi terutama setelah millennium ketiga ini. Bagian berikutnya dari tulisan ini mengungkapkan bagaimana pendidikan tinggi berperan sebagai penggerak ilmu pengetahuan. Muncul pertanyaan kritis: siapa yang menggerakkan dan yang digerakkan, kemana orientasi arah gerakan itu, dan seberapa luas pengaruhnya dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa?

Pasang Surut Peran Perguruan Tinggi: Dinamika Perubahan dan Ketidakpastian

Sejarah peradaban manusia berubah drastis seiring dengan dimulainya Revolusi Industri yang terjadi di Eropa dan Inggris pada abad XVIII (antara periode 1789-1850), bangsa-bangsa Eropa melakukan urbanisasi dan melakukan ekspansi ke wilayah lain. Pada periode tersebut terjadi pergeseran kekuatan dari desa ke kota, perkembangan ekonomi politik dari feodalisme ke kapitalisme, serta perubahan masyarakat komunal ke individual. Perubahan itu terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga meluasnya industrialisasi dan modernisasi di kota-kota besar yang membentuk kebudayaan baru masyarakat kota.

Berbagai penemuan yang mendasari peradaban baru, cukup mencengangkan masyarakat pada zamannya, sehingga sempat terjadi pula berbagai ketegangan dan perseteruan faham dikalangan para penganut tradisi dan penemu baru. Berbagai penemuan baru tersebut menggerakkan masyarakat yang selama ini dibawah kungkungan kegelapan dogma, seperti memperoleh pencerahan. Masyarakat menjadi lebih tergerak untuk mengembangkan pemikiran dan menguji temuan-temuan baru. Peran perguruan tinggi dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi menjadi pemicu dan pemacu perkembangan peradaban.

Pada periode tersebut juga terjadi Revolusi Prancis yang mewarnai perubahan besar sejarah Eropa yang menghancurkan tatanan politik, sosial, hukum dan institusi dari yang lama (old regime) menjadi tatanan baru (new regime) yang bertumpu pada hak individu, pemerintahan yang representatif, dan munculnya perubahan dari loyalitas pada raja ke loyalitas pada negara. Dengan mengobarkan slogan ”Liberty! Equality! Fraternity!” yang mewarnai semangat demokrasi dalam the Declaration of the Rights of Man, menjadi inspirasi perubahan di Eropa (Breunig, 1977). Tatanan kekuasaan berubah dari kerajaan dengan sistem feudal ke bentuk nasionalisme modern yang kemudian membentuk negara dan sistem pemerintahan yang berbeda dari zaman sebelumnya.

Kejadian dua revolusi itu membuat peran perguruan tinggi semakin mengemuka dan membesar tidak saja dalam pembaharuan paradigma ilmu pengetahuan, tetapi juga pengaruhnya pada tatanan kekuasaan dan dinamika kehidupan masyarakat. Perbaikan kehidupan seperti ditemukannya metode kesehatan dan pengobatan, ketersediaan pangan, kemudahan akses transportasi dan fasilitas, membuat usia harapan hidup semakin tinggi dan kelahiran juga semajin banyak. Perkembangan pengetahuan dan teknologi telah membawa manusia memungkinkan untuk mengontrol ketidak-pastian dan mengelola perubahan untuk mencapai kemajuan. Jumlah penduduk terus meningkat seiring dengan perbaikan kesehatan dan kualitas hidup serta lingkungan disekelilingnya.

Penduduk dunia yang selama berabad-abad berkisar setengah miliar jiwa, sejak revolusi industri meningkat pesat. Pada tahun 1806 jumlah penduduk dunia baru mencapai 1 miliar. Kemudian secara berangsur-angsur naik menjadi dua miliar pada tahun 1927, naik lagi menjadi tiga juta pada tahun 1960an. Hanya dalam waktu kurang dari setengah abad atau antara tahun 1960-2000, penduduk dunia telah meningkat berlipat menjadi enam miliar jiwa. Dalam film Inconvenent Truth yang disampaikan Al Gore, seorang pemenang Nobel Perdamaian mengilustrasikan ledakan penduduk ini begitu dahsyat.

“Hanya dalam satu generasi (generasinya Al Gore) penduduk dunia meningkat pesat dari 2 miliar menjadi kini lebih dari 6 miliar dan nanti akan menjadi sekitar 9 miliar, padahal sebelumnya selama 10.000 generasi tidak pernah tercapai penduduk meningkat pesat seperti ini” (Al Gore, 2006).

Perkembangan jumlah penduduk ini tidak lepas dari perubahan-perubahan Revolusi Industri yang telah berlangsung lebih dari 200 tahun lalu. Kebutuhan pangan meningkat pesat, demikian juga pakaian dan kebutuhan hidup sehari-hari bagi penduduk telah meningkatkan kebutuhan yang besar. Kebutuhan itu dapat dicukupi dengan produksi yang terus meningkat yang dihasilkan dari mesin-mesin industri yang mulai bisa menggantikan tenaga manusia. Seakan berkejaran antara kebutuhan dan produksi, menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Fenomena ini telah melahirkan orang kaya baru dari kalangan para industrialis dan pedagang yang berbeda dengan era sebelumnya dimana kekuasaan politik dan sumberdaya ekonomi serta sosial dikuasai oleh tuan tanah (landlord) dan kaum aristokrat darah biru (keturunan raja).

Memasuki awal abad XX, ekspansi Eropa ke Amerika dan Asia dengan memperbudak bangsa Afrika mencapai puncaknya. Ketegangan depresi ekonomi dunia 1920-1930 menimbulkan goncangan hebat bagi negara-negara kolonial yang saling bersaing memperebutkan kekuasaan. Ekspansi wilayah dan eksploitasi sumberdaya alam telah menimbulkan berbagai konflik dengan penguasa atau kerajaan lokal maupun diantara negara kolonial. Kondisi itu semakin panas yang tak terelakkan lagi hingga Perang Dunia I.

Kehancuran akibat kerakusan dan peperangan ini juga menjadi siklus sejarah, bahwa ada masanya mulai tumbuh pesat hingga mencapai kemakmuran dan ada masanya surut suatu peradaban yang kemudian digantikan dengan peradaban baru. Tidak jelas bagaimana peran perguruan tinggi saat itu, apakah turut serta mendukung ekspansi kolonialisme ataukah memberi pencerahan dan pencegahan atas terjadinya dehumanisasi. Lamat-lamat terbersit adanya Politik Etis Kolonial dengan memberi kesempatan belajar bagi segelintir elit pribumi yang ditindasnya.

Pada periode setelah Perang Dunia II dan seiring dengan dekolonialisasi yang melahirkan negara-negara baru merupakan awal pembangunan. Kredo Pembangunan (Development) sebagai gagasan yang berangkat dari Barat dan mulai disebarkan ke negara yang baru saja merdeka. Istilah pembangunan mulai populer ketika Presiden Amerika waktu itu Harry S. Truman melontarkannya sebagai resep baru untuk mengatasi keterbelakangan negara-negara Selatan (bekas jajahan Eropa) maupun dalam rangka memperbaiki wilayah bekas perang di Eropa dan Asia. Saat itu Amerika berada pada posisi pemenang secara politis (adidaya) maupun secara posisi unggul peradabannya (adibudaya). Secara sistematis, ide pembangunan disebarkan ke seluruh dunia melalui berbagai program pembangunan. Presiden Truman dalam pidato kenegaraan  yang bernada propaganda mengatakan:

“We must embark on a bold new paradigm for making the benefits of our scientific advances and industrial progress available for the improvement and growth of underdeveloped areas” (Truman yang dikutip Esteva, G. 1992).

Jauh sebelum pendidikan tinggi mulai dikembangkan, pusat-pusat pendidikan berupa pesantren dan padepokan telah berperan mencerdaskan masyarakat terutama terkait dengan pendidikan agama dan sosial budaya. Pendidikan tinggi baru mulai berkembang setelah merdeka ditandai dengan kebangkitan kaum terpelajar mendirikan Universitas Islam Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Yogyakarta. Kemudian muncul beragam perguruan tinggi swasta yang menunjukkan semangat partisipasi masyarakat yang tinggi dalam menyelenggarakan Pendidikan tinggi. Gelora mencerdaskan kehidupan berbangsa dari kota pelajar Yogyakarta ini patut dicatat dalam sejarah nasional pendidikan Indonesia.

Pada akhir tahun 1950an banyak pemuda Indonesia memperoleh beasiswa untuk belajar di Amerika dan setelah kembali ke tanah air membawa gagasan pembangunan untuk dikembangkan di Indonesia. Para intelektual yang kemudian hari menjadi pemimpin ini menjadi agen melalui program-program pembangunan. Penyebar gagasan pembangunan melalui pendidikan tersebut hanya salah satu strategi, di antara strategi lain seperti bantuan dan hutang luar negeri, transfer teknologi dan relokasi industri.

Guna mendukung pemasaran ide pembangunan tersebut dibentuk pula lembaga-lembaga yang hingga kini sangat berpengaruh antara lain United Nations, The World Bank, International Monetary Fund yang semua dimotori oleh Amerika. Melalui institusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lalu lintas politik dan pertahanan dapat dikuasai sejumlah negara adidaya. Sedangkan melalui dua badan ekonomi yang dikenal pula dengan Bretton Woods Institutions tersebut, lalulintas peredaran uang dan ekonomi dapat diatur oleh negara kaya (Baiquni, M dan Susilawardani, 2002).

Pasca kolonial, muncul bentuk baru yaitu kapitalisme yang semakin mengglobal dan menguat digerakkan oleh lembaga internasional tersebut. Berbagai kebijakan ekspansi kapital negara maju, dengan dalih bantuan luar negeri, menyebarkan gagasan dan program pembangunan bagi negara sedang berkembang. Program-program pembangunan diadopsi negara berkembang untuk melakukan modernisasi dan industrialisasi di berbagai sektor kehidupan.

Ekspansi paradigma modern ini oleh Ian Roxborough (1986) dalam bukunya ”Teori-teori Keterbelakangan” terjemahan dari buku asli Theories of Undedevelopment (1979), dibahas secara kritis yang dalam pandangannya pembangunan justru menghasilkan sejumlah keterbelakangan. Ada banyak masalah dalam pembangunan yaitu: (1) generalisasi yang berlebihan terhadap realitas di negera sedang berkembang yang amat beragam; (2) penerapan program pembangunan yang ahistoris yang sering bertentangan dengan dinamika masyarakat yang berakibat pada kegagalan bahkan menyebabkan ketergantungan. Pada dekade yang sama muncul dari kalangan perguruan tinggi maupun para intelektual organik dengan adanya pembangunan alternatif yang kemudian menumbuhkan semangat pergerakan organisasi non pemerintah dan non profit (Ornop) yang kemudian bermetamorfosis menjadi gerakan kemandirian dan gotongroyong yang dikenal dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Perkembangan lanjut dari kapitalisme, setelah runtuhnya komunisme Soviet dan bangkrutnya negara sosialis Eropa Timur, membuat ekspansi kapitalisme semakin mengglobal. Gagasan neoliberal dipakai dan dikembangkan dimana-mana. Negara maju semakin leluasa mempengaruhi negara sedang berkembang dan negara miskin untuk membuka pasar dan mempersilahkan investasi semakin merasuk dan merusak cadangan sumberdaya alam bagi masa depannya. Globalisasi tak terbendung menjadi kredo kemajuan dan modernisasi suatu negara.

   Menginjak pergantian millennium ketiga tahun 2000, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga mencapai percepatan yang luar biasa. Teknologi komunikasi digital telah membuat banyak orang bisa mengakses informasi dengan cepat melalui internet dan handphone dalam genggaman. Demikian pula teknologi transportasi publik pesawat terbang yang cepat dan semakin murah. Jelajah terbang hingga mencapai wilayah yang jauh dan refatif terpencil di pegunungan dan pulau-pulau kecil semakin dapat dijangkau, mobilitas penduduk semakin cepat dan interaksi semakin sibuk.

Dinamika pembangunan modern telah mengubah wajah dunia menjadi semakin terkait secara global. Sebagai ilustrasi, dapat dibayangkan saat ini berapa ribuan pesawat jet sedang terbang membelah angkasa dengan menghembuskan bahan bakar jutaan liter avtur bahan bakar. Dalam laporan berita April 2010, letusan Gunung di Islandia telah menyebabkan kekacauan transportasi udara di 20 negara, dalam seminggu setidaknya 63.000 jadwal penerbangan dari dan menuju Eropa dibatalkan karena atmosfir yang dipenuhi abu vulkanik. Perusahaan penerbangan Air Asia yang menguasai pasar penerbangan menggunakan branding regional Asia. Dalam promosinya yang luar biasa “Everyone can fly” ini membuka undian 1 juta tiket gratis pada penerbangan 2011. Dapat dibayangkan berapa jumlah penerbangan satu maskapai ini saja setiap tahunnya. Ilustrasi lain, berapa juta knalpot kendaraan sepeda motor, mobil, bus dan truk yang saat ini sedang melaju di jalanan. Berapa ratus ribu cerobong pabrik melontarkan asap ke angkasa dan berapa miliar rumahtangga yang kini sedang memanfaatkan energy dan menyalakan listrik? Semua ini menimbulkan polusi udara dan panas yang di lepas ke atmoafir.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi pemanasan global, yang ditunjukkan dengan meningkatnya suhu atmosfir bumi dan melelehnya salju di puncak-puncak gunung dan kutub bumi. Perubahan itu juga mengakibatkan perubahan iklim yang ditandai dengan berbagai bencana banjir dan kekeringan melanda di berbagai dunia, Fenomena pergeseran dan bahkan telah disebut sebagai perubahan iklim tekah terjadi, seperti panas menyengat di Eropa, badai sering mengamuk di Amerika, banjir semakin sering terjadi di Asia dan kekeringan di Afrika. Perubahan iklim semakin membawa polarisasi: yang panas semakin panas dan yang dingin semakin dingin; yang basah semakin banjir, yang kekeringan semakin kerontang.

Bagi wilayah kepulauan seperti Indonesia, dampak pemanasan global terhadap pulau-pulau kecil dan pesisir juga terasa sebagai ancaman bagi penduduk. UNEP melaporkan adanya kecenderungan kenaikan permukaan air laut dari 1,7 mm per tahun pada abad lalu, kini telah mencapai kenaikan rata-rata per tahun sebesar 3,1 mm per tahun. IPCC dalam laporannya baru-baru ini memprediksi kemungkinan kenaikan air laut sebesar 20 hingga 80 cm selama abad 21 mendatang (UNEP, 2007).

Sejumlah studi dan kajian prediksi masa depan menunjukkan situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Kompetisi umat manusia untuk belomba-lomba mempertahankan hidup pada lingkungan yang mengalami kemerosotan daya dukung, bisa memicu konflik berkepanjangan. Sementara itu persoalan polusi, pencemaran, kemerosotan lingkungan dan kerusakan sumberdaya dikhawatirkan akan menyebabkan runtuhnya daya dukung kehidupan. Inilah saatnya kita harus memikirkan kembali peran pendidikan tinggi sebagai penggerak ilmu pengetahuan dan pencerah peradaban.

Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan: Membumikan Kepemimpinan

Kita harus mencari jalan kembali yang benar, yaitu pentingnya petunjuk arah dari ajaran wahyu untuk mengatasi berbagai persoalan peradaban manusia. Mahbub Ul Haq memberikan pandangan bahwa pembangunan haruslah bertujuan untuk membasmi bentuk-bentuk terburuk kemiskinan. Sasaran pembangunan haruslah ditetapkan atas dasar upaya mengurangi dan akhirnya melenyapkan kurang gizi, penyakit, buta huruf, hidup melarat, pengangguran dan kesenjangan. Kritik yang dilancarkan Mahbub Ul Haq mulai diterima di kalangan negara-negara kaya dan maju serta tentu saja di dukung oleh negara-negara miskin dan berkembang.

Kini upaya tersebut terus diusahakan melalui berbagai upaya seperti Pembangunan Berkelanjutan, Agenda 21, Millenium Development Goals dan dilanjutkan Sustainable Development Goals, sebuah komitmen bersama untuk mencapai perbaikan pembangunan dan lingkungan hidup. Dalam dokumen-dokumen tersebut disebutkan pentingnya memberantas kemiskinan dan pemiskinan. Jeffrey Sachs (2005) menuliskan bukunya The End of Poverty yang merupakan ajakan untuk menuntaskan masalah kemiskinan yang ekstrim, melalui salah satunya juga mempromosikan Pembangunan Berkelanjutan.

Pembangunan Berkelanjutan yang dirumuskan dalam laporan Our Common Future atau dikenal dengan Brundtland Report, sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.

“Sustainable development is the development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs”  (WCED, 1987:8).

Konsep tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi payung bagi banyak variasi konsep, kebijakan dan program pembangunan yang amat beragam. Pembangunan berkelanjutan merupakan paradigma baru pembangunan yang memiliki interpretasi dan konsep yang beragam. Konsep yang diajukan negara maju belum tentu tepat untuk dilaksanakan di negara berkembang, demikian pula konsep yang diajukan oleh negara sedang berkembang belum tentu dapat diterima oleh negara maju.  Hingga sekarang ada ratusan konsep dan definisi pembangunan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa isu ini telah berkembang cepat dan dapat tumbuh secara beragam dalam implementasinya.

Pembangunan Berkelanjutan yang diperbincangkan oleh banyak kalangan, setidaknya membahas empat hal: pertama, upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan daya dukung ekosistem; kedua, upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan memberlanjutkan; ketiga, upaya meningkatkan sumberdaya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa yang akan datang; keempat, upaya mempertemukan kebutuhan-kebutuhan manusia secara antar generasi (Baiquni, M dan Susilawardani, 2002).

Upaya-upaya yang dilakukan guna mewujudkan keseimbangan pembangunan dan lingkungan, tentunya sangat tergantung bagaimana kualitas manusia. Alam semesta  memiliki keseimbangan dan keharmonisan sehingga masing-masing berfungsi sebagaimana mestinya yang di atur dengan hukum-hukum yang tunduk pada kehendak Sang Khaliq. Kedudukan manusia sebagai makhluk yang dibekali akal fikiran, indera dan perasaan adalah makhluk yang diberi amanat sebagai pemimpin di muka bumi.

