28.8 C
Yogyakarta
20 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Perjuangan Menghadapi Covid-19

Oleh: Drs. H. Muhibbah Nasrudin, M. Sc.

Sebagai mantan aktivis th 70-an akamulasi antara aqidah agama, rasionalitas berpikir dan kecendrungan untuk “tidak bisa diam” alias terus bergerak masih terasa mendominasi alam bawah sadar. Tanggal 14-15 Maret sudah lama diagendakan ada pertemuan “Trah besar” keluarga istri dari garis ibunya dilaksanakan di sebuah daerah wisata di daerah Semarang Jateng. Singkatnya krn kami sekeluarga (6 orang) dari Lombok sudah menyatakan kesanggupan untuk hadir maka bismillah tanggal 10 Maret kami bertolak ke Jogja.

Nah, dasar tadi mantan aktivis lagi di salah satu WA Group tingkat SLTA (PHIN) yang sudah 40 tahunan tidak bersua, terjadi juga komunikasi dengan kawan-kawan lama untuk bertemu di Tegal disepakati tanggal 16-17 Maret 2020. Ternyata satu sisi dengan medsos ini sekarang sangat mudah kita berkoordinasi untuk menyampaikan ide, menyepakati dan mengambil keputusan bersama.

Waktu itu info Covid-19 mendominasi ruang-ruang pemberitaan publik baik di TV main stream, surat kabar maupun medsos. Sebanding dengan frekwuensi pemberitaan itu sebenarnya secara senyap tingkat kekhatiran, tingkat ketakutan dan rasa keterancaman oleh wabah Covid-19 juga rata-rata meningkat. Bahkan sampai pada tingkat melampaui kadar keimanan kepada Allah SWT.

Saya mengawali tulisan ini dengan kisah nyata yang saya alami sendiri. Malam besoknya akan kembali ke Jogja dari daerah Semarang anak-anak saya (4 orang) beserta isteri masing-masing mengajak rapat kecil untuk membicarakan beberapa hal internal keluarga. Rupanya ada agenda tambahan yaitu mereka terutama anak ragil saya usul agar rencana 16 Maret pagi saya dengan isteri ke Tegal agar digagalkan saja, mereka sangat mengkhawatirkan kami kena Covid-19 jika harus bepergian jauh lagi dalam kondisi sudah capai dan dengan kendaraan umum lagi. 

Inilah perjungan pertama saya menghadapi Covid-19, tatkala saya menjawab usul mereka dengan mengatakan: Terima kasih kepada kamu semua atas perhatian dan rasa cintamu pada ayah dan ibu yang sangat mendalam sehingga begitu mengkhawatirkan jika kami terkena wabah corona jika ayah ibu jadi berangkat ke Tegal lusa.  Sekali lagi terima kasih. Dan sekaligus ayah ibu minta maaf kayaknya untuk membatalkan bagi ayah sangat berat, berat karena kebetulan ayahmu ini  termasuk yang mengkoordinir kawan-kawan lewat WAG untuk bertemu. Ayah juga sudah mengajak beberapa (7 orang) untuk berangkat bersama-sama dari Stasiun Lempuyangan Jogja dengan KA Joglosemarkerto menuju Tegal.

Bagi ayahmu nilai-nilai konsistensi berupa teguh memegang janji, solidaritas berkawan dan istiqomah adalah pondasi tawakkal kepada Allah. Mohon doakan saja semoga semua baik-baik saja dan silaturrahmi dengan teman-teman lancar dan sukses. 

Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan baik atas ijin Allah SWT. Tanggall 19 Maret saya kembali ke Mataram., dan Tanggal 21 Maret 2020 masih sempat menyelenggarakan PHBI Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dihadiri sekitar 300 jamaah di Masjid. Itulah muqaddimah perjuangan malawan Covid 19. Intinya kita wajar takut kepada Covid-19 karena dia penyakit menular tetapi takut kita kepada Allah itu harus lebih besarlah adanya. aamiin

Memikirkan yang tidak dipikirkan oleh Kebanyakan Orang

Begitu marak issu Covid-19 di Wuhan, Provinsi Hubei RRC pada bulan Nopember-Desember 2019 insting kita rata-rata  memprediksi bahwa cepat atau lambat Indonesia juga akan ikut terimbas bahkan terinfeksi virus mematikan ini. Hal ini wajar mengingat arus kedatangan warga RRC ke Indonesia pada era Pemerintahan Jokowi ini sangat deras baik sebagai wisatawan maupun sebagai TKA yang bekerja di berbagai proyek Turnkey dengan investor dari China.

Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai salah satu daerah destinasi wisata nusantara pada gilirannya pasti akan kemasukan wabah mematikan ini. Hal ini disebabkan arus orang asing maupun turis domestik begitu ramai yang berkunjung ke NTB terutama di Pulau Lombok. Juga tidak kalah berpotensi untuk penyebaran wabah ini adalah  karena ramai-ramainya Pekerja Imigran Indonesia (PMI) NTB yang kembali ke daerah dari negara- terdampak seperti Malaysia, Korea Selatan, Saudi Arabia dll,  sementara SOP penanganan Covid-19 pada awalnya terkesan dimana-mana tidak siap.

