Ditulis oleh 10:07 am KABAR

Peringkat Perguruan Tinggi dan Pendidikan Kita

Apa makna peringkat perguruan tinggi? Bagi perguruan tinggi itu sendiri, sangat jelas artinya, yakni suatu penilaian tentang pencapaian.

Beberapa hari ini, Ditjen Dikti Kemendikbud mengumumkan suatu hasil pemeringkatan perguruan tinggi  berbasis pada 4 indikator penilaian, yang meliputi:

1. Indikator Input (20 persen): meliputi persentasi jumlah dosen S3, jumlah lektor dan guru besar, rasio mahasiswa dan dosen, jumlah mahasiswa asing, dan jumlah dosen yang bekerja sebagai praktisi industri.

2. Indikator Proses (25 persen): meliputi penilaian akreditasi universitas dan program studi, kerja sama perguruan tinggi, pembelajaran daring, pelaksanaan Kampus Merdeka, dan kelengkapan laporan.

3. Indikator Output (25 persen): meliputi penilaian jumlah artikel ilmiah, kinerja penelitian dan mahasiswa, serta jumlah prodi bersertifikasi internasional.

4. Indikator Outcome (30 persen): meliputi penilaian kinerja inovasi, jumlah lulusan yang memperoleh kerja dalam waktu 6 bulan, jumlah nilai sitasi per dosen, dan kinerja pengabdian masyakat.

Sebagaimana diketahui publik, dari pengumuman tersebut, sejumlah perguruan tinggi dinyatakan ada di klaster I. Metode ini dikatakan sebagai cara agar diperoleh informasi yang menggambarkan status “kinerja” perguruan tinggi, sehingga dengan itu dapat dilakukan perbaikan terus-menerus dalam rangka meningkatkan performa dan kesehatan organisasinya.

Lewat laman Dikti, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam menjelaskan bahwa klasterisasi merupakan upaya Ditjen Dikti untuk melakukan pemetaan atas kinerja perguruan tinggi akademik Indonesia yang berada di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Klasterisasi ini bukanlah pemeringkatan namun pengelompokan perguruan tinggi sesuai dengan level perkembangannya. Klasterisasi ini jangan disalah maknai sebagai pemeringkatan.” (dikti.go.id)

Bagaimana masyarakat luas menerima informasi tersebut? Bagaimana media menyebarluaskan informasi tersebut? Pertanyaan tersebut terkait dengan apa yang berkembang di masyarakat. Mudah diduga bahwa yang ditangkap dan memang demikian itulah, bahwa pengumuman tersebut merupakan kabar tentang peringkat perguruan tinggi. Jika dilihat dari indikator penilaian, tentu akan terbaca bahwa perguruan tinggi yang mendapatkan skor tertinggi adalah perguruan tinggi yang mempunyai nilai tertinggi dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya.

Apa makna peringkat perguruan tinggi? Bagi perguruan tinggi itu sendiri, sangat jelas artinya, yakni suatu penilaian tentang pencapaian. Perguruan tinggi seperti berada di arena pacuan, karena itu sangat wajar jika ingin berada di barisan paling depan, mengungguli yang lainnya. Artinya, hasil tersebut merupakan gambaran dari hasil kerja yang dilakukan. Buahnya adalah perguruan tinggi tersebut akan menjadi perguruan tinggi favorit yang menjadi target calon mahasiswa. Tidak mengherankan jika seluruh keluarga berburu untuk dapat menempatkan anggota keluarganya ada di perguruan tinggi tersebut. Selanjutnya kita telah bisa menerka turunan dari kompetisi tersebut.

Apakah salah jika perguruan tinggi berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik? Apakah salah jika calon mahasiswa mencari perguruan tinggi yang terbaik? Tentu tidak salah. Karena memang demikian itulah tata kehidupan kompetisi. Dalam masyarakat kompetisi, setiap orang harus memastikan menjadi yang terbaik, dalam arti menjadi pihak yang berada di barisan paling depan. Jangan heran jika dalam masyarakat kompetisi, semua cara akan dilakukan agar dapat menang. Kemenangan adalah tujuan, bukan cara atau mungkin lebih rendah lagi.

Masalahnya adalah apakah demikian itu tujuan kita berbangsa dan bernegara? Untuk apa bangsa mengadakan pendidikan? Apakah untuk agar antar warga bangsa berkompetisi satu sama lain? Apakah agar antar warga bangsa terbentuk suatu stratifikasi berdasarkan “keterbaikan” tertentu? Apakah sebagai bangsa merdeka, kita membutuhkan jenis stratifikasi tersebut. Apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh bangsa Indonesia dengan kemerdekaannya tersebut? Apa yang kita bayangkan berlangsung di dalam masyarakat sebagai masyarakat dari bangsa yang merdeka? Tata hidup bersama seperti apa yang dibayangkan? Dan dimana dunia pendidikan hendak diletakkan oleh bangsa dan dimana dunia pendidikan mengambil tempat agar tujuan bangsa dapat diwujudkan?

Barangkali sudah waktunya dunia pendidikan membuat refleksi atas frasa “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Refleksi tersebut dibutuhkan, agar ditemukan secara bersama apa rumusan paling tepat untuk menjabarkan frasa tersebut dan kemudian dengan jabaran tersebut disusun peta jalan masing-masing. Dan dengan itu pula warga mengambil posisi yang paling tepat. Apakah hal yang demikian dimungkinkan? Apakah perguruan tinggi bersedia menjadi lokomotif pencarian tersebut, disela-sela kesibukannya menjadi “yang terbaik”?

(Visited 167 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 19 Agustus 2020
Close