Kedudukan manusia diantara makhluk lainnya memiliki keistimewaan dibanding makhluk yang lainnya. Manusia diberi tanggungjawab memikul kewajiban untuk berbuat baik di bumi dengan dibekali pedoman kitab suci dan keteladanan para nabi. Manusia diberi kemerdekaan yang dianugerahi dengan akal dan budi untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Manusia diberi amanat untuk mengelola alam. Segenap tindakan manusia akan dimintai pertanggungjawaban apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

Tantangan yang paling berat sebagai pemimpin, justru mengendalikan dirinya sendiri. Setiap kenaikan derajat dan kualitas kepemimpinan sungguh penuh dengan ujian dan cobaan. Manusia selalu akan diuji apakah ia layak meningkat kualitas dan derajatnya atau turun merosot karena tidak dapat menerima amanat kepemimpinan yang lebih tinggi. Manusia juga diberi cobaan, apakah cobaan itu berupa kenikmatan yang melimpah ataukah kesulitan yang membebani.

Mencermati peradaban manusia dan kecenderungan perubahan yang terjadi, akan sangat mengkhawatirkan bila milyaran manusia penghuni bumi ini tidak memiliki sifat kepemimpinan. Masa depan umat manusia tidak dapat dititipkan atau diwakilkan pada beberapa gelintir pemimpin elit yang ada, namun harus disadarkan bahwa setiap manusia diturunkan ke bumi sebagai pemimpin. Setiap manusia telah dimandati menjadi pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban apa yang telah diperbuat dengan kepemimpinannya itu.

Kesadaran setiap manusia adalah pemimpin dan keteladanan menjadi cermin pribadinya, merupakan harapan bagi kelangsungan hidup manusia yang lebih baik. Ditengah berbagai tantangan kehidupan, agama menjadi kompas penunjuk arah menuju jalan yang benar. Kepemimpinan sebagai kunci Pembangunan Berkelanjutan, yaitu manusia yang dengan teguh memeluk agamanya, akan mendapat hidayah dan mampu mengemban amanat sebagai pemimpin di muka bumi. Setiap manusia adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, itulah Khalifatullah fil Ardh.

Daftar Referensi

Ahmed, Akbar S. 1992. Postmodernisme: Bahaya dan harapan Bagi Islam. Mizan, Bandung.

Al Gore, 2006. Inconvinient Truth. (Film: www.climatecrisis.net)

Baiquni, M. dan Susilawardani. 2002. Pembangunan Yang Tidak Berkelanjutan: Refleksi Kritis Pembangunan Indonesia. ideAs dan TransMedia Global Wacana.

Breunig, Charles. 1977. The Age of Revolution And Recreation, 1789-1850. Second Edition. WW Norton & Company. London.

Brown, L.R. 1981. Hari Yang Keduapuluh Sembilan. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Obor.

Giddens, Anthony. 2001. Runaway World: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita.  Gramedia. Jakarta

Gorz, Andree. 2002. Ekologi dan Krisis Kapitalisme. Insist Press. Yogyakarta

Haq, Mahbub ul. 1983. Tirai Kemiskinan: Tantangan-Tantangan untuk Dunia Ketiga. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Kompas. 2000. “Tonggak Sejarah Ilmu Pengetahuan, Sosial, dan Politik Yang Menentukan Hidup Kita Saat Ini”. Dalam Harian Kompas: Menuju Millenium III, 1 Januari 2000. Kompas, Jakarta.

Sachs, Jeffrey. 2005. The End of Poverty: How We Can Make It Happen in Our Lifetime. Pinguin Books. London

UNEP. 2007. Global Outlook of Ice and Snow. United Nations Environment Program. Nairobi. Kenya.

UNFPA 1991, Population, Resources and the Environment: The Critical Challenges, United Nations Population Fund. New York.

WCED  1987. Our Common Future. World Commision on Environment and Development.

Zen, M.T. 1979. Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.


Makalah ini disampaikan dalam Seminar Nasional “Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan” yang diselenggarakan oleh Yayasan Abdurrahman Baswedan bekerja sama dengan DPD IKA UNY DIY, di Ruang Sidang Utama Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu 25 Mei 2019

Prof. Dr. Muhammad Baiquni, MAGuru Besar Universitas Gadjah Mada

(Visited 263 times, 3 visits today)
Tag: , , Last modified: 24 Februari 2020
Close