Data NTB Covid 19 terakhir pada saat tulisan ini dibuat adalah 37 kasus, 2 orang meninggal, 4 orang sembuh dan 31 orang dalam perawatan. Dibanding DKI memang angka orang terinfeksi di NTB jauh sekali tidak sebanding tapi mengingat wabah ini diperkirakan akan terus menjangkit sampai dg bulan Mei 2020 yang akan datang maka angka yang kecil tidak boleh melengahkan ikhtiar semua daerah dari Tingkat Provinsi sampai dengan Tingkat RT dibawah untuk melawan dan memutus mata rantai penyebaran Covid 19.

Perjuangan Menghadapi Covid 19.

NTB yangg terdiri dari 2 pulau besar pulau Lombok dan pulau Sumbawa serta ratusan pulau kecil dengan jumlah penduduk sekitar 5 juta jiwa dengan konsentrasi persebaran di pulau Lombok lebih dari 60% dan 30% lebih di pulau Sumbawa. Mayoritas  penduduknya beragama Islam maka dalam menghadapi Covid 19 Pemerintah melakukan pendekatan Formal maupun Informal.

Pendekatan Formal antara lain telah dibentuk Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 di Tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Kelurahan/Desa. Tugasnya antara lain adalah menyampaikan pemahaman kepada masyarakat tentang seluk beluk Covid-19 baik bahaya, gejala, dan modus penyebaran, tindakan dan sebagainya. Peran Ormas Keagamaan juga sangat penting dilibatkan. Majelis Ulama (MUI) Pusat awal Maret sudah mengeluarkan Fatwa tentang tata cara ibadah terkait Covid-19. Kemudian belakangan disusul dengan Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah yang meninggal karena Covid-19.  Rupanya dalam hal ini MUI Pusat dengan MUI Daerah kurang koordinasi sehingga MUI NTB misalnya baru mengeluarkan fatwa pada pekan kedua bulan April, akibatnya para Ta’mir Masjid menyikapi dengan beragam sikap. Ada yg sejak pertengahan Maret sudah melockdown kegiatan peribadatan baik sholat berjama’ah lima waktu maupun sholat jum’at ini terutama masjid di perkotaan yang bercirikan sedikit rasionalis.

Sementara sebagian besar di pedesaan baru awal April keputusan Lockdown agak merata dilakukan oleh warga. Kesimpangsiuran ini sekali lagi karena kurangnya koordinasi Pusat dan Daerah dan juga Koordinasi antara Pemda dengan MUI. Yang terakhir ini nampak sekali dari kasus Fatwa MUI NTB yang keluar dua kali dimana konten Fatwa yang kedua berisi klarifikasi terhadap isi Fatwa yang Pertama yang kontennya lebih tegas dan sejalan dengan Himbauan Gubernur NTB agar semua kegiatan sosial baik adat, olah raga, kesenian dan maupun keagamaan yang melibatkan banyak orang dilarang. 

Sebagai bagian dari masyarakat yang kebetulan memegang amanah mengurus Yayasan Al-Falah dan Keagaamaan yang berpusat di Masjid Al-Falah, mencoba di lingkup yang kecil menggerakkan bagian yang tidak banyak disentuh oleh Satgas Covid 19 yang Formal yakni melalui Satgas Covid 19 Al-Falah mengajak Jama’ah Masjid yang berkemapuan  untuk peduli kepada jama’ah/warga di lingkungan masjid yang secara ekonomi terdampak oleh wabah Covid-19 di tengah gencarnya himbauan agar semua orang stay at home untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Alhamdulillah gerakan ini bersambut dengan baik sehingga di lingkungan masjid kami terdata kurang lebih 120 warga yang perlu perhatian khusus karena selama ini mereka adalah pekerja informal yang berpenghasilan harian yang habis dimakan untuk hari itu juga. Mereka terdiri dari pak Ojol, tukang batu, pedagang kecil dan sebagainya. Kepada mereka kami sudah membuat perecanaan untuk membantu mereka berupa sembako seniai Rp 100.000,- per dua pekan sekali sampai dengan akhir Mei nanti dan dana taktis untuk jaga-jaga sekiranya ada (mudahan tidak ada) warga yang positif Covid-19 yang biasanya akan muncul banyak sekali masalah bukan saja terhadap warga yangg kena tapi juga untuk semua anggota keluarganya yang pasti akan dikenakan tindakan isolasi total. Disinilah kita memandang sebuah masjid sangat berpotensi untuk dikelola agar dapat berperan lebih kepada jama’ah atau warga sekitar sebagai garda terdepan untuk memperkuat aqidah dan juga sosial ekonomi masyarakat.

Penulis adalah Ketua Yayasan Al-Quds Mataram, NTB

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA