20.3 C
Yogyakarta
22 November 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Peristiwa Gerhana Jalan Menjadi Manusia Tangguh

Pada 21 Juni 2020 ini kita menyaksikan suatu fenomena gerhana matahari sebagian dengan menggunakan indera dan af’idah (hati dan akal). Sungguh peristiwa ini semakin menggugah kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Seraya lisan berdzikir kepada-Nya, kita juga mengingat Hadits Rasulullah SAW tentang peristiwa gerhana seperti ini (yang artinya): Ziyad bin Ilaqoh berkata: aku mendengar Al-Mughirah bin Syu’bah berkata: “Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah SAW pada hari meninggalnya Ibrahim”.

Maka Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana dikarenakan kematian dan hidup(lahir) nya seseorang. Jika kalian melihat (mengalami) gerhana itu, berdoalah kepada Allah dan kerjakanlah shalat hingga selesai gerhana ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Matahari dan bulan serta bumi bagian ciptaan Allah bersama alam semesta ini. Demikian juga dengan kita semuanya ini. Tidak hanya itu, Allah juga menciptakan alam lingkungan (tanah, udara, dan isinya) serta alam lingkungan sosial. Sehingga kita menjadi makhluk Allah yang paling mulia di muka bumi ini dengan mengemban dua amanat besar yakni hamba Allah dan kholifah Allah di bumi. Bulan, matahari, siang dan malam serta tentunya manusia hanyalah bagian kecil dari wujud tanda kekuasaan Allah di muka bumi atau kehidupan dunia ini (QS. Fushshilat: 37).

Matahari, bulan, dan kita semuanya ini tidak hanya menjadi tanda kekuasaan Allah, tetapi juga Dia senantiasa mengawasi, mengetahui, memantau segala gerak gerik makhluk-Nya. Dalam Al-Qur`an Surat Al-An’am ayat 59 Allah menegaskan hal itu (yang artinya): “Pada sisi Allah-lah kunci kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia (Allah) sendiri. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur`an, ayat ini merupakan gambaran ilmu Allah yang sempurna dan menyeluruh. Tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya, baik dalam rentang zaman maupun tempat, di bumi maupun di langit, di daratan maupun di lautan, di perut bumi maupun di lapisan udara, baik makhluk hidup, benda mati, kering maupun basah.

Kita juga harus senantiasa mawas diri dan bermuhasabah tentang hakikat diri yang lemah ini.

Dalam konteks kekinian ini, kita sedang berada dalam suasana atau situasi wabah Covid-19. Gerak kehidupan dibatasi, senantiasa jaga jarak, bahkan ada anjuran masjid dikosongkan untuk memutus rantai penyebaran virus corona itu. Berdasar pada cara berfikir Surat Al-An’am ayat 59 tersebut, kita meyakini bahwa pasti Allah mengetahuinya. Kita menyebutnya musibah atau bencana atau ujian, bukan azab, tetapi kita juga harus senantiasa mawas diri dan bermuhasabah tentang hakikat diri yang lemah ini. Apa dan bagaimana yang sudah kita perbuat untuk Allah dan karena Allah.

Dalam awal Surat Al-Ankabut (ayat 1-3) Allah sudah menjelaskan bahwa manusia itu pasti diuji. Redaksi awal surat Al-Ankabut itu terdapat lafazh fatana. Lafazh ini menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur`an bermakna asli dari kata al-fatnu, yakni memasukkan emas ke dalam api untuk membedakan antara emas yang memiliki kualitas bagus dan yang jelek. Ujian atau cobaan berbarengan dengan keimanan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan bahwa setiap iman pasti kena ujian. Iman yang tidak tahan karena ujian, barulah iman pengakuan mulut, belum iman pertahanan hati.

Bahkan Sayyid Quthb menyebutkan bahwa keimanan bukanlah sekedar kata-kata yang diucapkan. Tetapi keimanan itu hakikat yang mempunyai beban-beban, amanah yang mempunyai konsekuensi, jihad yang memerlukan kesabaran, dan usaha yang memerlukan daya tahan. Sehingga tidak cukup seseorang berkata, “Saya beriman”. Mereka tak dibiarkan cukup mengatakan seperti ini saja, hingga mereka mengalami cobaan. Dan mereka bertahan menghadapi cobaan itu. Untuk kemudian keluar dari cobaan tersebut dalam keadaan bersih unsur-unsur diri mereka dan murni hati mereka.

Seperti api membakar emas. Sehingga terpisahlah antara emas itu dengan unsur-unsur murah yang tercampur dengannya (dan inilah asal kata ini secara bahasa dan ia memiliki makna, nuansa, dan sugesti tersendiri). Demikian juga halnya yang dilakukan oleh cobaan itu terhadap hati manusia. Cobaan terhadap keimanan ini merupakan asal yang tetap dan sunnah yang selalu berlangsung dalam timbangan Allah.

Harus mendasari ketangguhan itu dengan keimanan kepada Allah SWT.

Terkait dengan Covid-19 dalam konteks keimanan dan cobaan/ujian yang memerlukan daya tahan. Di beberapa desa di Lamongan Jawa Timur (semisal di kampung tempat tinggal penulis ini) ditetapkan sebagai kampung tangguh tanggap Covid-19 ini. Dalam Kamus, arti tangguh adalah sukar dikalahkan, kuat, andal, kuat sekali (tentang pendirian dan sebagainya), tabah, dan tahan (menderita dan sebagainya), kukuh (lihat: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/tangguh). Dengan demikian warga masyaratnya harus tangguh. Namun di saat yang sama juga harus mendasari ketangguhan itu dengan keimanan kepada Allah SWT. Murni dan kuat.

Manusia tangguh bergantung kepada Allah. Di awal disebutkan bahwa orang beriman itu pasti diuji. Adanya ujian itu atau bisa disebut kesulitan (al-‘usr), iman berkeyakinan bahwa Sang Rabbul ‘Alamin mempunyai rencana yang lebih baik. Namun kita (baca: manusia tangguh) juga harus menyambung dan menyambut keinginan Allah tersebut dengan bertaqorrub kepada-Nya dan berikhtiar dalam kehidupan di dunia ini. Dalam Al-Qur`an Surat Asy-Syarh (al-Insyiroh) dinyatakan (yang artinya): “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.

Ahmad Mushthafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menyimpulkan makna kedua ayat dalam surat Asy-Syarh bahwa sesungguhnya tidak ada kesulitan yang tidak teratasi. Jika jiwa kita bersemangat untuk keluar dari kesulitan dan mencari jalan pemecahan menggunakan akal pikiran yang jitu dengan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah, niscaya kita akan keluar dan selamat dari kesulitan ini. Sekalipun berbagai godaan, hambatan, dan rintangan datang silih berganti, tetapi pada akhirnya kita akan berhasil meraih kemenangan.

Setiap kesulitan pasti ada jalan kemudahan dengan kita tetap optimis berprasangka baik kepada Allah SWT. Perlu optimisme dan pengobaran api semangat dan tidak berputus asa untuk meraih kemudahan dan kemenangan dari Allah SWT (baca QS. Yusuf 87).

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA